Pendidikan Karakter Anak Nomor 1 daripada Pendidikan Akademisi

Pendidikan Karakter hukumnya wajib dilakukan di rumah bersama orang tua atau di sekolah bersama guru. Sebab, karakter menentukan jalan yang harus ia lalui. Hal terpenting adalah, karakter sudah diajari dalam rumah, karena karakter tersebut akan dibawa ke mana-mana termasuk ke sekolah. Oleh karena itu, pendidikan karakter menjadi sangat penting daripada pendidikan secara akademisi. Otak boleh pintar, namun karekter buruk menguasai otak, akan terciptalah mempermainkan orang lain termasuk orang tua dan gurunya sendiri.

Maka, Pendidikan karakter lebih penting dari pendidikan akademisi untuk menunjang kreatifitas anak baik otak atau perilaku kesehariannya. Meskipun pendidikan akademisnya tinggi, namun pendidikan karakternya rendah atau buruk, dapat berdampak fatal bagi dirinya sendiri atau orang lain. Seyogyanya pendidikan karakter yang harus dibina, lalu pendidikan akademisnya. Maka, Saya akan mengulas dari segi umum pendidikan dan karakter.

Pendidikan adalah hal yang wajib dilakukan semua orang terutama anak muda yang masih memiliki cita-cita yang tinggi dan masa depan yang cerah. Maka, pendidikan inilah yang akan mengantarkannya menuju cita-cita yang akan ia capai. Sebab, masa depan yang esok tergantung pada pendidikan sekarang.

Contoh kecilnya, pemuda cerdas yang putus sekolah di bandingkan pemuda bodoh yang melanjutkan sekolahnya, maka nilainya berbeda. Pemuda cerdas putus sekolah, tapi ia tidak diasah pemikirannya, sehingga menyebabkan tumpul dan berefek bodoh. Berbeda dengan pemuda yang bodoh, tapi ia tetap sekolah. Maka, otaknya akan terasah dan kemudian cerdas dengan sendirinya.

Namun semua itu kembali pada diri sendiri. Bukannya saya memberikan keraguan berpikir dan menganalisis, tapi seyogyanya hati dan pikiran manusia tidak ada yang tahu. Misalnya, dalam beberapa kasus yang saya temukan meski minoritas, pemuda berjiwa pendidikan tapi putus sekolah namun ia tetap membaca buku lebih baik daripada pemuda sekolah tapi tidak membaca atau sering bolos.

Kita akan mengoreksinya lewat daya berpikir, menganalisis dan menyampaikan argumen. Di situlah letak penilaian yang dapat kita dapatkan. Tentu sangat berbeda dengan pemuda yang sudah kutu buku. Sebab, sekolah hanya prioritas bukan kualitas. Sehingga, banyak para guru menyuruh muridnya untuk mencari pelajaran di luar, baik di organisasi atau masyarakat, karena sekolah hanya menyediakan materi sebanyak 35%  saja, sementara 75% ada di organisasi atau masyarakat.

Apalagi sudah melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi negeri atau swasta. Daya berpikir-kritisnya pun berbeda dengan zaman SMA. Ia sudah menjadi pemuda dewasa dan memikirkan nasibnya. Di usia 20 tahun, otak manusia berfungsi dan memiliki ketajaman analisis, sehingga tidak menutup kemungkinan apa yang pernah dilihat dan dirasakan jika tidak sesuai dengan akal, maka akan membrontak dan menantang aduh argumen.

Baca Juga: 7 SOFT SKILLS YANG WAJIB KAMU DAPATKAN KETIKA MENJADI MAHASISWA

Di lain sisi, pada umur tersebut masih saja jiwa ketergantungan pada orang tua masih melekat dari kecil, mungkin efek dari doktrin manja dari orang tua yang sudah menjadi karakter. Sistem ketergantungan yang melekat dalam tubuh menjadikan anak bersikap kasar dan pemalas. Mau tidak mau, apa yang diharapkan harus ada di depan mata. Jika tidak, ia bersikap amoral dan keras pada siapa pun termasuk orang tuanya sendiri. Kasus seperti ini yang sering ditemukan dalam lingkungan kita, terutama terjadi pada orang kaya atau anak satu-satunya. Rasa manja inilah merubahnya dari sikap manusiawi menjadi hewani.

Lalu bagaimana solusinya? Di sini saya akan membahasnya secera detail.

1. Ajari Pendidikan Karakter Sejak Kecil

Anak seusia 3 sampai 7 tahun memiliki daya ingat yang kuat, sehingga ia mampu menangkap prilaku oran lain dan menirunya untuk menjadi karakter. Nah, di usia itu biasanya orang tua masih sayang-sayangnya, sehingga ia lupa untuk memperhatikan sang anak mempelajari karakter orang yang buruk. Daya otaknya dengan mudah memasukkan segala macam yang sudah diindra tanpa memfilternya terlebih dahulu.

2. Jaga Karakter Orang Tua

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kata pepatah. Jika dilihat dari faktanya memang betul. Karakter orang tua akan turun pada anaknya. Istilah trennya sekarang adalah karma. Minimal, orang tua yang bertengkar jangan sampai ketahuan sang anak, agar ia tidak terdoktrin lewat kekarasan yang dilihatnya. 

3. Ajari Anak Berpendidikan tidak Manja

Orang tua mana yang tidak akan mengabulkan permintaan sang anak, apalagi anak satu-satunya. Tidak ada larang menolak permintaan sang anak, tapi jangan sampai memanjakan. Orang tua harus lebih selektif dalam memfilter kebutuhan dan keinginan sang anak. Jika tidak, ia akan selalu menuntut apa pun harus ada tanpa berpikir panjang. Sebab, keinginan manusia sangatlah banyak, sementara kebutuhannya sedikit. Artinya, ia boleh ingin segala macam, tapi kebutuhannya satu, lalu keingingan yang sudah nyata akan ia tinggalin begitu saja. 

4. Carilah Sekolah yang Mendidik Karakter

Di zaman sekarang, sekolah sangat banyak bahkan dalam satu desa terdapat puluhan sekolah. Namun, sekolah yang mengajari karakter hanya minoritas saja. Contoh saja, sekolah di bawah naungan pesantren dengan sekolah di luar pesantren. Tentu efeknya berbeda. Saya merasakan bagaimana pendidikan pesantren dalam mendoktrik karakter anak lewat doa guru dan prilaku yang baik menurut agama di bandingkan dengan pendidikan di luar pesantren yang tidak mau tahu apa yang terjadi pada siswanya, yang penting dirinya digaji dan memberikan materi karakter.

Dari empat solusi di atas dapat membantu para orang tua untuk menjaga dan mendidik anak agar ia menjadi pribadi yang baik dan mampu mencapi cita-cita yang baik dan bersikap baik pada dirinya dan sekitarnya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Siti Masytho - Feb 16, 2020, 10:02 PM - Add Reply

Ini baru artikel yang lengkap. Saya setuju dengan tulisan ini, bahwa pendidikan karakter tetap nomor 1 sementara pendidikan akademis masih jauh di bawahnya.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Tulisan Populer
Jun 13, 2020, 5:39 AM - Pohon Jalang
Mei 17, 2020, 4:50 PM - Renalia Rhomadani
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan