Tipografi: Pengertian, Jenis, Fungsi, Macam dan Analisis Tipografi

Materi mengenai jenis-jenis tipografi ini difokuskan pada konteks puisi, tipografi pada puisi, yang disebut juga sebagai ukiran bentuk, ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Tipografi diartikan sebagai perlambangan rasa, makna, dan nuansa tertentu dalam puisi yang divisualisasikan dalam tata bentuk baris dan bait puisi untuk memperjelas satuan makna tertentu yang ingin diungkapkan penyair.

Secara tipografis, bentuk susunan puisi tidak terikat oleh model apa pun. Penyair bebas memilih bentuk visual bait. Di dalam kenyataannya, terdapat beragam tipografi puisi. Bait-bait yang disusun penyair merupakan ikatan dari baris dan kata yang ditata dengan rima tertentu. Penataan ini dengan sendirinya akan membentuk unsur tipografi tertentu. 

A.      Pengertian Tipografi

Tipografi merupakan seni memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan khusus, sehingga akan menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Baca Juga: Diksi: Pengertian, Jenis, Fungsi, dan Pemilihan Diksi

B.       Fungsi Tipografi

Fungsi utama dari tipografi adalah membuat teks berguna dan mudah digunakan. Tipografi berbicara tentang kemudahan dalam membaca teks (readibility) dan kemudahan dalam mengenali setiap huruf dan kata (legibility). Tipografi menghidupkan teks dalam sebuah tulisan, membuat lebih menarik sehingga pembaca penasaran dan ingin membaca keseluruhan teks.

 

C.      Jenis-Jenis Tipografi

1)      Tipografi konvensional

Contoh:

HATIKU ANGIN

Karya: Evi Idawati

 

hatiku angin

mengembara

mengalir

terhirup nafasmu

hatiku angin

menyebar

kosong tak terlihat

mencemari nadi

meracun darah

hingga kaku

bagai patung diriku

2)      Tipografi Seperti Prosa

Contoh:

SAUDARA KEMBARKU

Karya: Subagio Sastowardoyo

 

Kalau ada daham-daham terdengar di malam hari, aku tahu itu saudara kembarku. Ia menanti aku di pekarangan, karena aku melarang ia masuk.

Pernah ia begitu rindu kepadaku dan tiba-tiba hadir di tengah keluargaku dengan tamu-tamu yang sedang berpesta merayakan hari lahirku. Mereka semua ketakutan melihat ia duduk di dalam, karena muka saudara kembarku sangat buruk. Aku malu dan minta ia menunggu di luar kalau mau bertemu dengan aku.

….           

3)      Tipografi Zig-Zag

Tipografi Zig Zag

D.      Tipografi pada Baris Puisi

1.    Menggunakan Huruf Kecil Semua Tanpa Tanda Baca

Contoh:

paman-paman tani utun

ingatlah

musim labuh sawah tiba

duilah

 

musim labuh kurang tidur ya paman

kerja berjemur dalam lumpur tak makan

sawah-sawah menggempur hancur 

merpatinya wokwok ketekur

 

(Paman-Paman Tani Utun, Piek Ardijanto Suprijadi, Angkatan 66)

Penggunaan tipografi huruf kecil semua pada puisi di atas dapat memiliki arti tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Aan Mansyur dalam sebuah forum kepenulisan SeTema. Aan Mansyur memiliki alasan dalam penggunaan huruf kecil dalam puisinya, yaitu enjambemen. Sebuah siasat untuk pemenggalan baris dalam puisi agar dapat memberi efek kesan atau makna lain dari kata, Klaus, baris, dan lainnya. Penggunaan huruf kecil dalam sajak-sajak Aan Mansyur dalam urusan enjambemen, yaitu untuk memberi ilusi kata-kata dan baris setelahnya, atau dari kalimat satu ke kalimat lain. Bisa juga untuk menggambarkan sesuatu, misalnya kesetaraan, dan lain-lain.

2.    Menggunakan Huruf Besar pada Awal Kalimat Tanpa Tanda Baca

Contoh:

Di depan gerbangmu tua pada hari ini

Kami menyilangkan tangan ke dada kiri

Tegak dan tengadah menetap bangunanmu

Genteng hitam dinding kusam berlumut waktu

 

(Almamater, Taufiq Ismail, Angktan 66)

Penggunaan tipografi huruf besar pada awal kalimat tanpa tanda baca ini biasa digunakan dalam puisi pada umumnya.

Baca Juga: Majas: Pengertian, Fungsi, Macam dan Analisis Contoh

3.    Menggunakan Huruf Besar-Kecil dan Tanda Baca Lengkap

Contoh:

Kukitari rumah-Mu.

Kukitari rumah-Mu bersama jutaan umat

Ketika Kauturunkan rahmat

meresap ke dalam hati, memercik di sudut mata:

Tuhanku, Tuhanku, ampuni segala dosa kami

Ulurkan tangan-Mu, bimbing kami

ke jalan lurus yang Kauridoi.

Di bumi ini

dan di akhirat nanti.

 

(Sementara Thawaf, Ajip Rosidi)

Penggunaan huruf besar-kecil dan tanda baca lengkap juga sering kali ditemukan dalam sebuah puisi. Penggunaan huruf besar biasanya merujuk pada penyebutan Tuhan, nama orang, nama tempat, dan lain-lain. Tanda baca digunakan untuk menyambung kalimat (,), memperjelas (;), menutup kalimat (.), dan lain-lain.

E.       Tipografi pada Bait Puisi

1.    Sebagian Baitnya Menjorok Ke dalam

Contoh:

Laksana bintang berkilat cahaya,

Di atas langit hitam kelam,

Sinar berkilau cahya matamu,

Menembus aku kejiwa dalam.

 

     Ah, tersadar aku,

    Dahulu ....................................

    Telah terpasang lentera harapan

    Tertiup angin gelap keliling.

 

Laksana bintang di langit atas,

Bintangku Kejora

Segera lenyap peredar pula,

Bersama zaman terus berputar

(Sebagai Dahulu, Aoh Kartahadimaja, Gema tanah Air)

F.       Analisis Tipografi

KEHILANGAN

udara september penuh

            berisi bensi dan kita

            hanya punya korek api.

banyak kawan mati tertembak

            mereka terlalu indah untuk dunia

            yang bangsat. sekarang kita tidak

            memiliki pilihan banyak: temukan

            tempat yang hangat buat menangis

            dan meledak dan merawat segala

            yang tersisa

kita kehilangan dunia

            setiap kali kehilangan satu orang

            yang kita cinta. apabila kita

kehilangan

satu orang lagi kita kehilangan dunia

yang sudah hilang.[1]

Tipografi pada puisi "Kehilangan" ini terlihat jelas sekali. Penggunaan hutuf kecil, tepi kanan-kiri, pengaturan baris dan bait, tanda baca, juga penggunaan lambang "dan". Hal itu bertujuan untuk membentuk bangun ruang pada fisik puisi, menentukan pemaknaan, serta memberikan nilai estetik tersendiri bagi visual puisi.

Puisi ini menggunakan huruf-huruf kecil. Seperti yang sudah saya jelaskan, bahwa Aan Mansyur melakukan itu dengan alasan untuk memberi ilusi kata dan bait setelahnya atau dari kalimat ke kalimat lain. Bisa juga untuk menggambarkan sesuatu.

Penggunaan lambang "dan" alih-alih ditulis "Dan" juga memiliki siasat tersendiri dalam puisi tersebut, yang membuat pembaca bertanya-tanya apa maksudnya.

Penulisan setiap baris pertama yang rata kiri lalu pada baris-baris berikutnya menjorok ke dalam seperti memberikan kesan bahwa baris pertama itu adalah penegasan dan baris yang menjorok ke dalam itu adalah penjelasan.

Pengggunaan tanda baca titik (.) dalam puisi itu berfungsi untuk menutup kalimat. Tanda baca koma (,) berfungsi untuk menyambung kalimat, dan tanda baca (:) berfungsi untuk memperjelas.

G.      Kesimpulan

Materi mengenai jenis-jenis tipografi ini difokuskan pada konteks puisi, tipografi pada puisi, yang disebut juga sebagai ukiran bentuk, ialah susunan baris-baris atau bait-bait suatu puisi. Termasuk ke dalam tipografi ialah penggunaan huruf-huruf untuk menuliskan kata-kata suatu puisi. Tipografi diartikan sebagai perlambangan rasa, makna, dan nuansa tertentu dalam puisi yang divisualisasikan dalam tata bentuk baris dan bait puisi untuk memperjelas satuan makna tertentu yang ingin diungkapkan penyair.

*Penulis: Atha, Aras, Resty dan Fatma Abdullah


[1] Puisi Puisi M-Aan Mansyur: Cara Lain Membaca Sajak Puisi, https://www.bacapetra.co/puisi-puisi-m-aan-mansyur-cara-lain-membaca-sajak-cinta/ (diakses pada tanggal 05 Juni 2020 jam 14.00)

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer