Materi Unsur Fisik Puisi dan Unsur Batin Puisi

Izinkan Saya menjelaskan dua konsep penting dalam puisi, yaitu: unsur fisik puisi dan unsur batin puisi. Dua hal ini sebagai dasar setiap kepenulisan puisi.

Baca juga: Materi Lengkap Pengertian Puisi, Jenis dan Contohnya

A. Unsur Fisik Puisi

1. Tipografi

Salah satu unsur fisik puisi yang paling dasar, yaitu: tipografi. Tipografi berasal dari kata bahasa Yunani typos (mould, impression, and shape) dan graphein (writing, carving). Sehingga, tipografi dapat diartikan sebagai bentuk atau perwajahan puisi yang sengaja ditonjolkan guna memberikan efek keindahan pada puisi tersebut. Tipografi juga berfungsi sebagai cara untuk lebih memudahkan pembaca dalam memahami puisi. Tipografi ditonjolkan pada puisi kontemporer. Bentuk puisi ada bermacam-macam, yang biasa kita lihat adalah bentuk zig-zag, penggambaran suatu bentuk, rata kanan kiri, dan sebagainya.

Beberapa bentuk tipografi:

Bangun

Oleh: Wilis Purbo Ningrum

____________b_________

____-a________________

______________-n______

_________-g___________

_________________-u___

______-n____________!!!!

 

Pati, 15 April 2020

 

Merindumu

Oleh: Wilis Purbo Ningrum

 

Rindu                     Rindu

 

Rin                         Du

 

Rin                     Rin

 

Du                 Du

 

Rin                      Rin

 

Du           Rin

 

Du                   Du

 

Rin                                  Rin

 

Du                               Du

 

Pati, 15 April 2020

 

2. Diksi

Diksi adalah pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan sesuatu. Diksi paling sering ditemui dalam puisi yang berfungsi untuk memperindah dan memperdalam makna puisi. Diksi juga biasa dipakai dalam cerpen atau novel, tetapi penggunaannya lebih sederhana dibandingkan dengan puisi. Berikut adalah kumpulan diksi yang biasa digunakan dalam puisi:

1. Agah: tatap.

2. Afsun: pesona.

3. Aishwarya: kaya, sejahtera.

4. Ajun: maksud.

5. Akara: baying.

6. Aksa: jauh/mata.

7. Aksama: ampunan.

8. Ambu: aroma.

9. Anala: api.

10. Anantara: di antara.

11. Ancala: gunung.

12. Andam karam: lenyap.

13. Anggara: buas, liar.

14. Anila: angin.

Dll.

3. Majas

Layaknya diksi, majas ini berfungsi untuk memperindah dan mempermanis puisi yang kita tulis. Unsur fisik puisi pada majas adalah jembatan puisi untuk mendapatkan nilai yang terindah. Ada banyak majas yang bisa digunakan dalam menulis puisi, seperti:

Baca Juga: Cara Mengatasi Kendala Menulis Puisi untuk Pemula, Wajib Kamu Tahu!

a) Perbandingan

1) Asosiasi, membandingkan benda dengan benda lain. Biasanya menggunakan kata-kata seperti, bagaikan, laksana, dan bak.

Contoh: Tangannya lembut bagaikan sutra.

2. Metafora, membandingkan dua benda yang berbeda dengan sifat hampir sama yang berisi ungkapan.

Contoh: Anak itu mempunyai kebiasaan panjang tangan (suka mencuri).

3. Personifikasi, membandingkan atau mengibaratkan benda mati seperti manusia.

Contoh: Raut wajahmu terlihat pilu, yang membuat bintang dan bulan kini menatapmu sendu.

4. Alegori, membandingkan dua hal yang berbeda yang saling berkaitan.

Contoh: Air matamu menjadi saksi api amarahmu sendiri.

5. Simbolik, membandingkan sesuatu dengan menggunakan menggunakan simbol.

Contoh: Semenjak suaminya meninggal dunia, Bu Ani menjadi tulang punggung keluarga. (Tulang punggung: yang bertanggung jawab terhadap keluarga).

a) Pertentangan

1) Hiperbola, majas yang melebih-lebihkan.

Contoh: Pemuda itu berlumuran darah lantaran kecelakaan kemarin malam.

2) Litotes, majas yang digunakan untuk merendahkan diri.

Contoh: Silakan singgah di gubuk kecilku ini.

3) Ironi, majas yang berupa sindiran halus.

Contoh: Kamar kamu sangatlah rapi sampai aku tidak tahu harus melangkahkan kakiku ke mana dulu.

c) Pertautan

1) Metonomia, majas yang menggunakan benda yang dimaksud dengan sebuah nama (merk dagang).

Contoh: Ayah mengendarai kijang ke kantornya.

2) Eufimisme, majas yang menggantikan kata yang lebih halus sehingga lebih sopan.

Contoh: Sejak ditinggal kekasihnya, anak itu menjadi kurang ingatan. (Red: Agak gila)

d) Sinekdok

1) Sinekdok Pars Prototo, penyebutannya sebagian, tetapi mewakili keseluruhan.

Contoh: Sejak pagi anak itu tidak kelihatan batang hidungnya. (dirinya)

2) Sinekdok Totem Proparte, penyebutannya keseluruhan, tetapi yang dimaksud hanya sebagian saja.

Contoh: SMP Nusa Bangsa kembali membawa pulang piala kejuaraan tilawatil quran.

3) Repetisi, majas yang menggunakan perulangan sebagai ciri khasnya.

Contoh: Aku bingung kenapa kamu terus saja menangis, menangis, dan menangis.

4. Konkret

Kata konkret adalah pilihan kata yang mewakili sebuah makna wujud, makna fisik, dan makna yang sesuai dengan konteks puisinya.  (Versi Pustamun).

Ada salah satu kata di puisi A yang juga digunakan di puisi B. Namun, makna yang ditunjukkan kata pada puisi A tidak sama dengan makna yang ditunjukkan pada puisi B. Hal ini dikarenakan konteks di kedua puisi tersebut berbeda.

Misalnya kata konkret pada puisi Sapardi Djoko Damono "Hujan Bulan Juni".

Bait 1

tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

Penggunaan kata konkret hujan bermakna manusia-manusia yang terjatuh. Konkretisasi dari kata hujan mewakili manusia yang tabah. Jatuhnya pada bulan Juni ini yang menunjukkan manusia tabah, karena secara ilmu pengetahuan bulan Juni bukanlah musim penghujan. Dikatakan kata konkret karena makna kata hujan pada puisi "Hujan Bulan Juni" tidaklah sama dengan makna kata hujan yang digunakan di puisi lain.

 

Terdayuh daku teringat kenangan olehmu

Suamu dahulu kian menikam laku

Hingga sekarang hujan terus menderai saban waktu

Kian membubuhkan kelam yang semakin pekat di hidupku

(dikutip dari puisi “Tersandung Cintamu” karya Wilis Purbo Ningrum)

Konkretisasi kata hujan pada puisi tersebut bermakna menangis. Ada banyak kata hujan yang dipakai dalam puisi orang lain dengan makna yang berbeda pula.

5. Imaji

Imaji bisa disebut sebagai citraan. Untuk menulis puisi, acap kali kita membayangkan terlebih dahulu apa yang mau kita tulis agar memudahkan dalam menuangkan ide ke bentuk puisi. Imaji sendiri ada beberapa macam, yaitu:

1) Imaji Penglihatan (Imaji Visual).

Contoh: Anggun nan rupawan dirimu yang berbalut gaun pengantin itu.

2) Imaji Pendengaran (Imaji Auditif).

Contoh: Halus suaramu menggetarkan sukmaku.

3) Imaji Pengecapan

Contoh: Melebur pahitnya kopi dengan sejumput gula merah darimu.

4) Imaji Penciuman

Contoh: Sedap bau makananmu mengurai laparku.

5) Imaji Gerak

Contoh: Mengayunkan tangan membelai anila yang menyapa.

5. Verifikasi

Verifikasi mengandung tiga hal, yaitu rima, ritme, dan metrum. Untuk rima dan ritme sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, bukan? Iya, rima adalah persamaan bunyi di setiap baris pada bait puisi, baik itu di awal, di tengah, maupun di akhir. Sementara itu, ritme sendiri adalah panjang pendek, tinggi rendah, keras lemahnya bunyi suatu puisi saat dibaca.

Menurut KBBI, metrum adalah ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku kata dalam setiap baris. Metrum juga dikenal ssbagai pola bahasa yang dipakai di setiap baris yang menyebabkan keterkaitan dan keteraturan puisi.

Materi Unsur Fisik Puisi dan Unsur Batin Puisi

Itulah beberapa peryataan tentang unsur fisik puisi yang harus dicoba dan diterapkan dalam setiap kepenulisan puisi. Selanjutnya, kita akan membahas tentang unsur batin dalam puisi.

Baca juga: Menulis dan Mendalami Karakter Puisi

B. Unsur Batin Puisi

1. Tema (Sense)

Salah satu unsur batin puisi yang utama adalah tema. Tema adalah gagasan utama yang menjadi dasar suatu karya dicipta. Entah itu puisi, esai, cerpen, artikel, novel. Apa pun itu pasti ditulis dengan menentukan tema terlebih dahulu. Adapun fungsi tema, yaitu untuk mengatur atau memagari kita agar tidak keluar jalur pembahasan. Jadi, misal mau nulis puisi tema hujan, maka kita akan sangat dibantu agar menulis dalam naungan tema tersebut. Bisa dikatakan bahwa tema ini sebagai sebuah pagar yang membantu kita agar tidak keluar jalur.

2. Perasaan (Feeling)

Puisi itu ditulis atas dasar pengungkapan perasaan atau ekspresi dari seorang penyair itu sendiri. Apa pun itu, baik perasaan senang, sedih, kecewa, galau, dan lainnya. Oleh karena itu, puisi yang ditulis mampu mengalirkan emosi seperti apa yang disalurkan si Empunya puisi. Nah, perasaan penyair ini nanti juga yang akan memengaruhi bagaimana bahasa yang digunakan pada puisi tersebut. Misalnya perasaan sang penyair sedang kecewa, maka bahasa yang akan digunakan dari awal hingga akhir akan bermakna kekecewaan.

3. Nada (Tone)

Mengenai nada dalam unsur batim puisi ini dimaksudkan aliran nada apa yang mampu mengubah suasana pembaca setelah membaca puisi tersebut. Mengenai bagaimana pembacaan atau nada yang disampaikan kepada pembaca terkait tentang apa pun puisi itu (kekecewaan, bahagia, politik, cerita, ejekan, pertikaian atau sindiran). Jika puisi itu berbicara perihal mencintai, maka kita bisa merasakan gairah kesenangan. Jika suatu puisi membahas perihal pertikaian, maka suasana yang akan kita rasakan adalah suasana amarah.

4. Amanat (intention)

Seperti halnya karya sastra lain, puisi ditulis juga ada maksud tertentu yang dibagikan oleh penyairnya. Memang benar bahwasanya amanat yang terkandung dalam puisi lebih implisit (tersembunyi). Bagaimana cara kita tahu dan mengetahui amanat yang ingin disampaikan penyair? Bisa dengan melakukan analisis di setiap rangkaian diksinya.

C. Kesimpulan

 

Dalam karya puisi, kosep dasar seperti unsur fisik puisi dan unsur batin puisi tetap digunakan meskipun memasuki era kebebasan. Unsur tersebut yang akan menjadi jalan seorang penyair menemukan karakter puisinya.

Mentor: Wilis Purbo Ningrum

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 7, 2020, 6:31 PM - Lusi
Agt 6, 2020, 3:34 PM - Kenny Jessica
Agt 1, 2020, 10:50 AM - Pohon Jalang
Jul 20, 2020, 6:00 PM - Pohon Jalang
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Jun 10, 2020, 4:58 PM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin