Pendidikan Karakter Membentuk Kemandirian dan Pribadi yang Baik

Pernahkah kalian berpikir, apakah pendidikan yang tinggi atau pendidikan karakter lebih utama? Dua istilah itu banyak dibicarakan para pakar akademisi. Dua statemen tersebut sama-sama penting, jika seorang anak berpendidikan tinggi dan karakternya baik, maka ia menjadi orang yang bermanfaat bagi dirinya dan orang pada umumnya.

Namun, karena statemen tersebut terdapat dua pilihan, tentu kita harus memilih salah satu di antara keduanya. Mana lebih utama antara pendidikan akademisi atau pendidikan karakter? Di sini saya akan membahasa satu persatu istilah keduanya.

Pendidikan karakter adalah bentuk kegiatan yang di dalamnya terdapat pada pelajaran karakter dan sikap positif yang dibangun oleh guru untuk muridnya. Artinya, guru tidak hanya fokus pada materi sekolah secara akademis, melainkan juga pada pola sikap dan sifat positif yang dibangun untuk menjadi kepribadian yang baik.

Sementara pendidikan akademisi, yaitu pendidikan yang diberikan oleh guru melalui materi-materi pelajaran di sekolah atau kuliah. Pendidikan akademisi terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan formal meliputi materi bahan ajar kelas, seperti Bahasa Indonesia, IPA, IPS, Basa Arab, Bahasa Inggris, Matematika dan lainnya. Pendidikan non formal, meliputi kegiatan ekstrakulikuler, seperti kesenian, olahraga, organisasi, dan lainnya.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Anak Nomor 1 daripada Pendidikan Akademisi

Lalu mana yang lebih utama di antara dua pilihan tersebut? Saya memilih pendidikan karakter. Kenapa? Karena karakterlah yang dapat mengubah akademis seseorang dalam pendidikan. Contoh, ada seseorang nilainya bagus dan sering juara kelas, namun sikapnya amoral dan bikin kerusuhan. Dan ada lagi, seorang nilainya sedang, tapi rajin dan orangnya baik sehingga mendapatkan banyak pujian dari teman dan gurunya. Pertanyaannya, secara kaca mata sosial, teman dan gurunya lebih senang pada anak yang mana? Lalu secara akademisi, lebih dibutuhkan yang mana?

Oleh karena itu, pendidikan karakter anak harus diutamakan daripada pendidikan akademisi. Sebab, lewat karakter positif yang dibangun, dapat membentuk kemandirian dan kepribadian yang baik. Di sinilah peran guru serta ikut andil orang tua dalam mensuppourt sang anak menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.

PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

Pendidikan karakter dapat kita lihat melalui bagaimana peran orang tua dalam mendidik, sebab orang tua adalah sekolah pertama bagi anaknya. Sang anak mampu mengenal banyak hal, seperti perilaku, benda, bicara, dan sebagainya lewat pendidikan yang diberikan orang tua. Sementara, guru di sekolah hanya bisa meneruskan atau meluruskan pendidikan karakter yang pernah diajari orang tua di rumah serta lingkungannya.

Saya akan memakai beberapa sumber definisi pendidikan karakter menurut para ahli, di antaranya:

1. Kertajaya (2010)

Menurut persepsi Kertajaya, pendidikan karakter adalah ciri khas yang dimiliki suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut mengakar pada benda atau individu, sehingga menciptakan sifat, sikap dan tindakan yang positif atau negatif.

2. T. Ramli (2003)

Munurut T. Ramli pendidikan karakter adakah esensi pendidikan yang sama dengan pendidikan moral dalam membentuk prilaku yang baik. Tujuan persepsi T. Ramli yaitu membentuk pribadi yang baik dan sosial yang tinggi.

3. Suyanto (2009)

Mengemukakan pendidikan karakter adalah cara berpikir dan perilaku untuk hidup dan bekerja sama, baik lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, terciptalah keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana tertulis pada sila ke lima.

4. John W. Santrock

Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Baca Juga: Perlakuan Salah pada Anak (Child Abuse)

Setelah menguasai definisi pendidikan karakter, lalu bagaimana manifestasi pendidikan karakter itu sendiri. Dalam beberapa zaman mut`akhir ini, pendidikan karakter yang kongkret serta nyata menciptakan karakter bagi manusia serta agamanya, lebih dominan dilakukan para kaum bersarung, yaitu pendidikan dari pesantren.

Mengapa pesantren? Sebab, pesantren adalah penjara suci untuk menampung anak yang bermasalah serta mendidiknya menjadi pribadi yang baik. Banyak orang yang sudah merasakan kenikmatan didikan pesantren, selain mendidik secara sosial dan kemandirian secara tinggi, juga tidak lepas dari didikan agama yang kuat serta iman yang kokoh.

Selain itu, pendidikan di luar pesantren juga banyak, seperti sekolah negeri atau lembaga agama yang lain. Namun, bagaimana kita menerapkan materi didikan yang sudah diperoleh, itulah hal yang terpenting. Banyak orang menyepelakan, sehingga sesuatu yang dianggap kecil dapat menjadi karakter meskipun negatif. Contoh kecilnya, minum sambil berdiri. Menurut para dokter medis, minum sambil berdiri dapat menyumbat pada pencernaan dalam tubuh sehingga dapat menjadi kencing manis atau kencing batu. Hal tersebut, sudah menjadi larangan Nabi pada umatnya untuk tidak meminum sambil berbiri dalam keterangan hadis shohihnya.

Oleh karena itu, pendidikan karakter di Indonesia menjadi tanggungjawab semua. Artinya, sebagai rakyat yang patuh terhadap Undang-Undang Dasar dan Pancasila dalam membentuk karakter masyarakat yang baik, seyogyanya kita dapat menegur seseorang yang kita lihat bukan membiarkan begitu saja. Mereka juga manusia seperti kita, perlu perlindungan dan bimbingan menjadi manusia yang baik.

PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI

Pendidikan karakter dapat dimulai dari usia dini. Di usia yang dini, tidak lepas dari peran orang tua secara signifikan. Artinya, orang tualah yang dekat dengan anak. Ia tahu pola tingkah laku anak, baik buruk dan baiknya buah hati tersebut.

Anak akan dekat pada ibunya. Sebab, energi ibu lebih besar daripada energi ayah. Sosok ibu yang mengandung selama 9 bulan, bahkan ada yang lebih dan kurang. Lalu, interaksi di dalam kandungan, sang anak menendang-nendang sampai sang ibu merasakan sakit. Hal tersebut, adalah bentuk dari kasih sayang ibu yang begitu besar pada anaknya.

Pada kandungan tersebut, energi luar sang ibu dapat dipelajari oleh anaknya di dalam kandungan. Misalnya, saat masa mengandung, ibu selalu membaca Al-Quran, maka anaknya mudah membaca Al-Quran. Atau semasa kandungan, ibunya melakukan pekerjaan yang baik, maka menjadi karakter bagi anaknya setelah lahir menjadi pribadi yang baik.

Setelah keluar dari masa kandungan, maka sang anak ikut pada lingkungannya. Jika lingkungannya amoral, maka sang anak pun akan ikut amoral. Sebab, anak di usia yang belita atau belum cukup umur, segala sesuatu yang dilihat dan dirasakan akan ia tiru yang lambat laun menjadi karakter dalam dirinya. Di sinilah peran orang tua untuk memilah dan memiliki perilaku yang baik untuk anaknya.

Pertanyaannya, orang tua mana yang tega melihat perilaku buruk sang anak? Tentu, harapan terbesar orang tua adalah sang anak menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi semua orang. Oleh karena itu, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mendidik karakter anaknya, sebab orang tua adalah sekolah pertama bagi anaknya.

PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH

Pendidikan karakter sebagai bentuk aspek yang bagus bagi generasi bangsa. Sekolah tidak hanya fokus pada pendidikan secara materi, namun lebih kepada bagaimana membentuk kepribadian karakter siswa yang baik dan bertanggungjawab. Di sinilah peran sekolah membantu meneruskan pendidikan karakter orang tua terhadap anaknya. Meskipun mereka hanya siswa, pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan anaknya sendiri.

Tujuan dari pendidikan karakter di sekolah tiada lain adalah membentuk kedewasaan dan rasa tanggungjawab bagi anak. Selaras dengan Naskah Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter yang diterbitkan Kementrian Pendidikan pada tahun 2010, bahwa pada naskah tersebut pendidikan karakter menjadi visi dan misi pembangunan nasional Indonesia yang termasuk pada RPJP 2005 – 2025. Bukan itu saja, dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional: memasukkan tujuan dan fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan upaya dalam bidang pendidikan.

Oleh karena itu, sebagai guru seyogyanya membentuk karakter siswa sebagaimana ciri khas di bawah ini, di antaranya:

1. Karakter Riligius

Menanamkan karakter riligus adalah langkah awal penanam karakter pada anak menjadi diri yang patuh terhadap agama, serta saling menghargai antar agama. Upaya menanaman riligius ini tergantung pada kadar tingkatannya. Artinya, tahap kesadaran anak masih tahap meniru, lebih pada pembelajaran perakter agama bukan pada materi.

2. Cinta Kebersihan dan Lingkungan

Cinta kebersihan dan lingkungan terdapat dua faktor, yaitu cinta pada diri sendiri dan lingkungan. Lingkungan yang bersih mencerminkan kebersihan diri sendiri. Kebersihan lingkungan dapat dilakukan dari membersihkan lingkungan sekolah, halaman, jalan dan kelas dengan sistem jadwal atau kepekaan diri sendiri. Maka, jika sudah menjadi kebiasaan akan menjadi karakter dan tak perlu ada jadwal keberhasihan.

3. Sikap Jujur

Sikap jujur sekarang hanya minoritas saja. Untuk bersikap jujur terbilang sulit, namun pada hakikatnya gampang hanya hati yang sudah terbiasa berbohong sehingga untuk sulit berjujur pada teman, guru, orang tua dan lainnya. Maka, sikap yang jujur dapat menjadikan keharmonisan antar teman dan sosial yang tinggi antar sesama.

4. Sikap Peduli

Peduli merupakan tindakan selalu ingin memberi bantuan kepada yang membutuhkan. Tindakan peduli ini banyak caranya, misalnya teman kita membutuhkan uang jajan. Maka, sisihkan uang saku kita untuk diberikan pada teman yang membutuhkan. Jika suatu saat nanti, kita juga membutuhkan bantuan, maka teman kita juga akan membantunya. Terciptalah kerukunan antar sesama manusia dan teman antar teman.

KESIMPULAN

Pendidikan karakter ini sangat penting pada anak dimulai dari masa kandungan sampai ia sudah dewasa dan mampu berpikir objektif. Sebelum, kebiasaan yang buruk menjadi karakter, seyogyanya peran orang tua juga dibantu guru memilihkan perilaku pada anaknya. Oleh karena itu, lewat Pendidikan Karakter  dapat Membentuk Kemandirian dan Pribadi yang Baik bagi anak dan siswanya sendiri.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Arman - Feb 16, 2020, 8:51 PM - Add Reply

Sangat bermanfaat sekali tulisannya.

You must be logged in to post a comment.
Ruang Sekolah - Feb 16, 2020, 9:00 PM - Add Reply

Terima kasih atas supportnya. Kami akan membuat artikel yang lebih manfaat bagi semua orang.

You must be logged in to post a comment.
Ahmad - Feb 16, 2020, 9:08 PM - Add Reply

Pada kenyataannya, pendidikan karakter lebih utama daripada pendidikan akadems. Toh, buat apa pangkat tinggi tapi gak punya adab di masyarakat.

You must be logged in to post a comment.
Siti Masytho - Feb 16, 2020, 10:00 PM - Add Reply

Iya, benar. Saya punya kenalan seorang sarjana. Tapi, kelakuannya tidak jauh beda dengan anak kecil. Seolah saya bertanya pada diri sendiri, titel kesarjanaannya buat apa? Kenapa dulu ingin kuliah, tapi menghabiskan uang orang tua. Lulus gak jadi apa-apa.

You must be logged in to post a comment.
Nurul Jannah - Feb 16, 2020, 10:20 PM - Add Reply

Membahas tentang parenting memang gak akan selesai-selesai. Ada saja masalah yang akan dihadapi. Selesai, akan muncul masalah yang baru. Itulah siklus kehidupan bagaikan roda yang berputar.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton