Stigma Ganas Pembunuh Mimpi Perempuan

"Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri Cina."Itulah pepatah yang mempresentasikan seberapa pentingnya menuntut ilmu.

Pentingnya ilmu untuk memperluas pengetahuan kita,membuka pemikiran kita dalam memandang suatu hal atau fenomena,dan menghasilkan generasi cerdas.Tidak itu saja, jika kita mempunyai rasa semangat tinggi untuk mencari ilmu, itu akan mendekatkan langkah kita terhadap kesuksesan yang mana hal tersebut bisa mengubah tingkat perekonomian rumah tangga bahkan bisa meningkatkan sektor perekonomian negara.

Berdasarkan Universal Declaration of Human Right yang diproklamirkan oleh PBB pada tahun 1958 menyatakan bahwa pendidikan adalah salah satu Hak Asasi Manusia,yang bisa didapatkan oleh siapa saja tanpa klasifikasi gender baik perempuan ataupun laki-laki semua berhak mendapatkan pendidikan.

Ditemui juga dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (1) menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapat pendidikan.

Baca Juga: Cara Pintar Mengengola Keuangan Anak Kos Di masa Pandemi Bagi Mahasiswa

Memang, ilmu dapat dicari di mana saja, di dalam pendidikan informal misal kegiatan esktrakurikuler, organisasi, kesenian, olahraga, atau dalam fenomena sosial di kehidupan kita.

Tetapi sebagian besar ilmu didapatkan dari pendidikan formal yaitu dengan sekolah. Pendidikan sendiri menurut Ki Hajar Dewantara berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter,kekuatan bathin), pikiran, dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakat.

Pendidikan di Indonesia pada tahun ini berada pada peringkat 55 dari 73 negara, yang mana artinya masih tergolong rendah. Rendahnya pendidikan di Indonesia diikuti dengan rendahnya pendidikan perempuan di Indonesia.

Bagaimana bisa terjadi? Hal tersebut tidak lepas dari berbagai faktor yang menghambat keberlangsungan perempuan dalam melanjutkan pendidikanya. Adanya kemiskinan yang menyebabkan ketidakmampuan seseorang dalam membayar layanan pendidikan dan faktor yang sangat berpengaruh adalah lingkungan.

Baca Juga: Makna Tersirat Aksara Jawa Terhadap Kepribadian Orang Jawa

Lingkungan berpengaruh terhadap pemikiran kita,sangat rawan jika kita mempunyai suatu rancangan atau prinsip yang bisa goyah bahkan hancur hanya karena kira terpengaruh oleh pemikiran orang lain.

Kita tentu tidak bisa memilih di lingkungan yang seperti apa kita dilahirkan. Beruntung mereka yang terlahir di lingkungan yang supportive yang mendukung hal-hal yang kita jalani dan mendukung kita dalam mencapai impian kita,dan yang lain harus bersiap menghadapi terpaan stigma yang mampu membunuh langkah seorang perempuan untuk menggapai mimpinya.

Pada zaman dulu, perempuan yang sudah mengalami menstruasi segera dinikahkan oleh orangtuanya, hal tersebut menjadi bukti bahwa dianutnya sistem patriarki yang masih tertanam kuat.

Sistem patriarki yang menyatakan bahwa laki-laki lah yang menjadi pemimpin dan yang mencari nafkah sehingga mereka para perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi dan mendapat pekerjaan atau karir yang bagus.

Tidak dapat disangkal, sistem patriarki tersebut masih dianut dan ada di dalam pemikiran sebagian masyarakat yang di jadikan lontaran terhadap tanggapan tentang perempuan yang ingin melanjutkan studi atau pendidikannya.

Juga tidak jarang ditemui adanya gender stereotype yang membatasi ruang gerak perempuan.

Perempuan dituntut untuk menurut dan melakukan apa yang diperintahkan yang harusnya semua orang baik perempuan atau laki-laki bebas mengekspresikan dirinya dalam melakukan sesuatu yang disukai, dalam mengembangkan bakat dan minat dan tentunya dalam pendidikan.

Selain sistem patriarki yang kuat dan gender stereotype, dewasa ini juga banyak ditemui kesalahan perspektif masyarakat tentang kodrat seorang wanita atau perempuan.Mereka beranggapan bahwa kodrat seorang perempuan yaitu melakukan tugas pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah(menyapu, mengepel,mencuci), memasak, dan mengurus anak.

Baca Juga: Mengapa Harus Belajr Bahasa Arab? Ini Alasannya

Padahal fakta menunjukan bahwa kodrat perempuan yaitu menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui selain itu bukan kodrat perempuan yang artinya bisa dikerjakan oleh laki-laki seperti memasak,membersihkan rumah, mengurus anak, dan mencuci baju.

Sangat disayangkan, dengan Angka Kesiapan Sekolah perempuan yang besar yaitu 75,28% namun fakta dilapangan menunjukkan sebaliknya.

Mereka telah terdoktrin dengan stigma-stigma tersebut dan menghentikan langkahnya.Sehingga bagi seseorang yang tidak berpegang kuat pada prinsipnya, ucapan dari pemikiran mereka akan sangat mudah menggoyahkan dan membunuh semangat kita yang pada akhirnya kita memutuskan untuk menyetujui ucapan mereka dan mulai menanamkan pemikiran mereka di dalam pikiran kita.

Perspektif setiap manusia berbeda-beda dan hal itu tidak salah tetapi jika disebarluaskan tanpa berdasarkan data yang valid dan membawa dampak negatif maka perspektif tersebut tidak bisa diterima.

Rendahnya pendidikan di Indonesia, sumber daya manusia yang tidak berkualitas,banyaknya pengangguran, dan turunnya perekonomian negara mungkin akan terjadi jika stigma tersebut masih tertanam kuat dan tersebar di masyarakat.

Lalu bagaimana kita menghentikannya? Langkah awal umtuk menghentikan stigma tersebut yaitu dimulai dari dalam diri kita.

Baca Juga: Mengenal Dekat Budaya Tachiyomi di Jepang

Pemikiran-pemikiran masyarakat tersebut akan berpengaruh pada generasi selanjutnya jika tidak mulai dari sekarang dihentikan.

Kita harus mempunyai mempunyai prinsip yang kuat sehingga kita mempunyai kemampuan menepis stigma-stigma yang tidak sejalan dengan prinsip kita dan kita harus konsisten terhadap pilihan arah dan tujuan kita di masa depan.

Langkah selanjutnya untuk menghentikan stigma tersebut adalah jika kita menemui orang yang mengatakan pemikiran-pemikiran tersebut kepada kita,

kita harus berani berargumen tentang pentingnya pendidikan karena gender tidak menghalangi untuk memperoleh pendidikanJika bukan dari diri kita sendiri yang tidak menghentikan stigma ganas yang berbahaya tersebut lalu siapa lagi? 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Meisita Anggraeni - Nov 15, 2021, 7:34 PM - Add Reply

wuihhhh kak saf saf kweren

You must be logged in to post a comment.
Mukhtar Hamid Nashrulloh - Nov 16, 2021, 7:41 PM - Add Reply

Mantap jiwa.......

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Related Articles