Revenge

Ruangan itu terlihat begitu gelap dan juga pengap. Suara berderit dan berdecit yang entah datang darimana, membuat suasana di dalamnya semakin tidak nyaman. Berdebu dan juga kotor. Beberapa barang yang tidak lagi terpakai di letakkan di dalam ruangan itu. Tertutup oleh kain-kain putih yang besar dan juga panjang. Pintunya yang berwarna cokelat tua, selalu terkunci rapat, bahkan ada tulisan 'dilarang masuk' tepat di pintu itu. Sudah hampir sepuluh tahun, pintu itu selalu terkunci. 

Namun, hal itu sepertinya tidak lagi membuat Sarah untuk berhenti melangkah, semakin mendekati ruangan paling ujung di sekolahnya itu. Dengan pakaian serba hitam, dan berbekal dua buah senter, dan juga tidak lupa ponsel, Sarah berusaha seaman mungkin untuk bisa mencari tahu apa isi di dalam ruangan itu. Salahkan rasa penasaran yang sejak kecil Sarah miliki ini. Terlebih hampir semua guru merasa sangat takut jika melewati ruangan itu. 

Dia kembali mengarahkan salah satu senter yang ada di dalam genggaman tangannya. Mengarah ke segala arah, berharap tidak ada satu orang pun yang melihatnya disini, malam-malam di sekolah. Astaga. Hampir saja dia berteriak, saat melihat anak kucing berlari mengejar induknya. Kembali Sarah pun mengarahkan senter itu ke kenop pintu, mengambil salah satu jepit rambut kecil di dekat telinganya, dan memasukkan ke dalam lubang pintu, mencoba untuk membukanya. Astaga. Sarah merasa dirinya hampir mirip seperti pencuri saat ini. 

Klek 

Sarah tersenyum kecil, sambil menghela napas lega. Dia pun memasang kembali jepit rambutnya. Menggenggam erat kenop pintu dan membukanya secara perlahan. Suara berderit pintu, membuat Sarah menahan napas, dan semakin perlahan untuk membuka pintu ruangan itu. Udara pengap mrnyambutnya begitu saja. Dingin dan asing. Sarah pun mengarahkan senternya ke sekitar dindingnya, dan menemukan saklar lampu. Dia mendekat dan memakannya hingga lampu pun menyala. Sekarang sudah jam dua belas kurang sepuluh menit, biasanya penjaga sekolah sudah pulang ke rumahnya, yang ada di depan sekolah. 

Lampu ruangan ini masih bisa menyala terang, tapi kenapa selalu dimatikan? Sarah mematikan senternya, dan menggenggamnya dengan erat. Barang-barang begitu memenuhi ruangan ini, meski masih terlihat sedikit luas. Sarah menyusuri ruangan itu. Lantainya yang kotor, dan juga debu di udara, membuatnya semakin merasa sesak napas. Hingga, Sarah merasa sangat tertarik dengan lukisan yang ada di dinding, hanya tertutupi setengah bagian oleh kain putih yang usang. 

Sarah mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menarik kain yang menutupi lukisan itu. Dan terkejut. Bahkan dia tidak tahu, bagaimana caranya untuk mengungkapkan. Lukisan itu terlihat sangat bersih, sama sekali tidak usang karena debu. Bahkan bingkainya pun masih memperlihatkan warna emas, mengkilau dan indah. Lukisan itu bergambar Seorang wanita yang mengenakan kebaya zaman dahulu berawarna putih. Rambutnya yang hitam panjang, dan juga senyumannya yang terlihat manis. 

Sarah menatap ke arah bagian bawah dari bingkai lukisan itu, bertuliskan nama 'Sri Ayu Ningsih'. Sarah mengerutkan dahinya, dan mulai menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang kecil itu. "Sri Ayu Ningsih..." gumam Sarah yang seketika merasakan hawa dingin di sekitarnya. Sarah membalik badannya dengan cepat dan tersentak mundur beberapa langkah. 

"Ba-bagaimana mungkin?" gumam Sarah lirih. Ruangan itu berubah menjadi sebuah kamar, yang bersih, rapi dan juga wangi. Kedua mata Sarah berkaca-kaca, sama sekali tidak menyangka jika dia akan mengalami hal ini. Dia terbawa ke masa lalu. Apa maksud semua ini? Sarah merasa tubuhnya sangat kaku, hingga untuk berjalan menelusuri ruangan itu tidak mampu. 

Klek

Pintu di hadapannya terbuka, dan menampakkan seorang wanita yang sama persis di dalam lukisan. "Sri..." Sarah memanggil wanita itu. Tapi Sri, sama sekali tidak menghiraukannya, seakan-akan, Sarah memang tidak ada disana. Hanya sebagai bayangan yang semu. Sarah mencoba untuk mengurangi ketegangannya. 

"Sri..." panggil seseorang yang membuat Sarah dan juga Sri menatap seorang pria yang berdiri di ambang pintu kamarnya. 

Sri berdiri dari duduknya dan menatap tanpa minat ke arah pria yang menurut Sarah terlihat tampan itu. "Kenapa kamu datang kemari lagi, Jaka?" tanya Sri dengan suaranya yang merdu. Sarah menatap ke arah pria yang dipanggil dengan nama Jaka itu. 

"Kamu tahu aku akan selalu datang, hingga aku mendapatkan jawaban dari lamaranku minggu lalu, Sri. Jadi apa jawabanmu? Orangtua kita sudah saling setuju," jawab Jaka sambil tersenyum manis ke arah Sri. 

Sri menolehkan kepalanya ke arah Sarah, membuat Sarah tersentak kaget. Tapi Sri hanya menutup kedua matanya sejenak dan menghela napasnya, dan kembali menatap ke arah Jaka. "Aku... Aku masih butuh waktu Jaka. Jika aku menjawabnya dengan terburu... Tidak akan baik bagi hubungan kita nantinya. Lagipula, aku juga masih belum mencintaimu..." 

Jaka menatap datar dan juga dingin, mengangkat dagunya dengan angkuh. "Oh, apakah karena kamu masih mencintai suamimu yang sudah meninggal itu?!" 

Sarah memaksa berjalan mendekati mereka, untuk menatap ekspresi Sri dan juga Jaka lebih jelas. Sarah bisa melihat Sri sedang menahan amarahnya atas perkataan Jaka. "Cukup, Jaka! Sekarang keluar dari kamarku dan pergi! Jangan buat aku melakukan kesalahan lagi! Keluar!" 

Jaka menatap marah ke arah Sri, dan segera pergi darisana. Sarah terkejut mendengar bentakan Sri. Dia menatap Sri yang mulai berjalan menuju ranjangnya, setelah menutup pintu kamarnya. Membaringkan tubuhnya tepat di atas ranjang, mencoba untuk tidur. Sarah menghela napas. "Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku bisa kembali? Tolong aku... Aku mohon... Kenapa aku merasa takut?" gumam Sarah yang merasakan tubuhnya semakin bergetar adanya. Menyadarkan tubuhnya, dan ikut memejamkan matanya. Meski jantungnya terus saja bergemuruh, tak berhenti. 

Sarah membuka kembali kedua matanya, saat merasakan dirinya sama sekali tidak bisa merasa tenang. Namun, segera kedua matanya membelalak saat melihat Jaka ada di dalam kamar Sri, dimana Sri yang sudah tertidur. Sarah ingin bangkit dari duduknya, saat melihat Jaka mengangkat tangannya yang menggenggam erat sebuah keris panjang dan mengerikan itu Kenapa udara, namun tak bisa. Sarah mencoba menghentakkan tubuhnya, untuk berdiri tapi yang ada tubuhnya semakin menempel di kursi yang dia duduk saat ini. 

Sarah menahan napasnya, saat Jaka melesatkan keris itu kenapa tubuh Sri berulang kali, bahkan Sri pun tidak sempat untuk berteriak, karena mulutnya yang sudah dibekap kain. Sarah memejamkan tubuhnya, saat tetesan darah Sri menciprati wajahnya. Tubuhnya terasa sangat sakit dan juga dingin. Sarah membuka kedua matanya perlahan dan merasa napasnya sangat sesak. Jaka mengarahkan obituary ke seluruh ruang kamar Sri, dan membakar ruangan itu. 

"Oh Tuhan... Aku mohon, tolong aku... Hiks..." Sarah semakin tidak berdaya saat api mulai merambat ke arahnya dan juga Sri yang sudah tewas kehabisan darah di atas ranjangnya. Api mulai membakar tubuh kaku Sri. Sarah menangis keras. Hingga kedua kakinya pun bisa merasakan betapa panas dan menyakitkan. Dan semuanya mulai gelap. 

***

"Sarah... Sarah..." Tubuh Sarah terasa bergoyang, namun kedua matanya sangat sulit untuk dibuka. Namun sentuhan di tubuhnya, dan suara-suara yang terus saja memanggilnya, membuat Sarah berusaha keras membuka kedua matanya. Hingga dia pun bisa melakukannya, dan terkejut melihat Pak Mamang, penjaga sekolah sedang menatap khawatir kepadamu arahnya. Sarah menyangka tubuhnya, dan berusaha duduk. 

"Sarah, apa yang kamu lakukan di dalam ruangan ini?" tanya Pak Mamang. 

"Sa-saya melihat Sri..." jawab Sarah sambil menatap ke sekeliling ruangan itu. Sama seperti pertama kali dia memasukinya. Dan menatap ke arah Pak Mamang yang terdiam. 

"Ayo keluar, sudah mulai disibukkan hari, jangan masuk lagi ke ruang ini, Sarah. Berbahaya," ucap Pak Mamang, sambil membantunya untuk berdiri. 

"Tapi kenapa Saya harus melihat kematian Sri, Pak? Siapa dia?" tanya Sarah sambil berjalan tertatih. 

"Sudah jangan dipikirkan. Ayo, saya antar pulang," jawab Pak Mamang menuntun Sarah untuk bersandar di dinding, dan dia mulai mengunci kembali ruangan itu. 

***

DITEMUKAN MAYAT GADIS DENGAN LUKA TUSUK DAN TERBAKAR MENGENASKAN DI DALAM KAMAR RUMAHNYA

"Sudah cukup balas dendammu, Sri... Semuanya sudah usai..." gumam Pak Mamang sambil menatap lukisan Sri Ayu Ningsih. Pak Mamang menatap sayu ke arah lukisan itu. "Sudah cukup kamu hancurkan garis keturunan Jaka, untuk membalas dendammu... Sudah selesai. Kembalilah ke alammu dengan tenang, sekarang..."

Pak Mamang berjalan perlahan keluar dari ruangan itu. Mengunci pintunya dari luar dan menambahkan gembok. Dan menampakkan tulisan 'dilarang masuk' berukuran lebih besar. Berjalan pergi tanpa menoleh kembali ke belakang. 

Tanpa menyadari, lukisan itu tersenyum senangnya, dan kedua matanya yang mengeluarkan darah, dan menetes ke lantai. Tertawa nyaring. Yang begitu menggema di dalam ruangan gelap itu. Berhasil membalas dendam atas kematian tragisnya di masa lalu. Menghancurkan garis keturunan si Pembunuh. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Okt 26, 2020, 4:39 PM - Fandi Ahmad syah
Agt 11, 2020, 8:53 PM - Ruang Sekolah
Jul 11, 2020, 8:46 PM - Pohon Jalang
Penulis
Y
Y

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah