Puisi Prosais: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Cara Membuatnya

Setiap penyair pasti mengenal apa itu puisi prosais? Puisi ini memiliki lirik paragraf dalam menarasikan suatu diksi. Sedikit berbeda dengan puisi akrostik dan puisi romantis meskipun unsur fisik dan batin puisinya sama.

Puisi prosais berasal dari kata prosa. Prosa itu sendiri adalah karangan bebas yang tidak memiliki keterikatan aturan ikatan banyaknya baris.

Baca Juga: Pengantar Ilmu Puisi

Maka, puisi prosais adalah sebuah puisi yang tidak memiliki aturan keterikatan baris dalam sebuah paragraf.

Puisi prosais itu puisi yang penulisannya seperti sebuah paragraf. Bukan bait per bait seperti yang pada umumnya. Puisi prosais itu juga tidak punya daya evokasi atau menggugah. Jadi ketika membacanya kebanyakan datar-datar aja. Beda kalau puisi yang bait per bait, bisa membacanya dengan berapi-api.

A. Ciri-ciri Puisi Prosais

1. Mengisahkan cerita secara padat, padu, dan indah namun tetap melalui pilihan kata, larik, rima dan ritme.

2. Berbentuk paragraf. Selain sebagai pembeda dari puisi-puisi lain, ini juga sekaligus menjadi ciri khas dari Puisi Prosais.

3. Argumen puisi prosais bergenre puisi.

Baca Juga: Puisi Romantis: Pengertian, Unsur dan Cara Membuatnya

B. Cara membuat Puisi prosais

1. Tentukan lah tema dan judul.

2. Mulailah menulis puisi dengan menggunakan tipografi paragraf.

3. Perhatikan tanda baca pada puisi. Kebanyakan puisi tidak menggunakan tanda baca karena tipografinya, namun dalam puisi ini lebih menitikberatkan tanda baca pada setiap kalimat puisi.

4. kembangkanlah puisi dengan cara self editing.

Baca Juga: Imajinasi dalam Diksi

C. Contoh Puisi Prosais

Kamu Adalah Luka

Oleh Dhika dan Siti Papat

Ufuk petang kian mulai tergores. Membakar luka yang menggebu menjadi bara. Menyisakan untaian rasa yang berjuta makna. Aku padamu seperti angin yang berlalu saja. Sekejap, tidak untuk selamanya.

Rasa akan ikatan, melebur, membakar naluri menjadi bara api. Sejak jelas senja itu tiada, hatimu juga ikut tiada. Bukan sebabku kamu pergi. Namun hatimu yang memaksamu untuk pergi. Apakah dayaku, untuk menggenggammu terlalu lama.

Baca Juga: Toeri Puisi Akrostik Lengkap Pengertian, Jenis, dan Cara Membuatnya

Kecewa yang membuatku trauma, rasanya aku tak lagi punya rasa. Hati iniĀ  bagaikan kayu dimakan rayap. Cinta kau tak salah, hanya diri ini lah yang terlalu ambisi dengan kicauannya yang tak bermakna.

D. Analisis Puisi Prosais

Puisi ini sudah tergolong puisi prosais sebab dari bentuknya saja kita sudah bisa melihat bahwa puisi ini berbentuk paragraf. Terdapat beberapa sekat untuk memisahkan antara paragraf yang satu dengan yang lainnya. Jangan tersesat, meskipun berbentuk paragraf namun tetap memperhatikan diksi dan gaya bahasa agar puisi tersebut lebih hidup. Kemudian, terlihat jelas bahwa puisi tersebut menggunakan tanda baca yang seharusnya mungkin sebagian besar dari puisi biasanya tidak menggunakan tanda baca akibat tipografi.

Penulis: Dhika Nur Fitriana, Siti Papat Patimah

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru