Tangisan Puisi Kehidupan Inten Tamimi

Bedah Buku Inten Tamimi

Sajak-sajak Inten Tamimi mengingatkan saya tentang gubahan sajak dua penyair, seperti: Qois Majnun dan Kahlil Gibran. Sosok penyair yang mampu menyatukan ruh puisi dengan raga sang penulis, sehingga feel yang terkandung dalam puisi itu dapat dirasakan oleh pembaca. Puisi yang hidup dan tembus pada zamannya.

Dalam buku “Sajak Sendu” gubahan Inten Tamimi ini mengajarkan pembaca tentang esnsi kehidupan. Penulis bukan hanya  memberikan imajinasi melainkan logika realita. Bukan hanya sebuah hayalan sang penyair, tapi sebuah kehidupan yang penuh makna. Oleh karena itu, linguistik-imajinatifnya menyatu menjadi sebuah kesempurnaan.

Ada tiga pengelompokan kehidupan dalam buku “Sajak Sendu”, di antaranya: cinta, sakit hati, emosi, emosional, air mata, dan mata air (kehidupan baru).

Setiap penyair memulai pengembaraan puisi lewat gubahan sajak cinta. Sebab, cinta begitu dekat dengan perasaan. Esensinya, puisi adalah gubahan perasaan. Maka, cintalah yang mampu mengantarkan penyair menjadi sosok yang peka pada gelombang kehidupan. Dengan cinta, dia bisa memulai pengembaraan setiap diksi kehidupan, seperti yang ditulis pada judul “Lelaki dalam Mimpi”: Cinta kita melukiskan sejarah, menggelarkan cerita penuh suka cita, sehingga siapa pun insan Tuhan, pasti tahu. Cinta kita sejati....

Setelah kita mengetahui esensi cinta, maka akibat dari sebuah cinta adalah sakit hati. Cinta bersemayam dalam hati setiap manusia. Ini yang membedakan antara manusia daripada makhluk Tuhan lainnya. Penyair boleh bersajak romantis untuk seseorang, namun dia tidak bisa berbohong pada puisinya tentang rasa sakit yang dideritanya, seperti dalam judul “Kecewa”: Sebutkan perasaan yang paling kamu benci yang akhirnya kamu tuangkan dalam puisi.

Seseorang sakit hati, dia mudah emosi. Emosi di sini yang selalu bertindak di luar batas kemampuan manusia. Namun, dalam puisi Inten Tamimi ini dia menjadi sosok penulis yang mampu mempuisikan emosinya sendiri. Saat marah, dia katakan lewat kata-kata, bukan memukul atau menyakiti dirinya sendiri, seperti pada judul “Senandung Proses Pengantar Manusia Tangguh”: Baiknya, aku bagaimana?#Rentetan tugas itu kian menghampiriku tanpa ujung dan batas waktu# Bukan hanya tugas saja yang singgah, namun emosi juga turut bergemuruh.

Saat emosi seseorang mencapai punyaknya, sebagian orang memilih untuk berdiam diri dengan mengurung selama sekian lama atau pergi ke pantai untuk mencari kehidupan semata. Tapi, dalam gubahan buku “Sajak Sendu” penulis membangun emosional yang tinggi, seolah pembaca diajak untuk bangkit dari setiap permasalahn hidup yang begitu rumit. Contoh: Inten Tamimi membangun emosional yang kuat. Dalam puisinya dia mengatakan, “Masalah pasti ada ujungnya”. Maksud dari kata ujung tersebut adalah solusi. Dia menegaskan, emosional seseorang dibangun, maka dia adalah manusia yang kuat dan mampu dibanting ke sana-sini. Emosional inilah yang akan mengantarkan seseorang meraih kesuksesakan, seperti yang dilakukan penulis. Dengan mengungkapkan segala kehidupannya lewat puisi, pembaca dapat mengambil hikmah dan manfaat yang diperolehnya.

Air mata. Ya, seseorang tidak akan lepas dari air mata. Pastinya, perasaan sakit maka air matalah yang mampu mengobatinya. Namun, air mata saja tidak cukup untuk mengganti sesuatu yang terluka atau hilang. Hanya, kata-katalah yang bisa menciptakan dunia baru untuk mengubah dari air mata kesedihan menjadi kebahagiaan, seperti pada judul “Tears”: “Air mata boleh saja turun layaknya hujan, tapi jangan biarkan harimu kau buat mendung, dan jika seperti itu maka seterusnya hujan itu turun”.

Pengelompokan terakhir adalah mata air. Mata air disebut sebagai kehidupan yang baru setelah mengalami beberapa kejadian, baik suka maupun duka. Pastinya, seseorang akan membuat kehidupan baru dan pertemuan yang baru. Seperti yang dikatakan Inten Tamimi dalam gubahan puisinya, “Jadikan masa lalu sebagai jalan menuju masa depan.” Ya, masa lalu bukan diratapi. Ia tetap jadi masa lalu, tapi jadikan masa lalu ini sebagai jalan menuju masa depan. Inilah yang banyak orang tidak sadar dan lupa menyadarinya.

Ada sendu yang coba kau sembunyikan

Ada tawa yang coba kau redupkan

Dari mana berasalnya mendung dalam rautmu

Hingga setitik asa tak kau biarkan masuk pada lekuk hatimu

 

Kecewalah pada dunia yang tak sejenak memberimu jeda

Menangislah pada hidup yang tak jua memberimu ruang

Tapi tersenyumlah pada pagi yang menjatuhkan beningnya 

Karena menunggu untuk terbahagiakan itu melelahkan

Maka bahagialah dari sekarang

 

Bila akar yang memang membelitmu begitu kuat hingga terasa menyesakkan

Maka sekuatlah kamu untuk melepasnya

Bila duri terasa menyayat pada kulit terdalammu

Maka sangguplah kamu untuk mencabutnya

Karena sakit bukan untuk kamu rawat atau tanam

Tapi kamu perangi dan kamu tumbuhkan kebahagiaan

 

Tangis akan selalu bermuara dimana saja

Ratapan juga tak kalah piluhnya

Tapi bukan untuk itu kamu hidup

Hiduplah seakan akan kamu tak pernah tahu apa itu duka

(Sajak “Melankolia Hidup”)

 

Dari penjelasan di atas, sajak-sajak Sendu Inten Tamimi bukan mengajari seseorang untuk meratapi sakit yang diakibatkan masa lalu, masa berjalan, dan masa akan datang. Tapi, bagaimana dia tetap menjadi manusia yang kuat dan tahan banting untuk memberikan kemanfaatan kepada orang lain. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi emosional yang dibangunnya menjadi dasar memikirkan orang lain.  

 

Sumenep, 31 Mei 2020

Qiey Romdani

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Jun 10, 2020, 4:58 PM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin
Apr 11, 2020, 5:49 PM - Ruang Sekolah