Menjadi Puisi

 

 Pagi ini kembali terdengar jeritan yang biasa Budiman lantunkan sebelum makan.

“Ya Allah... Ya Allah... apakah Kau mendengar teriakanku? Pagi ini aku mau sarapan roti dan susu. Maukah Kau menemaniku?” Begitulah yang ia lantunkan pagi ini menjelang sarapan. Bukannya doa makan.

Budiman tinggal sendiri di kamar kost ukuran 3 x 4 di kota, orang tuanya di kampung, bertani di lahan milik orang lain. Budiman menjadi tukang bersih-bersih di kampus tempat ia kuliah. Dia tidak dibayar, namun dengan itu kuliahnya digratiskan dan mendapat nasi bungkus saat jam makan siang juga mendapat uang saku 200 ribu per bulan. Uang sebesar itu tak mungkin cukup untuk kebutuhannya sehari-hari, apalagi dia perokok. Untuk sehari-hari dia hanya mengandalkan puisi-puisinya untuk mendapat uang, dan agar minimal bisa sarapan dengan roti bukan mi instan.

Setelah sarapan dia bergegas ke kampus, untuk kuliah dan lebih dulu untuk bersih-bersih.

“Tak usah jemput aku, Don. Aku naik ojek.” Dia mengirim pesan singkat kepada Doni, rekannya yang juga seprofesi. Doni biasanya menjemput Budiman.

“Oke. Sering-sering saja begini. Jadi aku nggak harus muter-muter jemput kau.” Doni paham betul kalau Budiman sedang punya uang. Karena dialah yang selalu mengantar Budiman saat mengambil honor puisi-puisinya.

Tukang ojek yang membawa Budiman melaju menuju Kampus tempatnya bekerja dan berkuliah. Sampai di tengah jalan, Budiman menyuruh si tukang ojek berbalik arah menuju tempat kosnya. Ada sesuatu yang tertinggal rupanya. Sampai di tempat kosnya dia mengambil sebuah buku bersampul biru langit dan sebuah pena yang nyangsang di buku itu.

“Mau kuliah kok sampe lupa bawa buku, Bang,” ledek si tukang ojek.

“Ini bukan buku pelajaran, apalagi buku tugas. Ini buku kehidupan, Pak,” ujar Budiman.

Tukang ojek bingung, tak mengerti apa maksud dari ucapan Budiman.

“Waduh, bahasanya tinggi kali, Bang. Kayak penyair saja,” ujar si tukang ojek.

“Hehe. Besok minggu bapak cobalah beli koran Andalas Pos. Di sana ada puisi-puisi saya. Dan itulah yang selama ini jadi kehidupan saya.”

Si tukang ojek hanya mengangguk dan garuk-garuk pipi. Keduanya lalu kembali melaju menuju Kampus. Saat di perjalanan, Budiman mencoba merekam perjalanan singkatnya itu dalam sebuah puisi.

Bidukku bertemu keramaian jalanan

Asap-asap kulukis dalam tiap baris

Tukang ojek yang sedang bernyanyi lagu Bohemian Rhapsody

Dan aku disuguhi debu-debu yang coba aku tangkap

Dan aku simpan dalam puisiku

...

Saat membuka lembaran berikutnya, ada sebuah amplop bertuliskan alamatnya dan tertanggal 3 hari yang lalu. Hari yang sama ketika puisi-puisinya terbit di koran Harian Pagi. Dia belum sempat membukanya saat itu. Sekarang dia baru ingat jika dia mendapat sebuah surat.

Budiman mengira ini surat dari redaktur koran. Namun, setelah dibuka. Dia melihat huruf-huruf halus agak berantakan di sana. Matanya menuju bagian pojok kanan bawah surat, tertulis: Sunarti, Ibumu. Budiman lalu membaca keseluruhan surat yang isinya memintanya untuk segera pulang. Ayahnya sakit keras dan adiknya Narsih sedang sangat tidak baik kondisinya setelah tidak bisa naik kelas karena tidak mampu membayar SPP sekolahnya di SMA.

Hati Budiman berperang. Logikanya memintanya untuk tetap pergi ke Kampus. Sebentar lagi dia akan menggarap skripsi bab 3. Namun, nuraninya berkeluh kesah dan memaksa Budiman untuk pulang ke kampung membantu Ibunya mengurus Ayah dan Narsih. Tak lama kemudian, dia meminta si tukang ojek memutar balikkan kendaraannya dan kembali pulang.

Alhasil si tukang ojek itu pun kebingungan menuruti permintaan Budiman. Dia mempertanyakannya pada Budiman.

“Lo, sudah mau sampai Kampus ini, Bang.”

“Saya libur hari ini, saya ada keperluan mendadak dengan teman di luar kota.”

“Wah, nanti bayaran saya gimana, Bang.”

“Bapak tenang saja. Saya akan bayar bapak 2 kali lipat dari tarif biasanya ditambah bonus puisi. Asal bapak jangan banyak tanya dan cepat antar saya balik. Buruan ya, Pak”

Tanpa pikir panjang, tukang ojek itu langsung tancap gas menuju tempat kos Budiman. Dan tak butuh waktu lama, mereka sampai tujuan. Budiman langsung memberikan uang ongkos yang 2 kali lipat dan puisi yang tadi baru saja ia tulis.

“Terima kasih, Bang. Eh, kalau boleh tahu, Abang ada keperluan apa di luar kota? Pasti berhubungan sama puisi ya, Bang.”

“Saya diundang pak Bupati untuk baca puisi saya di upacara Hari Pendidikan.”

“Wah, nggak nyangka saya bisa ketemu sama penyair seperti Abang ini.”

Budiman hanya tersenyum, dan menyuruh tukang ojek itu untuk segera pergi. Seperginya tukang ojek, Budiman langsung berkemas dan bersiap untuk pulang ke kampung. Dia berencana naik bus, lalu dilanjutkan naik ojek sampai ke rumahnya.

“Tolol. Kenapa aku suruh pergi tadi itu tukang ojek. Kalau begini aku harus jalan kaki ke terminal,” umpatnya pada diri sendiri.

Dia berjalan ke terminal dan naik bus tujuan kampungnya. Dia cemas bukan main. Di kepalanya terbayang ayahnya yang sudah tua dan sakit keras, Ibunya yang harus berlelah-lelah mencari uang untuk berobat ayahnya, dan Narsih yang ia bayangkan seperti orang stres.

Sampai di rumahnya, Budiman langsung masuk dan mendapati ayahnya terbaring lemah di ranjang serta Narsih yang sedang menjaganya. Namun, dia tidak mendapati Sunarti ibunya di dalam.

“Abang. Kenapa kau baru pulang. Dan aku, aku tidak naik kelas. Maafkan aku,” seru Narsih sesenggukan. Ia nampak sehat tak seperti yang Budiman bayangkan namun wajahnya penuh air mata dan jiwanya diselimuti rasa sesal.

“Iya. Abang tak masalah. Yang terpenting sekarang, di mana Ibu?”

“Ibu ada di belakang. Sebentar aku panggilkan.”

***

“Ayah sakit apa, Bu?”

“Kata Bidan Diah ayahmu sakit TBC.”

“Sudah diberi obat?”

“Sudah, tapi belum ada perubahan.”

“Ya sudah, Bu. Nanti kalau hujannya reda, kita bawa ayah ke rumah sakit.”

“Uangnya dari mana?”

“Tenang, Bu. Aku ada.”

Sunarti tidak tahu kalau Budiman sudah sohor sebagai penyair di kota, dan sering mendapat honor saat puisinya terbit di koran. Kalaupun tahu, Sunarti mana mungkin paham hal-hal semacam itu. Yang ia tahu hanya menanam padi dan mengurus rumah.

Narsih mulai berangsur membaik perasaannya setelah mendengar perkataan Budiman yang akan melunasi SPP sekolahnya supaya dia bisa naik kelas.

“Memangnya Abang dapat uang dari mana?” tanya Narsih.

“Abang jualan di kota. Kau tenang saja. Ini halal kok,” jelas Budiman sambil tersenyum.

Narsih dan Ibunya yang tak paham hanya tersenyum, tanda ketenangan.

Sambil menunggu hujan reda, ia menulis beberapa puisi di ruang tamu, sembari memperhatikan halaman rumah dan kamar ibunya. Dia kemudian menulis surat untuk Doni yang isinya mengenai kepulangannya ke kampung dan tentang dirinya yang tak akan lagi menulis puisi. Dan pesan agar dia mengambil honor puisinya yang akan terbit minggu besok dan juga agar mengantarkan ke enam puisinya ke kantor redaksi Harian Ahad. Dan itu akan menjadi puisi terakhirnya.

Dia tersenyum saat membaca ke enam puisinya itu. Dan segera ia mengemasinya ke dalam amplop, yang rencananya akan ia bawa ke kantor pos yang dekat dengan rumah sakit tempat ayahnya nanti akan ia antarkan untuk berobat. Dalam benaknya aneh, lucu dan juga haru, seorang yang sudah dikenal sebagai penyair oleh satu kampus bahkan satu kota akan berhenti menulis puisi dan hanya akan menjadi petani di kampung sambil menyelesaikan skripsinya.

Apa jawaban yang tepat bagi pertanyaan, “Kenapa berhenti berpuisi?”

Dia mungkin akan menjawab, “Aku tidak berhenti berpuisi, aku cuma ingin menjadi puisi sebenarnya, seperti ibuku.”

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Jul 20, 2022, 5:11 PM - Imam Khoironi
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Okt 26, 2020, 4:39 PM - Fandi Ahmad syah
Agt 11, 2020, 8:53 PM - Ruang Sekolah
Penulis
Tulisan Populer