Model Pembelajaran Berbasis Masalah

A. Pengertian 

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah yang ada di dunia nyata sebagai konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dan materi pembelajaran. Adapun ciri-ciri dari pembelajaran berbasis masalah adalah pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama dan peragaan. 

B. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah

Adapun tujuan dari pembelajaran berbasis masalah ini adalah sebagai berikut:

1. Membantu peserta didik untuk mengembangkan cara berpikir dan keterampilan memecahkan masalah.

2. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.

3. Melatih peserta didik untuk menjadi pelajar yang mandiri.

C. Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Ada 3 komponen yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembelajaran agar dapat melaksanakan kegiatan, yaitu institusi, pendidik, dan peserta didik. Institusi adalah tempat yang menaungi atau tempat yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pendidik adalah orang yang mengajarkan atau memberikan pelajaran kepada peserta didik dan peserta didik adalah orang yang objek oleh pendidik untuk diajari mengenai materi yang telah disiapkan sesuai dengan jenjang pendidikan yang sedang ditempuhnya.

Dalam model pembelajaran berbasis masalah ini, setidaknya ada 5 fase atau tahapan yang mesti dilakukan oleh pendidik, yaitu:

1. Orientasi peserta didik kepada masalah.

2. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.

3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. 

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pendidik dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan sarana yang dibutuhkan, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.

2. Guru membantu peserta didik dalam merumuskan dan mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah yang dipilih (menetapkan topik, tugas, jadwal, dan lain sebagainya).

3. Guru memantau peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan, melaksanakan eksperimen atau percobaan, pengumpulan data, analisa data, atau mendeskripsikan temuan yang diperoleh terhadap penelitian yang mereka rencanakan.

4. Guru membantu peserta didik dalam menyusun laporan dan membantu peserta didik untuk berbagi tugas dengan temannya.

 

Catatan tambahan:

Model pembelajaran berbasis masalah ini berpusat kepada masalah yang ada di kehidupan nyata dan bermakna bagi peserta didik, kemudian pendidiknya berperan untuk menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, dan memfasilitasi peserta didik dalam pelaksanaan penyelidikan dan dialog.

 

Sumber referensi:

1. Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2018), h. 297 dan 300.

2. Lefudin, Belajar dan Pembelajaran (Yogyakarta: Deepublish, 2017), h. 205-210.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Tulisan Populer