Semicolon Sebagai Tali Interaksi

 

Apa Hubungan Semicolon Dengan Interaksi di Era Digital?

Baru-baru ini di media social seperti tiktok, Instagram ataupun twitter banyak beredar lambang titik koma (;) atau yang biasa disebut dengan semicolon. Banyak masyarakat terlebih para remaja yang menggunakan lambang semicolon pada profil, keterangan  unggahan foto, atau curhatan twitternya.

Lambang semicolon biasanya dipakai penulis sebagai tanda mereka bisa mengakhiri suatu kalimat, tapi mereka lebih memilih tidak mengakhirinya. Lambang semicolon juga pertama kali dikaitkan dengan Kesehatan mental pada tahun 2013 oleh Amy Bleuel.

 Amy Bleuel mendirikan project semicolon untuk memberi dukungan kepada orang-orang terutama remaja yang mengalami masalah mental yang membuat mereka ingin mengakhiri hidup mereka. Project semicolon menjadi motor penggerak untuk menyebar luaskan gerakan ini ditengah masyarakat yang dinamis melalui dunia maya. Inisiatif mencetuskan project ini berawal dari Amy yang berusaha melawan depresinya karena ayahnya meninggal bunuh diri. Saat Amy tersadar dan ingin melakukan suatu hal untuk mengenang ayahnya sekaligus menumbuhkan kesadaran terhadap kasus Kesehatan mental.

Semicolon atau titik koma (;) juga biasanya menjadi gambar pengingat untuk remaja yang berusaha menyakiti dirinya sendiri. Seperti menggambarnya di pergelangan tangan yang akan membentuk gambar kupu – kupu. Titik koma (;) atau semicolon kini menjadi tanda solidaritas dan kekuatan dalam menghadapi bunuh diri, depresi, dan masalah mental lainnya.

 

Mengapa Lambang Semicolon Dapat Menjadi Tali Interaksi Dikalangan Remaja Dewasa Ini?

Tak sedikit kasus bunuh diri yang terjadi. Menurut Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri, setiap 40 detik, seseorang melakukan bunuh diri. Sementara itu berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) 2019, Kementrian Kesehatan RI menyatakan,di Indonesia terdapat lebih dari 16.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya. Indria mengatakan,berdasarkan hasil riset IPK,angka kasus bunuh diri di Indonesia terus meningkat ,terlebih lagi dalam situasi pandemi ini. “Kami menemukan adanya peningkatan orang yang mengalami gangguan psikologis, rentan setres, depresi, bahkan terancam bunuh diri,” ujar Indria dalam diskusi daring bertajuk Menciptakan Harapan Melalui Aksi Nyata, Sabtu(11/9/2021).

 

Apa penyebab maraknya kasus bunuh diri?

Banyaknya terjadi kasus bunuh diri diakibatkan beberapa faktor yang mempengaruhi mental mereka, seperti keadaan ekonomi, lingkungan yang buruk, suasana rumah yang buruk. Yang membuat membuat mereka merasa putus asa. Pada saat mereka melakukan bunuh diri, banyak orang bersimpati atas kematiannya. Namun, disaat mereka masih hidup tak ada satupun orang yang peduli dengan hal apa saja yang mereka alami. Sebaliknya, banyak dari masyarakat malah mengucilkan mereka, menganggap mereka remeh dan serta merta memaki mereka.

Lingkaran virtual yang menjadi mental health awareness.

Setelah Amy membuat symbol ini menjadi lebih bermakna, banyak orang – orang yang memasang tatto semicolon. Banyak dari mereka yang menceritakan kisah hidup mereka dan menunjukan kesadaran mereka terhadap Kesehatan mental. Kampanye Project semicolon yang di launching pada 2013 didedikasi untuk menghadirkan harapan dan cinta bagi mereka yang berjuang menghadapi tekanan dalam hidupnya agar bisa memotifasi dirinya sendiri untuk dapat bangkit dan berkembang lebih baik dan tidak terjebak dalam kepedihan berlarut – larut. Komunitas ini berkembang dengan cukup pesat dikalangan masyarakat berkat dunia maya sebagai perantaranya.

 

Komunikasi Pada Komunitas Project Semicolon

Dalam perkembangan remaja kita di tengah masyarakat banyak yang terjebak dengan masalah pribadi mereka. Tapi, terkadang masyarakat yang tak merasakan di posisinya mengalihkan pandangan dan terkadang mencaci mereka. Padahal permasalahan – permasalahan mereka kerab menjadi bom waktu yang tinggal ditunggu kapan bom itu meledak.

 Perlu kita ketahui masa remaja adalah masa transisi yang membutuhkan support dari orang – orang sekitarnya. Masa yang sering kali membuat mereka terjebak dan susah untuk bangkit karena minimnya support yang mereka terima. Peran orang tua juga penting dalam memperhatikan mental anaknya. Tapi, tak banyak juga orang tua yang tak peduli, dan masih banyak yang sering menyalahkan anaknya atas keadaan yang dialami si anak yang membuat mereka kehilangan tempat untuk bercerita dan bergantung.

Lingkungan pertemanan dan masyarakat yang tak mendukung dan membuat mereka semakin jatuh. Hal ini yang mendorong remaja ke jurang depresi dan akhirnya memilih mengakhiri hidup mereka. Karena itu, setelah Amy mencetuskan project semicolon banyak remaja yang mencoba saling menguatkan lewat komunitas itu. Saling berbagi kisah, saling menggenggam tangan, karena mereka mencoba mengerti bahwa mereka tidak sendirian. Meski lingkungan tak mendukung, mereka yang merasa memiliki luka yang perlu disembuhkan saling mensupport dengan komunitas project semicolon ini.

Melalui sosial media yang ada sekarang, banyak tersebar gerakan project semicolon dengan menggambar tatto semicolon di pergelangan tangan ataupun leher. Mereka berfoto dan mengunggahnya, tak sedikit juga yang berbagi cerita di keterangan gambar yang mereka unggah. Banyak dari mereka mencoba sadar bahwa pentingnya proses penyembuhan mental mereka. Dengan tak ragu – ragu pergi ke psikiater ataupun psikolog. Dengan ini, manfaat dunia virtual diera digital dan project semicolon membantu mengurangi jumlah orang yang berusaha mengakhiri hidupnya membuat mereka tidak merasa sendirian. Dan bagi mereka yang telah melewatinya, tato titik koma adalah pengingat yang kuat tentang seberapa jauh mereka telah melangkah dan bertahan.

Biografi penulis: Maharani lahir pada tanggal 16 April 2003 asal Kalimantan Utara, rani merupakan Mahasiswi aktiv di Universitas Islam Negri Raden Mas Said Surakarta dari prodi Komunikasi Penyiaran Islam. Rani suka melakukan perjalanan, mengikuti perkembangan berita, suka menonton drama Korea. Rani juga aktif di kegiatan T-maps.
E-mail: maharaani779@gmail.com
Nomor telepon: 085335418039

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis
Tulisan Populer
Jun 13, 2020, 5:39 AM - Pohon Jalang
Jul 23, 2021, 11:34 PM - Imroatul Khofifah
Tulisan Baru