Peran Pesantren Sebagai Tombak NKRI

 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk Islam terbanyak. Juga,  terdapat berbagai ragam aliran yang mulai berkembang di masyarakat. Baik paham radikal, reseptif, tawasuth dan lain sebagainya.

Dalam hal inilah umat Islam harus lebih selektif  serta kritis terhadap paham-paham yang mulai bertebaran. Apalagi di era serba digital yang sedang berkembang saat ini. Kita tidak bisa duduk termangu  bersikap reseptif terhadap fatwa-fatwa baru beratas namakan al-Quran dan al-Hadis. Padahal notabenenya mereka yang membawa fatwa tersebut sama sekali tak pernah menyelaminya. Satu hal yang sepele namun berakibat fatal, sebab mampu mengikis paham Islam yang sesungguhnya.

Bahkan seharusnya kita lebih interaktif serta mengkaji atau memfilter ulang dalam menerima sesuatu yang berkaitan erat dengan akidah dan agama. Guna menangkal paham yang ingin terlihat interpretasi dengan berbagai dakwah, guna mencuri paradigma masyarakat. Padahal sebenarnya mereka sangatlah albirter, mengkafirkan bagi yang tak sepaham, memurtadkan bagi yang menentang, menggunakan dalih-dalih hukum al-Quran semata-mata untuk membenarkan segala perbuatannya.

Padahal kita tahu arti Islam yang sesungguhnya yakni; toleransi, tawasuth, merangkul, menghargai bukan mendoktrin atau bahkan menghakimi. Hal ini sesuai dengan semboyan NKRI, yakni Bhinneka Tuggal Ika. Yang mana Indonesia ini merdeka sebab ikhtiar bersama, terlebih para ulama yang saling menghargai, menghormati antar agama bukan berbalik memerangi dan membenci.

Lantas paham seperti apa yang akurat dan empiris? Dan seperti apa pula peran kita dalam mengayomi cikal bakal bangsa agar menjadi penerus bangsa yang mampu mengimplementasikan diri secara cermat, seksama, dan objektif serta tetap terjaga kontinuitasnya dengan paham yang telah diajarkan Nabi, sahabat, tabiin dan para kiai.

Ini merupakan permasalahan pokok yang perlu dikaji secara intensif. Banyak lembaga pendidikan Islam, program pendidikan yang telah dicanangkan oleh pemerintah, baik lembaga itu negeri, swasta, atau lokal. Namun, tidak bisa menjadi jaminan apa yang diajarkan bisa diikuti. Kita sebagai warga Negara Indonesia dengan paham sunni, seyogyanya mampu menjadi garda terdepan dalam memilih dan memilah lembaga pendidikan yang mampu memperkukuh, membentengi diri generasi bangsa dari paham radikalisme yang berkembang saat ini, yakni dengan cara melibatkan diri dalam kelembagaan pendidikan warisan para wali yang masih eksis sampai saat ini, yakni pesantren.

Kenapa pesantren? Kenapa bukan lembaga yang lebih maju lainnya?

Pertanyaan tersebut sering bermunculan. Bahkan tanpa harus mengkajinya terlebih dahulu, banyak masyarakat yang tergiur dengan lembaga yang lebih maju tanpa mereka sadari bahwa hal tersebut sama seperti olahraga arung jeram tanpa memakai pengaman. Yang mana saat generasi bangsa sudah menginjakkan kaki di luar pendidikan agama, padahal sama sekali tidak memiliki bekal atau bahkan memiliki bekal namun sedikit maka hal tersebut sama saja dengan bunuh diri. Generasi bangsa kita akan dikoyak-koyak, di ombang-ambing dengan berbagai paham yang tidak seharusnya mereka ikuti. Sehingga terbentuklah benih-benih jiwa radikalisme  yang siap menghancurkan bangsa Indonesia, contoh kecilnya adalah teroris.

Mereka mengatasnamakan Islam, Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, namun sama sekali tidak meresapi arti sesungguhnya di balik itu semua. Islam itu ramah bukan marah, merangkul bukan membunuh, toleran bukan menekan. Sudah jelas, tentu kita mampu membedakannya.

Sedangkan pesantren merupakan lembaga yang paling tepat dalam membentengi diri guna melahirkan generasi-generasi muda sesuai ajaran Nabi, para sahabat, tabiin, ulama dan para kiai. Dari sinilah kita akan diajarkan tentang “tafaqquh fiddin” (mendalami ilmu-ilmu agama). Selain itu juga, yang membedakan pesantren dengan lembaga yang lainnya adalah panca jiwa yang dimiliki pesantren, di antaranya:

1.      Jiwa Keikhlasan

Jiwa yang mampu bekerja dengan tulus untuk tujuan-tujuan bersama. Tidak berdasarkan ego untuk mendapat keuntungan, yakni murni karena ibadah kepada Allah

2.      Jiwa Kesederhanaan Tapi Agung

Jiwa yang mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri, dan jiwa yang besar untuk menghadapi segala rintangan dalam berbagai kehidupan, tuntutan dan perkembangan zaman.

3.      Jiwa Persaudaraan

Sebagaimana kehidupan sehari-hari santri yang mampu akrab, toleran, menyayangi, mengasihi, menghargai antara santri dengan kiai, ustadz maupun antar sesama santri yang lain. Meskipun banyak di antara mereka suatu perbedaan baik itu suku, adat-istiadat, kekayaan, akan tetapi itu semua bukan menjadi penghalang untuk tetap hidup rukun dan damai

4.      Jiwa Kemandirian

Lembaga pesantren mampu melatih dan membentuk jiwa-jiwa yang mandiri sehingga tidak tergantung dengan orang lain. Terlebih dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang sedang menghadang hidup.

5.      Jiwa Bebas

Jiwa bebas dalam hal ini yakni mampu menentukan masa depan dengan sikap optimis menghadapi segala problematika, namun tetap memegang erat pada jalur nilai-nilai ajaran Islam.

 

Pesantren merupakan lembaga yang paling tepat untuk membentuk jiwa-jiwa generasi bangsa, serta sangat berperan sebagai tombak NKRI melawan paham radikalisme.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah