Terjerumus Ke dalam Game Online Virtual

Hari ini aku begitu penat, langit yang semulanya cerah kini berubah mendung seakan-akan merasakan apa yang kurasakan. Ku tarik gas sepeda motor ku lebih dalam lagi agar segera tiba di rumah. Bukan hanya otak ku, tapi badan ku juga sudah minta jatah istirahat.

"Baru pulang main, Yan," tanya Bapak yang sedang menikmati secangkir kopi bertemankan kicauan burung perkutut kesayangannya.

"Iya," jawabku dengan nada pelan karena tubuh sudah lesu.

Sesampainya di dalam kamar aku lansung menjatuhkan tubuhku di kasur. Aku terlelap beberapa jam. "Yan, bangun! Ayo kita makan malam dulu." Ibu membangunkanku.

Masih setengah sadar kulihat benda hitam bulat di lengan tangan kiri ku menunjukkan angka 19:50.

"Aku mandi dulu, ya, Bu, agar lebih fresh." Aku mulai bangkit dari kasur.

"Nanti dulu, panggilkan adikmu dulu, ajak makan malam sekalian," perintah ibu yang mengalihkan langkahku untuk menuju kamar Rendy.

Rendy adalah adikku yang saat ini kelas 2 SMP, sejak sekolah diliburkan karena ada pandemi covid-19. Dia selalu bermain game online sampai lupa waktu. Sudah beberapa kali dia mangajakku untuk main game bersama. Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk menemaninya main game, ya, hitung-hitung sebagai refreshinglah. Kupercepat langkah  untuk munuju kamar Rendy.

"Rendy!" Kupanggil namanya dan mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban.

"Rendy. Buka pintunya ini Kakak. Ayo, kita main game bersama." Masih tak ada jawaban. Kemudian aku buka pintu kamarnya perlahan-lahan. Betapa terkejutnya diriku, bukanya Rendy yang kutemukan laptop yang masih dalam keadaan menyala dan berkedip-kedip bertuliskan "Play".

"Sepertinya game ini sangat bagus," pikirku. Kemudian aku arahkan kersornya dan mengklik tombol "play".

Seketika semuanya berubah, bagaikan badai yang datang secara tiba-tiba di tengah laut yang tenang. "Aaaaaaahh ...," teriakku.

"Dimana aku?" Kutercengang melihat suasana yang begitu menyeramkan.

"Rendy!" teriakku.

"Kakak? Bagaimana Kakak bisa berada di dalam game ini juga?" Rendy yang kaget melihatku.

"Apa di dalam game? Bagaimana mungkin jelas-jelas tadi Kakak mencarimu di kamar dan m -"

"Sudah, Kak, lanjutkan nanti lagi. Ayo, sekarang kita lari." Rendy menarik lenganku.

Saat menengok ke belakang aku melihat 3 monster yang mengerikan dan berusaha menangkap kami. Setelah lelah berlari kami melihat mobil, tanpa pikir panjang aku langsung menggunakannya.

"Kakak ini senjatanya ayo kita serang monster itu." Kami langsung menyerang 3 monster itu.

"Selanjutnya apa yang harus kita lakukan? Agar keluar dari game ini?" tanyaku yang sudah tidak bisa menyembunyikan kepanikan lagi.

"Tidak bisa, Kak, harus ada seseorang yang meng'exit'kan game ini atau mematikan laptopnya maka kita akan secara otomatis keluar dari game dan kembali ke rumah. Game ini hanya untuk orang 2 jadi tidak akan ada lagi orang yang bisa masuk ke dalam game ini," jelasnya  sambil menyerang monster itu.

"Apa? Gila!" jawabku dengan teriak.

----

"Loh, tadi Ibu ke sini kalian tidak ada di kamar? Ke mana aja kalian ini?" tanya Ibu yang nampak kebingunan.

"Ibu tadi yang mengeluarkan gamenya dan mematikan laptopnya," lanjut Ibu yang melihat kami terdiam memandangi laptop itu. Dan secara tiba-tiba laptopnya menyala lagi kemudian kami berteriak.

"Tidak, tidak lagi." Kami menggandeng tangan Ibu dan keluar dari kamar menuju meja makan.

 

Pohon Jalang

Purwodadi, 5 Juni 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Pohon Jalang, wanita yang menyukai bidang otomotif terutama otomotif sepeda motor, dan sastra. Sejak SD saya menyukai buku novel dan buku-buku sastra lainnya. Saat menginjak smk memilih kejuruan TBSM (Teknik Bisnis Seoeda Motor) dan mulai menulis saat masih smk kelas 12. Untuk kamu yang ingin bertukar ide atau bercerita bisa follow fecebook aku @Priyanti.

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton