Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI (Team Assisted Individualization

Dalam dunia pendidikan, kita mengenal banyak model pembelajaran. Salah satu model tersebut adalah pembelajaran kooperatif. Secara umum diartikan sebagai proses belajar yang bertujuan untuk membantu peserta didik agar dapat berinteraksi dan bekerja sama satu sama lain. Ada banyak tipe dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: STAD, Jigsaw, TAI, TGT, dan sejenisnya.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Membentuk Kemandirian dan Pribadi yang Baik

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah TAI. Dalam satu referensi, TAI memiliki akronim Team Assisted Individualization atau Team Accelarated Instruction. Pembelajaran tipe ini dikembangkan oleh seorang tokoh bernama Robert E.Slavin.

Menurutnya, model pembelajaran ini hadir untuk mengadaptasi pembelajaran terhadap perbedaan individual peserta didik. Perbedaan tersebut berkaitan dengan kemampuan dan pencapaian prestasi peserta didik. Kehadiran model pembelajaran tipe TAI ini, diharapkan mampu mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Sebab, dalam pembelajaran ini diterapkan bimbingan antar teman. Peserta didik yang pandai bertanggung jawab terhadap temannya yang lemah. Hal ini berguna untuk meningkatkan partisipasi belajar siswa dalam kelompok.

Dalam model pembelajaran ini, terdapat pengkombinasian antara keunggulan model pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran individual. Pada dasarnya, pembelajaran tipe ini hampir sama dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan TGT. Meski demikian, ada ciri khas tersendiri dari tipe ini, yaitu setiap peserta didik wajib mempelajari materi pembelajaran secara individu, sebelum dibawa ke kelompok-kelompok yang telah dibentuk untuk berdiskusi. Kemudian, peserta didik yang memiliki kemampuan lebih tinggi, wajib untuk membantu memberi penjelasan kepada temannya yang memiliki kemampuan lemah.

Secara umum, dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, ada beberapa langkah yang harus ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Dalam pembelajaran tipe TAI juga diperlukan beberapa langkah-langkah berikut.

Baca Juga: Bagaimana Sistem Kurikulum Pendidikan Indonesia di Masa New Normal?

1. Tes Penempatan atau Ges Diagnostik

Di awal pembelajaran, guru terlebih dahulu memberikan tes kepada peserta didik. Tes tersebut berguna untuk mengetahui kemampuan dasar peserta didik, dan hasil tes tersebut digunakan sebagai dasar dalam pembentukan kelompok.

2. Membentuk Kelompok

Sesudah melakukan tes awal, guru membagi peserta didik ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri dari siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

3. Memberikan Bahan Ajar

Berikutnya, guru harus memberikan bahan ajar kepada setiap peserta didik. Bahan ajar tersebut mencakup petunjuk belajar, materi, soal latihan, soal tes formatif, kunci jawaban soal latihan, dan soal tes formatif. Dalam hal ini, guru dituntut untuk bisa menghadirkan bahan ajar di dalam kelas. Bahan ajarnya bisa berupa modul ataupun lembar kerja.

4. Belajar dalam Kelompok

Peserta didik diinstruksikan untuk mulai membaca dan mengerjakan soal latihan yang ada di dalam bahan ajar secara mandiri. Kemudian, setiap anggota kelompok mengecek jawaban dari temannya. Jika jawabannya salah, ia harus mengulanginya. Di dalam proses ini juga diharapkan adanya peran serta dari peserta didik dengan kemampuan lebih tinggi, untuk membantu memberi penjelasan kepada peserta didik yang kurang mampu untuk menjawab pertanyaan dengan benar.

Apabila semua peserta didik telah mengerjakan soal latihan, kegiatan pembelajaran dilanjutkan dengan mengerjakan tes formatif yang juga dilakukan secara mandiri dan tanpa melihat kunci jawaban. Kemudian, peserta didik saling berpasangan memeriksa hasil kerjanya dengan teman yang berasal dari kelompok yang berbeda, dengan menggunakan bantuan kunci jawaban dan si pemeriksa harus menandatangani lembar jawaban yang dia periksa. Begitupun dengan pasangannya.

5. Kelompok Pengajaran

Peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dan kemampuan rendah dipisahkan. Kemudian dibimbing secara langsung oleh guru.

Baca Juga: Analisis Sikap Terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Evaluasi

6. Penilaian dan Penghargaan Kelompok

Setiap pekan, guru menghitung skor perolehan dari tiap-tiap kelompok yang kemudian dibedakan menjadi kelompok super, sangat baik dan baik. Kelompok super untuk kriteria tinggi, kelompok sangat baik untuk kriteria sedang, dan kelompok baik untuk kriteria minimum.

Setelah mengetahui tentang langkah-langkah di atas, kita juga perlu mengetahui kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe TAI ini. Di antara kelemahan tersebut, yaitu:

1. Membutuhkan waktu yang lama untuk membuat dan mengembangkan perangkat pembelajaran.

2. Sulit bagi guru untuk memberikan bimbingan bagi peserta didik dengan jumlah yang terlalu besar.

Selain dari kekurangan di atas, ada pula beberapa kelebihan yang dimiliki oleh model pembelajaran kooperatif tipe TAI, yaitu:

1. Mendukung terbentuknya sikap positif dari peserta didik terhadap perbedaan kemampuan akademik, maupun perbedaan latar belakang ras dan etnik.

2. Programnya mudah dipelajari oleh pendidik dan peserta didik, juga tidak memerlukan kehadiran guru tambahan, tidak mahal dan fleksibel.

3. Mendekatkan hubungan pendidik dan perserta didik, karena pendidik akan menghabiskan sebagian waktunya untuk mengajar di kelompok-kelompok yang lebih kecil.

4. Guru dapat meminimalisasi keterlibatannya dalam hal pemeriksaan dan pengelolaan rutin.

5. Membuat siswa termotivasi untuk belajar dengan cepat, dan akurat, juga menghindarkan peserta didik dari berbuat curang saat mempelajari bahan ajar dari pendidik.

 

REFERENSI:

Arsa, I Putu Suka. Belajar dan Pembelajaran: Strategi Belajar yang Menyenangkan. Yogyakarta: Media Akademi. 2015.

Daryanto, dan Mulyo Rahardjo. Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Gava Media. 2012.

Fathurrohman, Muhammad. Model-model Pembelajaran Inovatif: Alternatif Desain Pembelajaran yang Menyenangkan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2015.

Sutirman. Media dan Model-model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2013.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah