Tidak Ada Hidup Susah Jika Ibadahmu Tidak Bermasalah

Manusia hanyalah makhluk normal yang diciptakan tuhan untuk mengembara bumi. Seperti layaknya makhluk tuhan lain yang tentunya tidak mampu berdiri sendiri tanpa kuasa-Nya.

Tidak sepantasnya seorang hamba lalai atas kewajiban yang ditanggungjawabkan selama ia hidup, justru mereka haruslah lebih bisa terfikir bahwa hidupnya tak akan jalan tanpa pantauan tuhan yang mengatur segala alam.

Sayangnya, manusia kadang susah diatur, diberi bahagia ia pun sempat lupa siapa yang membuatnya bahagia, dikasih susah ia seringnya mengingkari bahwa tuhan selalu ada bersamanya.

Namun semuanya tidak ada yang sulit dimata tuhan, tentunya sang pencipta lebih tau yang terbaik untuk hambanya, dan begitupula Dialah pembentuk segala sesuatunya menjadi mungkin meski sebelumnya akan sangat terlihat mustahil.

Baca Juga: Kisah Kewalian KH. Hamid Pasuruan, Ulama Terkenal yang Makamnya Tidak Pernah Sepi

Diberikan nikmat dan karunia yang sangat banyak menjadi suatu yang wajar jika kita harus berterimakasih, meski tuhanmu sebenarnya tidak butuh itu.

Namun logikanya coba renungkan kembali, penciptamu memberikan banyak hal yang kau butuhkan bahkan semuanya Ia penuhi untuk kebutuhan hidupmu, sekarang lihatlah dirimu, apa yang kau timbalbalikkan untuk menjadi hamba yang pantas dan tau terimakasih ? apa kau yakin sudah seimbang dengan semua pemberian tuhan kepadamu ? atau bahkan mungkin sudahkah engkau memanfaatkan apa yang diberikan sebagaimana mestinya ?. 

Sesungguhnya tuhanmu tidak pernah memperhitungkan sebanyak apa dirimu berbuat baik kepadanya, namun penciptamu kian mengasihimu tanpa berpikir panjang. Lantas apakah ini yang dinamakan seimbang antara hubungan tuhan dengan makhluk yang diciptakan ?.

Terkadang beberapa manusia sudah memenuhi persyaratan hidup yag jelas, bahkan ibadahnya runtut tidak meninggalkan bilangan yang belum utuh. Hingga terbesit dalam sanubarinya “apakah tuhan ini benar adanya sayang terhadap makhluk atau tidak?, apakah ibadahku tidak diterima sampai hidupku kian dihujani masalah ?”. kesalahan yang sering dilakukan hamba dalam niat memperbaiki ibadah namun disalahgunakan dalam impelementasinya, diantaranya :

Baca juga: Budaya Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah di Lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso

1.       Sholat, Tapi Diakhir Waktu Bahkan Sempat Menunda

Iya tahu sholat adalah kewajiban, namun apakah meyakinkan bahwa sholatmu diterima sebagai amalan atau hanya menggugurkan kewajiban ?. terkadang prinsip manusia yang penting dilakukan tapi kurang berkaca apa yang dilaksanakan itu sudah benar ?. sesungguhnya yang ada dari hidupmu adalah cerminan dari amalanmu. Jika kau tunda sholat, maka rizkimu bisa diakhirkan. Bila kau lupakan ibadah, maka takdirmu sempat bisa jadi masalah. Ini yang tidak beres namun seringnya disepelekan manusia.

2.       Bersedekah, namun Senantiasa diungkit

Seringkalinya seorang memberi tidak ada niatan untuk pamer atau riya sedikitpun. Bersedekah merupakan hal yang wajar jika harus diperlihatkan dimuka umum. Tapi yang sering dilalaikan oleh seorang hamba, perkataannya yang membuat orang lain berburuk sangka terhadap pemberiannya. Meski suudzon dilarang agama setidaknya kepedulian interaksi antar sesama itu ada, hendaknya satu sama lain lebih menjaga supaya tida ada buruk prasangka, kalau bisa sedekah diketahui hanya antara pemberi dengan tuhannya.

3.       Tidak Melakukan Apa yang Dikatakan

Poin empat ini yang sering terjadi diantara manusia. Setiap manusia wajar jika melakukan pembelaan atas dirinya, namun sepatutnya ia tidak perlu membesarkan nama. Sudah kewajiban sebagai makhluk sosial untuk saling mengingatkan satu sama lain. Akan lebih baik nasehat itu lebih dulu diterapkan pada diri pribadi.

Baca Juga: 6 Syarat Dalam Mencari Ilmu Menurut Kitab Alala

Seseorang akan percaya dan meyakini sebuah perkataan atas cerminan siapa yang mengatakan dan tingkah laku apakah ucapan tersebut sudah dipraktikkan? Seperti halnya tausiyah pembesar agama, akan lebih diakui daripada preman dijalan raya. Bukan masalah siapa yang mengatakan, namun lebih kememahami apakah yang mengatakan sudah melakukan?. Hal ini condong berakibat ke opsi terakhir.

4.       Menjudge, Menghujat, padahal Sering Mengaji

Disini tampak kekurangan manusia yang nyata dan sering ditemui dimasa ini. Banyaknya kesalahfahaman yang dibuat menusia berakibat fatal atas toleransinya terhadap manusia lain. Banyaknya sikap menghakimi orang lain yang belum tentu dirinya benar. Seringnya mencaci maki dan mengklaim perbuatan orang padahal hanya seputar salah faham. Padahal sipaling merasa benar ini juga mengaji, namun yang dipertanyakan, apakah dalam kajiannya ia kurang fokus ? atau malah mengantuk sampai tida dapat diterapkan dengan baik pemikirannya ?

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Halo sahabat pena ! , nama saya LAIL panjangnya lailil farokhah ... asli berkelahiran dikota soto lamongan 19 mei 2002, status sebagai pelajar dirumah saja, baru dikejutkan pemerintah bahwa lulus sekolah MAN dengan mudah dan surprise seindonesia jalur korona. Dan alhamdulillah sekarang sudah menjadi mahasiswa UIN sunan ampel surabaya prodi pendidikan bahasa arab. saya suka menulis, lebih suka lagi tulisan saya disaingi oleh penulis penulis hebat dalam dunia jurnalistik ini. saya gemar berkarya, lebih giat lagi jika karya ini tak terhenti di file PC ku saja. Mohon kebijakan nya membantu impian saya agar tulisan saya dikenal sejarah. karena jika kalian bukan anak raja, maka menulislah Terimakasih Salam karya !

Tulisan Populer