Sya'ban Menuju Kualitas Kepribadian Wali (Kekasih)

Bulan sya’ban, orang jawa mengatakan wulan suro. Berbagai tradisi ritual keagamaan dengan khas berbagai daerah dan wilayah dilakukan dan diabadikan oleh para pelakunya.

Dari ritual berbau jawa dan ritual yang didasarkan penuh dengan teks qoth’I hadis Nabi Muhammad.

Bulan sya’ban, merupakan bulan menjelang bulan ramadhan, bulan ramadhan bulan yang mayoritas orang menyibukan diri untuk beribadah secara berjamaah maupun individu.

Bulan bagi siapapun umat Islam ringan menjalankan ibadah mahdloh, bagi mereka ibadah di bulan romadlon terasa sangat ringan karena mayoritas orang beribadah dengan semangat.

Baca Juga: 7 Langkah Agar Terhindar Rasa Kantuk Saat Sholat Tahajud

Semangat yang saling membakar kualitas ibadah sesama. Baik ibadah sholat, puasa, sedekah, tadarus al-Quran serta kajian-kajian majelis ta’lim di berbagai mushola maupun masjid.

Maka dari itu perlu menjalankan satu ritual mudah dan ringan sebagai persiapan untuk memasuki bulan ramadhan:

1. Mensenandungkan Doa

Berdoa itu seperti membawa dan mengimplementasikan senjata sesuai prosedur. Prosedur seorang hamba, ciptaanNya itu berdoa dengan serius untuk meminta dan taqarrub kepadaNya.

Sebab Dia Allah senang kalau dimintai pertolongan, curhatan, aduan, permohonan dengan varian model doa tidak terbatas. Bagaimana doa yang baik, tentu tidak terlepas dari membaca basmallah, memuji, bersholawat, doa inti dan ditutup dengan sholawat beserta hamdalah.

Baca Juga: Misteri Karbala: Tradisi Syiah di Hari Asyura dan Muharram

Konten doa apa yang harus dipanjatkan, doa tidak ada keharusan macam-macam, redaksi doa bebas memohon dan meminta apapun sangat-sangat bebas, sesuai dengan isi hatinya masing-masing.

2. Membiasakanm membaca kalimah syahadah

Syahadat sebagai kunci keimanan, level keimanan seorang adakalanya pada rating lima, empat, tiga dan jangan sampai dua atau satu. Konsekuensi rating keimanan menjadi efek dari ketunduan pada sang Pencipta.

Memperbanyak istighfar

Istighfar itu memohon ampunan kepada sang Pencipta, agar kesalahan dan dosa seorang hamba diampuni maupun dihapuskan olehNya. Redaksi istighfar sederhana astaghfirullahal’adhim.

Baca Juga: Ngeri! 4 Keadaan Manusia di Padang Mahsyar Setelah Kiamat

Memaknai beribadah harus disesuaikan dengan level kepribadian dan tanggungjawab masing-masing. Karena yang menjadi alat ukur sebagai bukan jumlah beribadahnya, melainkan keistiqomahnya.

Salam istiqomah, Elkutubonline

Achmad Choirul Umam

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Alumnus PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta Alumnus PP. Al Masyhuri Ngabean Purwodadi Alumnus PP. Darussalam Geyer Grobogan

Tulisan Baru