3 Sebab Penyesalan Santri Usai Meninggalkan Pesantren

 

Tidak banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya dalam naungan pesantren, tidak sedikit pula dari orang tua yang ingin anaknya memiliki akal yang bajik, entah itu perihal wawasan atau pemahaman religi.

Pesantren menjadi salah satu pilihan ayah bunda mendidik anak agar mendapat pola ajaran yang islami.

Dengan bimbingan kyai dan para pengasuh, didukung dengan berbagai aturan yang berlaku menjadikan seorang anak lebih cakap dalam bertata krama dan berakhlaqul karimah.

Namun, dijumpai banyak penyesalan ketika sudah terlanjur meninggalkan pesantren, hal tersebut kebanyakan disebabkan oleh suatu prilaku kesalahan yang disepelekan oleh santri saat masih berada dalam pesantren.

Baca Juga: Ramadhan di Tengah Pandemi, Amalan Apa Saja yang Bisa Kita Kerjakan?

Diantara tiga prilaku yang sering dikeluh kesahi saat sudah meninggalkan pesantren yaitu:

1.      Sering Melanggar Aturan

Sebagian besar santri berungkap bahwa peraturan memang sangat mengekang, namun tujuan peraturan disusun adalah untuk merubah pola pikir dan cara bersikap agar mempunyai kepribadian yang baik.

Tapi, mayoritas banyak yang suka berontak karena sebuah aturan yang berlaku. Karena sanksi yang menurutnya ringan sering diremehkan lagipula dampaknya tidak begitu berat.

Seringnya menyepelekan hal ini, maka jiwa candu akan mendarah daging dalam kebiasaan santri yang suka melanggar aturan.

Baca Juga: Peran Teknologi dalam Strategi Dakwah Islam

Suatu pelanggaran jelas akan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, dan apabila seringnya melanggar tidak diketahui pengurus keamanan maka santri yang melanggar tersebut merasa berhasil dengan caranya dan akan dicoba berulang-ulang.

Seringkalinya mereka lupa suatu bangkai meskipun ditutup bajapun baunya akan tercium. Dan keadaan seperti ini yang biasa menimbulkan penyesalan diakhir oleh beberapa santri yang merasa sudah senior dan terbiasa melakukan kesalahan.

2.      Suka Keluar Tanpa Izin

Tidak asing jika sebuah pesantren disebut sebagai penjara suci, dinamakan penjara suci karena sebuah pesantren membatasi keluar masuknya santri ketika belajar.

Bahkan ada sebuah pesantren yang mengizinkan santrinya hanya keluar masuk kamar. Karena itu, banyak santri yang merasa bosan karena lingkungan yang tertutup.

Baca Juga: Penafsiran dan Metode Pa`Opa` Iling dalam Pendidikan Pesantren Masa Kini

Makanya sering kita jumpai seorang santri akan keluar pesantren secara sembunyi-sembunyi yang biasa disebut “mbobol atau nyelimput”.

Banyak santri yang meremehkan batas aturan keluar karena menurutnya sekali dua kali caranya akan berhasil namun suatu saat pasti ketahuan dan membuatnya menyesal sendiri.

Kebiasaan ini juga akan mengakibatkan suatu penyesalan karena seorang santri yang melakukan ini tidak dapat memanfaatkan waktu dipesantren dan kurang menikmati kebersamaan dengan sekawan perjuangannya.

Sehingga ia tergoda dengan nafsu yang terus menerus menyuruhnya keluar pondok untuk mencari hiburan.

Baca Juga: Peran Pesantren Sebagai Tombak NKRI

3.      Terlalu Cepat Lulus

Ketika sudah biasa dengan aturan, sudah terlena dengan kebahagiaan yang dilakukan atau dilanggar, sudah kecanduan bareng sama teman-teman, menjadikan seorang santri lupa bahwa akan adanya suatu perpisahan dengan masa-masa tersebut.

Meninggalkan pesantren atau istilahnya “boyong” seringkali menjadi suatu kesedihan bagi santri karena harus meninggalkan pesantren beserta kenyamanannya.

Secara tidak sadar seorang santri akan dihantui sebuah kerinduan saat berada dipesantren dan akan ada pula penyesalan karena sikapnya yang dirasa kurang baik.

Baca Juga: Menjinakkan Paham Radikalisme dan Terorisme Dengan Kultur Pesantren

Seperti, sering melanggar, suka menyepelekan aturan, bahkan tidak menaati pengasuh. Hal-hal kecil seperti ini akan senantiasa terbayang sebuah penyesalan mengapa waktu sangat cepat sekali padahal tanpa sadar dia sendiri yang suka membuang waktunya.

Untuk itu, pemikiran orang tua yang menyuruh anaknya menetap dalam sebuah pesantren merupakan hal yang langka di zaman milenial ini.

Karenanya, jika kita termasuk salah satu yang berkesempatan menimba ilmu dalam penjara suci, nikmatilah sebelum penyesalan muncul ketika kita tidak dapat menggunakan peluang dengan sebaik-baiknya.

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Halo sahabat pena ! , nama saya LAIL panjangnya lailil farokhah ... asli berkelahiran dikota soto lamongan 19 mei 2002, status sebagai pelajar dirumah saja, baru dikejutkan pemerintah bahwa lulus sekolah MAN dengan mudah dan surprise seindonesia jalur korona. Dan alhamdulillah sekarang sudah menjadi mahasiswa UIN sunan ampel surabaya prodi pendidikan bahasa arab. saya suka menulis, lebih suka lagi tulisan saya disaingi oleh penulis penulis hebat dalam dunia jurnalistik ini. saya gemar berkarya, lebih giat lagi jika karya ini tak terhenti di file PC ku saja. Mohon kebijakan nya membantu impian saya agar tulisan saya dikenal sejarah. karena jika kalian bukan anak raja, maka menulislah Terimakasih Salam karya !

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton