Teori Puisi Akrostik Lengkap Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Jika seorang mendalami ilmu puisi, maka perlu mengenal salah satu teori Puisi Akrostik. Puisi ini memiliki perbedaan daripada puisi pada umumnya. Adapun letak perbedaan tersebut ada pada awalan yang membentuk suatu kalimat yang diambil dari judul puisi.

Misalnya, puisi berjudul “Aku”. Maka, awalan huruf pada judulnya diuraikan berbentuk sebuah puisi ke bawah.

Baca Juga: Imajinasi dalam Diksi

Oleh karenanya, penulis yang mempelajari puisi akrostik ini, selain membutuhkan ketelitian diksi yang membuat suatu kesempurnaan sebuah kalimat dan berkesinambungan antara kalimat sebelum dan sesudahnya.

A. Pengertian Puisi Akrostik

Akrostik menurut KBBI adalah syair atau puisi yang dibentuk dari rangkaian huruf yang mengawali atau mengakhiri setiap barisnya.

Sementara Akrostik menurut Sastra Indonesia, bahwa kata Akrostik berasal dari bahasa Prancis; acrostiche dan Yunani; akrostichis yang artinya adalah sebuah sajak (kata lain dari puisi), yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata, apabila dibaca secara vertikal (dari atas ke bawah).

Baca Juga: Cara Memilih Judul Puisi Menggugah Pembaca dan Selalu Dicari

Maka kesimpulannya bahwa Puisi Akrostik adalah puisi yang berisi dari penjabaran atau penguraian setiap huruf dalam judul puisi tersebut. 

Contohnya : 

BUNGA 

B....

U...

N...

G..

A..

Artinya, bahwa isi puisi dari puisi BUNGA adalah tiap larik maupun baitnya berawalan dari huruf-huruf yang ada pada judul puisi tersebut.

Adapun beberapa jenis puisi akrostik sebagai berikut:

1. Akrostik (Kata)

Akrostik kata adalah puisi yang berisi hanya satu kata, mengembangkan huruf menjadi kata.

Contoh: HUJAN 

Harapan 

Untuk 

Janapada

Asa 

 Nestapa

Baca Juga: Diksi Ketika Berpuisi

2. Akrostik (Larik)

Akrostik larik adalah puisi yang menguraikan huruf menjadi larik-larik.

Contoh: LUKA 

Luapan amarah padam seketika

Untaian rindu tak jua sirna

Kering bak kemarau lama

Angan yang hilang oleh luka yang berulang

3. Akrostik (Bait) 

Akrostik bait adalah puisi yang menguraikan huruf pada judul puisi menjadi bait.

Contoh : DENDAM

Derai deras hujan, tak mampu lagi meredam amarah, ataupun membiasakan asa yang kau abaikan dengan sengaja

Engkau datang dan pergi berulang kali bahkan mungkin tak terhitung oleh jari

Namun, bukan lagi tentang menanti ataupun menunggu waktu yang berbalik hati

Derita ini sudah tak bisa aku tepis hanya karena cinta yang terus tak bertepi

Angan sudah tak mungkin kuperjuangkan lagi dalam setiap lantunan do’a berbait

 Mencintaimu, kuibaratkan bara api yang mampu menyala dan menimbulkan api

Baca Juga: Pengantar Ilmu Puisi

4. Double Akrostik 

Double Akrostik adalah puisi yang awal dan akhir larik dengan huruf yang sama. 

Contoh : AKU

Andai semua rasa 

Kupegeng erat tangan retak

 Untukmu akan selalu kupersembahkan rindu

5. Akrostik (Terbalik)

Akrostik Terbalik adalah puisi yang menguraikan huruf dari judul puisi dengan posisi terbalik (dari bawah ke atas)

Contoh: MALU ( ULAM )

Untukmu yang berjubah merah 

Lantunan merdu di setiap makna yang berayat

Aku menaruh asa 

Menunggu waktu menuju celah yang tak akan terbelah

Baca Juga: 7 Cara Memilih Diksi dalam Puisi yang Bagus dan Efektif

6. Akrostik Tengah 

Akrostik Tengah adalah puisi yang penguraiaan Akrostiknya berada di tengah dengan ditandai tanda kurung, dengan bermaksud pembaca dapat mengenali Akrostinya.

Contoh: AIR 

Biarkan saja (a) ir mengalir sesuai tekanannya

Biarkan saja genangan itu hasil dari (i) lustrasi

Karena (r) indu tak selalu berujung pada mahligai sukma yang bersimpul.

B. Cara Membuat Puisi Akrostik

1. Tentukan Nama atau Kata Dijadikan Akrostik

Kata yang kita pilih sebagai huruf pertama dari tiap baris akan menentukan panjangnya puisi akrostik. Jadi, pilihlah kata yang sesuai dengan panjang puisi yang ingin ditulis.

2. Susun Kata Secara Vertikal

Setiap baris harus dimulai dengan huruf dari kata dipilih. Kita harus selalu memulai dengan menuliskan kata tersebut. Dengan demikian, kita bisa membayangkan puisi dan mulai mengantisipasi baris-baris yang akan menyatu, dan pada umumnya kata pertama ditulis dengan menggunakan huruf kapital agar mudah dipahami dan dimengerti.

3. Isi Baris Setiap Huruf Telah Disusun Vertikal

Tulis saja apa hal yang paling menarik yang tercetus dalam pikiran kita, yang dimulai dengan salah satu dari huruf yang sudah pilih.

4. Cari Diksi yang Tepat Mengembangkan Kata

Jika kata yang ingin ditulis terlalu panjang atau pendek, cobalah buka tesaurus untuk mencari sinonim kata. Misalkan, jika  kata “ cinta” terlalu singkat, bisa mencoba “sayang”, “persahabatan” “kekaguman”, “kesetiaan” dan sebagainya.

5. Fokus  pada Panca Indera

Pelibatan panca indera adalah penggunaan bahasa yang berakar dari kelima indra yakni indra penglihatan, pendengaran, peraba, pengecap dan penciuman. Pembaca kita bisa memahami konsep abstrak seperti “ cinta” atau “harapan” dengan lebih baik jika mereka bisa membayangkan detail-detail spesifik melalui tubuh mereka. 

Semisal dari pada kita mengatakan mencintai ibu, coba gambarkan bagaimana kita menyukai dan merindukan cara ibu kita berbicara dan mengomel setiap pagi, mungkin ini lebih menarik. Atau kita bisa gambarkan aroma bawang yang menempel pada tubuh seusai memasak makan malam, sangat menarik bukan. 

6. Revisi Puisi 

Setelah selesai, coba baca ulang dan pikirkan bagaimana kita bisa membuatnya lebih baik lagi. 

Buatlah bahasa yang abstrak menjadi lebih konkret. Bahasa abstrak seperti “harapan” dan “cinta” mungkin terdengar cantik, namun tidak menyampaikan banyak hal dibandingkan kata-kata yang bisa kita rasakan pada tubuh menggunakan pancaindra dan berpegangan pada topik. 

Pastikan bahwa tiap baris puisi menyampaikan sesuatu mengenai tema terpilih dan tidak melenceng dari topik atau tema.

C. Contoh Puisi Akrostik

IQBAL

 

Ibarat angin menyejukkan hati

Qalbu yang penuh dengan fantasi gentir

Bahagia dengan keyakinan diri

Alam berdoa untuk kesucian insani

Laksana ikan berdzikir kepada ilahi robbi 

Baca Juga: Diksi: Pengertian, Jenis, Fungsi, dan Pemilihan Diksi

D. Analisi Contoh 

Dalam contoh puisi di atas kita dapat analisis bahwa puisi tersebut termasuk ke dalam puisi akrostik jenis larik. Yaitu dalam pemilihan diksi dengan menggunakan rima a-b-a-a-a. Puisi ini menggambarkan seseorang yang menceritakan kisah hidup yang yang penuh dengan kegundahan, dan memberikan nasihat akan kekuasaan Tuhan.

E. Kesimpulan

Puisi akrostik adalah puisi yang tersusun dari suatu kata yang dirangkai dalam awal kalimat  pada tiap bait puisi. Dengan memiliki 6 jenis Puisi Akrostik: Akrostik (kata, bait,  larik, double, terbalik dan tengah). 

Cara membuat Puisi Akrostik yaitu; dengan menentukan kata yang akan dijadikan Akrostik. Kemudian susun kata-kata tersebut secara vertika, lalu isi baris tiap huruf yang telah telah tersusun dengan diksi yang tepat untuk mengembangkan kata yang memfokuskan panca indera sehingga terbentuk menjadi sebuah puisi. Dan terakhir, jangan lupa untuk selalu membaca ulang, agar bisa merevisi puisi tersebut menjadi lebih baik.

Penulis: Iqbal Mualana, Nengsih Suherman, Khuzaimah, Maghfur Eko Budiman

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer