Miracles in My Dream

Aku hanyalah seorang pemimpi. Tidak hanya pemimpi di bunga tidurku, tapi juga pemimpi dalam meraih impian tuk wujudkan jadi nyata.

Aku ingin menjadi perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi bahkan bisa meraih beasiswa. Beasiswa ke luar negeri kalau bisa.

Aku lihat poster gedung Oxford di sana …. Kadang aku menggerakkan tanganku menyerupai potret kotak seolah memegang kamera. Atau bahkan aku loncat-loncat di kasur untuk menggapai poster Oxford yang aku tempel rada tinggi. Setinggi impian bersekolah di sana yang kugantung.

Maudy Ayunda adalah Inspiratorku. Dia sudah lebih dahulu merasakan sekolah di sana. Nama kami hampir senada. Dia Maudy, Aku Audy. Beda sedikitlah …. Kami sama-sama tinggal di Jakarta, walau mungkin dia sekolah lebih elit dibanding aku yang cuma bisa merasakan sekolah pinggiran bahkan.

Lirik lagu Maudy Ayunda – Kejar Mimpi membuat aku semakin yakin kalau cita-citaku bisa aku genggam untuk aku raih.

Aku percaya kalau imajinasiku tak hanya di kepala tapi juga bisa diwujudkan untuk aku terbang juga dinikmati oleh mata indah warnanya.

Imaji merasakan lingkungan negara Inggris begitu kental aku rasa seperti berhembus merasuk terasa oleh tubuh.

 

Kan kukejar mimpi

Dan kuterbang tinggi

Tak ada kata tidak ku pasti bisa

Kan kucoba lagi

Ditemani pagi

Tak ada yang tak mungkin

Ku pasti bisa

 

Lagu itu seperti ada support system yang membangkitkan hormon Dopamin untuk membuat aku semakin terus semangat untuk tetap percaya.

“Audy, udah sore. Ayo makan dulu, Nak! Udah Mama masakkin spaghetti sesuai requestmu,” ajak Mama teriak dari dapur.

 “Iya Mah, tanggung filmnya udah hampir selesai …,” jawabku menunda gerak.

 “Kalau kamu nggak cepet makan spaghettinya, jangan salahin ya kalau nanti diabisin sama si Rio,” imbuh Mama selanjutnya.

 “Ih jangan gitu dong, Ma! Itu kan pesenanku. Iya aku ke ruang makan sekarang,” ucapku lari langsung ke ruang makan.

***

Tahun depan aku akan menghadapi ujian yang sesungguhnya. Sebenarnya aku udah mempersiapkan semua itu dari sekarang.

Terlebih kemampuan bahasa Inggris yang harus udah cas, cis, cus. Beberapa kali ujian TOEFL kemampuanku udah mencapai di angka point 550.

Aku cuma ikut versi trial yang gratisan itu juga karena aku terkendala biaya. Aku belajar bahasa Inggris juga itu dari nonton film Inggris tanpa subtitle untuk bisa lebih paham.

Adanya pandemi corona ini sebenarnya ada untung ruginya. Ruginya ya lebih jadi anak rumahan yang udah terbiasa membiasakan diri berteman dengan bosan.

Untungnya adalah ngirit uang banyak hal, jadi bisa meringankan beban orang tua. Semua yang aku lakukan memanfaatkan Wifi unlimited yang membuat menjadi irit.

Selain itu, pandemi corona membuat aku nggak bisa bertemu dengan teman-teman seperti sebelumnya. Sisi positifnya, aku jadi lebih dekat dengan media online.

Hampir setiap hari aku selalu ikut dengan tambahan event seperti seminar juga webinar. Aku juga aktif menulis di literasi online.

Itu kenapa aku mendambakan untuk melanjutkan minat bakat aku di bidang literasi dengan mengambil jurusan literature di Oxford kelak.

 *** 

“Ma, Papa di mana?” tanyaku kepada Mama sembari duduk di sebelah Mama yang sedang asik baca berita di gawainya.

 “Papa tadi bilang izin sebentar ke luar mau cukur rambut. Udah gondrong, brewokkan pula. Kayak Mama nggak urus aja,” ucap Mama.

 “Oh gitu …. Hmmm, lama nggak Ma pulangnya?”

 “Emang ada apa sih? Nggak bisa tanya Mama aja?”

 “Mau izin Ma, ikut course online di Oxford. Biar lebih belajar bahasa Inggris memperlancar dari sekarang gitu sekalian adaptasi. Mumpung semua online, kan ya manfaatin,” jawabku menjelaskan.

 “Aduh kalau soal uang konsultasi Papa aja. Mama ngurus uang belanja aja udah pusing.”

 “Ya udahlah, Audy ke kamar aja dulu sambil nunggu Papa pulang. Suara motornya juga nanti pasti kedengaran.” Aku akhirnya memutuskan melengos ke kamar supaya nggak wasting time lalu memilih mending lanjut nonton film Inggris lagi aja.

 ***

 Aku membenarkan scarf yang aku pakai menutupi swater menjuntai ala fashion orang Inggris di sini. Hembusan angin di sini sungguh menenangkan.

Aku mengambil duduk salah satu posisi di bangku taman bercatkan putih sambil melihat banyak bunga bermekaran dengan indah.

Aku hirup dalam-dalam ketenangan yang ada. Indah ya bisa berada dalam tempat yang dulunya hanya gambar 2D yang aku tempel di tembok.

Kini benar nyata semua itu terhampar di depan mata. Gedung Oxford itu aku bisa nikmati fasilitasnya dalam menunjang pembelajaran yang ada.

Aku sedang mendengarkan lagu Miracles – Coldplay pada earphone di telingaku sembari aku menikmati ketenangan ini ….

 

From up above I heard

The angels sing to me these words

Sometimes in your eyes

I see the beauty in the world

 

Tak sengaja ada kertas putih datang menyapaku diiringi pria bule yang juga mengejarnya.

 “Thank you for your help,” say him.

 “Pleasure, happily I can help you, Sir,” talk me still smiling.

 “Are you Indonesian?” ask he.

 “Sure, you’re true,” answering me.

 “You’re so kindly, nice person like artist Maudy Ayunda who am I know.”

 “She is a great artist in Indonesia. She is my idola too,” reply me.

 “You’are so beautiful like her.”

 “Thank you so much.”

Kami melanjutkan perkenalan manis kami hingga berganti waktu tak terasa malam hari. Aku ditraktir cappuccino olehnya, aku merasa senang sekali hari ini.

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Des 5, 2020, 10:38 PM - Silivester Kiik
Penulis

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah