Penafsiran dan Metode Pa`Opa` Iling dalam Pendidikan Pesantren Masa Kini

Pa`Opa` Iling adalah tradisi permainan anak-anak orang Madura yang banyak diminati pada zamannya dan merupakan tradisi sastra lisan yang sampai saat ini hampir menghilang.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Anak Nomor 1 daripada Pendidikan Akademisi

Namun, lagu Pa`Opa` Iling memiliki nilai religius yang tinggi bagi seorang pelajar dan santri yang menuntut ilmu agama di pesantren. Sehingga sebagian pesantren termasuk Nasy’atul Muta’allimin[1] menjadikan sebuah teori pendidikan tetap dipegang teguh sampai sekarang. Berikut lagu dan bahasa Indonesianya di bawah ini.

pa`opa` iling: Tepuk tangan sambil berpikir.

ilinngga sakoranjing: Berdzikir kepada yang kuasa sebanyak-banyaknya.

anak tambeng tao ngaji: Anak yang bodoh tahu ngaji.

ngaji ebenna cabbi: ngajinya sama tetesan Nabi (maksudnya: para ulama.

eangka`e sarabi: Diajari tentang sang Robbi/ Tuhan yang Maha Kuasa

ekodungi tanggi : Menggunakan harum-haruman (Dupa) agar “nyambung” pada yang Kuasa

pamolena sake` gigi: Ibarat lubang gigi, pada akhirnya kita akan pulang ke lubang kematian.[2]

Syair-syair pada lantunan nada-nada di atas sangatlah sederhana, namun apabila dikaji lebih dalam terdapat pesan atau nasihat jiwa dan riligius kepada seorang pelajar atau santri.

Baca Juga: Menjinakkan Paham Radikalisme dan Terorisme Dengan Kultur Pesantren

Seorang santri dituntut memiliki moral dan akhlak yang baik, baik dari tutur kata, sikap, maupun tingkah laku dalam kehidupan bersosial. Hal ini yang menjadi dasar pengutusan Nabi Muhammad Saw ke bumi untuk memperbaiki akhlak manusia dan menyebarkan agama Islam Rahmatal Lilalamin, yaitu Islam kasih sayang, perdamaian, toleransi dan menangkal paham-paham terorisme dan radikalisme agama. Sebagaimana termaktub dalam lirik pa`opa` ilingilinngga sakoranjing, yaitu ilmu tidak akan berguna jika tidak memiliki akhlak. Akhlak tidak akan bernilai, jika tidak didasari agama dan tauhid.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Membentuk Kemandirian dan Pribadi yang Baik

Sementara itu, santri dituntut untuk belajar dan mengaji kitab klasik ulama Salafus Shalih Ahlus Sunnah Wal-Jamaah untuk membentengi keimanan dan menjadi dasar syariat Islam dalam menghadapi paham radikalisme dan terorisme agama berdasarkan Al-Quran, Al-Hadis, Qiyas, dan Ijma’ Ulama. Seperti, paham yang suka mengkafirkan, membid’ahkan, bunuh diri atas nama jihad, dan menghalalkan sesuatu yang haram oleh agama. Sebagaimana termaktub dalam lirik anak tambeng tao ngajingaji ebenna cabbi, eangka`e sarabi.

Baca Juga: Penyakit Hati yang Memusnahkan Seluruh Amal Shalih

Seorang santri mampu menjelaskan kepada masyarakat awam esensi sebuah tradisi nenek moyang dan agama Islam yang saling berkesinambungan namun tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Misalnya, setiap malam Jumat membakar kemeyan atau dupa sebagai bentuk penyambutan arwah leluhur yang mengunjungi sanak famili dan menjadi tali antara seorang hamba kepada Rabbi.

Bahwa setelah proses selesai, suka dan duka menyatu padu di dalamnya. Maka, ia akan kembali kepada Tuhan Penciptanya, yaitu Allah SWT. Walaupun dirinya mati, namun jiwa dan semangatnya tetap berkobar lewat ilmu dan akhlak yang telah diajarkan kepada orang lain. Sebagaimana termaktub dalam lirik pamolena sake` gigi, yaitu pulang dalam keadaan tenang dan selalu dikenang. 

 

[1] Penyampaian Pengasuh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Drs. KA. Munif Zubairi saat pengajian kitab Tafsir Jalalain 2016

[2] A. Dardiri Zubairi, Rahasia Perempuan Madura (Surabaya: Al-Afkar Pres, 2012), hlm iv

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton