Pengaruh Pandemi Terhadap Perkembangan Kepribadian Sosial Dan Kesehatan Mental

 

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini berpengaruh besar dalam setiap lingkup segi kehidupan manusia. Tidak hanya di bidang kesehatan namun dalam segi pendidikan tentu saja sangat berpengaruh.

Terlebih lagi penerapan beberapa protokol kesehatan tidak mendukung adanya kegiatan pendidikan tatap muka. Saat ini yang bisa diterapkan adalah pendidikan dengan basis online yang ditunjang dengan aplikasi seperti google classroom, zoom, google meeting, dan sebagainya.

Penerapan sistem berbasis aplikasi atau online juga berlaku pada saat kita ingin berbelanja. Seperti yang kita tahu saat pandemi sedang melanda beberapa fasilitas publik diharuskan untuk tutup.

Untuk memenuhi kebutuhan kita saat hal itu terjadi maka beberapa aplikasi muncul untuk berbelanja online seperti gojek, shopee, zalora, blibli, dan lain lain.

Baca Juga: Inner Child: Sisi Diri Penghambat Relasi Sosial

Tentu hal ini sangat mudah karena kita bisa melakukan pembayaran melalui sistem online juga mengunakan mbanking.

Namun realitanya hal hal efektif tersebut tidak disertai dengan perkembangan kesehatan mental serta perkembangan kepribadian sosial.

Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah yang sempat trend belakangan lalu sempat membuat publik merasa iri. Pegawai kantoran tidak lagi diharuskan melakukan kegiatan di kantor.

Pekerjaan yang tadinya mempunyai waktu yang mutlak bisa berubah menjadi lebih fleksibel.

Namun tetap tidak mengurangi fee yang didapat. Kemudian beberapa freelancer bisa semakin mengembangkan sayap keproduktifitasannya dalam masa pandemi seperti ini. Waktu yang bisa dihabiskan bersama keluarga juga pastinnya sangat banyak. Lalu di sela sela waktu WFH bisa digunakan untuk melakukan bisnis online dan membuat konten promosi di media sosial.

Hal tersebut tentu dapat menambah penghasilan di masa pandemi. Para orang tua juga tidak perlu merasa repot harus mengantar dan menjemput anaknya untuk bersekolah.

Sebuah ekspektasi yang sangat indah yang mungkin bisa saja terjadi di beberapa orang saat ini. Namun apakah ekspektasi akan seindah realita yang bisa kita jalani.

Melihat sudut pandang WFH yang dilakukan belakangan ini dari sisi lain akan nampak bahwa banyak sekali terjadi penurunan kesehatan mental.

Baca Juga: 4 Jenis Narkoba yang Asing Di Telinga, Apa Saja?

Orang yang dahulu cenderung menemui banyak orang kemudian secara insidental diharuskan bekerja di rumah seorang diri dengan beberapa pekerjaan menumpuk bisa menyebabkan depresi.

Kesepian adalah hal utama yang mendasari. Bertemu orang melalui via video confference pasti terasa berbeda dengan bertemu secara langsung.

Biasannya orang yang kesepian cenderung akan merasa depresi dan ditinggalkan. Hal tersebut meningkat sangat tajam di era pandemi seperti ini. Tingkat kesehatan mental yang kurang stabil sangat banyak dirasakan oleh pekerja WFH.

Liburan yang bisa mereka rasakan untuk mengobati penat saat sedang merasa lelah bekerja tidak lagi bisa mereka rasakan. Hiburan lain yang bisa mereka lakukan biasannya adalah dengan melihat beberapa drama atau film di channel aplikasi berbayar favorit mereka.

Sedikit mengobati rasa kesepian namun tetap saja banyak orang yang memilih untuk berobat di psikolog melalui aplikasi kesehatan berbayar.

Kemudian apakah pandemi ini juga berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian sosial seseorang.

Tentu saja hal yang demikian pasti terjadi, banyak kasus seperti itu bisa kita lihat dan rasakan pada anak sekolah dan mahasiswa tingkat lanjut.

Baca Juga: Tiga Tanda Masa Datang Bulan Akan Tiba, Perempuan Wajib Tahu!

Aktifitas penunjang proses pembelajaran yang dilakukan secara online tidak hanya berpengaruh terhadap akademik anak, namun juga pasti berpengaruh pada psikomotorik dan perkembangan kepribadian sosial anak.

Anak yang seharusnya dapat mengembangkan jiwa sosial pada usia sekolah dasar dan menengah terpaksa harus mendekam di dalam rumah. Hal itu akan membuat anak menjadi seorang yang anti sosial.

Ketakutan akan bertemu orang banyak saat di luar rumah menjadi hal yang sangat banyak kita temui saat ini.

Kemudian banyaknya komunikasi via chatting atau video confference membuat anak juga pasti sedikit merasa aneh saat sedang berkomunikasi secara langsung, membuat anak susah mencari teman baru entah saat sedang online school atau pun saat sudah memasuki pembelajaran tatap muka. Hal ini sangat bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial.

Banyaknya aplikasi yang ditawarkan seperti gofood untuk pemesanan makanan secara online kemudian shopee, zalora, dan tokopedia yang bisa digunakan untuk berbelanja membuat kita semakin merasa malas untuk bergerak. Hal ini apabila tidak ditunjang dengan olahraga yang cukup akan membuat daya tahan fisik kita menurun.

Baca Juga: 10 Obat Rumahan Menyembuhkan Sariawan Lengkap Cara Menggunakannya

Seperti yang kita banyak GYM atau tempat pelatihan olahraga juga diharuskan untuk tutup saat pandemi. Lalu juga karena mudahnya akses pembayaran online membuat orang menjadi tidak sadar sudah melakukan suatu permasalahan sosial yaitu hedonisme.

Hal hal seperti itu sebenarnya berkaitan erat dengan kesehatan mental dan perkembangan kepribadian sosial kita.

Dampak dan pengaruh dari adanya pengubahan sistem di era pandemi saat ini sangat terasa. Sadar dan tidaknya kita tergantung pada batas dan skala prioritas yang kita dibuat untuk membatasi dan mengatur serta memanajemen pola perilaku kita saat pandemi.

Tetap fokus pada tujuan dan menjadi produktif adalah kunci pola hidup sehat demi menjadi pribadi yang tidak anti sosial dan mental tetap terjaga.

NAYANG LOCITA AFNI, Lahir di Klaten, 18 Juni 2003, Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi, Universitas Sebelas Maret (UNS).

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Tulisan Populer