Makna Tersirat Aksara Jawa Terhadap Kepribadian Orang Jawa

Banyak dari kita orang Indonesia terutama yang tinggal di Pulau Jawa belum mengenal lebih dalam mengenai Aksara Jawa.

Ketika kita menduduki bangku sekolah mulai SD hingga SMA pasti diajarkan mata kuliah bahasa Jawa dan salah satunya membahas Aksara  Jawa atau disebut  huruf Jawa ( Ha Na Ca Ra Ka).

Namun tau kah kalian bahwa ternyata Aksara Jawa memiliki makna mengenai kepribadian orang Jawa . 

Berdasarkan mitos yang melegenda Aksara Jawa sendiri konon diciptakan oleh Ajisaka yang menandakan bagian dari hati yang jernih dalam arti bahwa kehidupan yang baik dapat menjadi cerminan pembeda dari hati yang kotor seperti Dewata Cengkar yang merupakan musuh dari Ajisaka, hingga suatu hari Ajisaka mengadakan acara Udheng hal ini bertujuan memberikan paham terhadap mana hal baik dan buruk suatu perbuatan, Ternyata Aksara jawa mengandung etos yang bisa uraikan sebagai berikut.

Baca Juga: Mengapa Harus Belajr Bahasa Arab? Ini Alasannya

Pada baris pertama ada huruf Ha Na Ca Ra Ka mempunyai arti “ ana utusaning pangeran” (adanya utusan Tuhan).Yaitu manusia manusia diciptakan oleh  Tuhan untuk membuktikan kebesaran Tuhan dan menjaga kelestarian hidup yang meliputi dua bentuk yaitu kelestarian dalam diri sendiri ( jiwa dan raga) dan kelestarian alam semesta.

Kebesaran abadi hanya dimiliki oleh Tuhan jadi manusia tidak boleh sombong terhadap dirinya dan harus selalu bersyukur atas segela karunia yang diberikan Tuhan dan harus di gunakan sebaik mungkin agar bermanfaat bagi orang lain 

Gambar huruf Aksara Jawa

Selain itu hubungan interaksi sosial yang baik terhadap manusia juga perlu di terapkan untuk kelestarian hidup manusia.Secara tersirat Aksara Jawa juga mengingatkan kepada manusia untu menjaga lingkungan dengan tidak merusak alam karena hal itu dapat menimbulkan kerusakan kelestarian hidup manusia.

Baca Juga: Kuliah Tidak Harus Masuk Kampus, Belajar Di sini dan Peluang Kerja Besar!

Di baris kedua ada huruf Da Ta Sa Wa La mempunyai arti“ora bisa suwala kabeh wus ginaris kodrat” (tidak bisa diingkari bahwa semua sudah menjadi kodrat dari Tuhan) .

Jadi maksud dari kalimat tersebut ialah segala hal yang ada di dunia ini sudah ditakdirkan  oleh Tuhan , manusia hanya menjalani peran hidupnya yang telah digariskan.

Seperti prinsip orang Jawa yaitu “nerima ing pandum”  jadi kita sebagai manusia harus menerima apa pun yang telah diberikan Tuhan.

Akan tetapi jika kita dalam kesusahan maka tidak boleh menyerah begitu saja melainkan harus berusaha maksimal untuk mewujudkan hidup yang diinginkan tetapi jika tidak sesuai dengan yang diharapkan maka kita sebagai manusia harus menerima dengan ikhlas.

Baca Juga: Mengenal Dekat Budaya Tachiyomi di Jepang

Pada huruf baris ketiga yang terdiri dari ” Pa Dha Ja Ya Nya” mempuyai arti “ kanthi tetimbangan kang padha sak jodho anane “ ( Tuhan menciptakan susuatu di dunia dengan pertimbangan dan berpasangan) makna dari kalimat tersebut yaitu Tuhan menciptakan segala hal didunia ini dengan pertimbangan yang adil , contohnya adanya siang dengan malam, hidup dan mati.

Demikian juga dengan keadaan manusia bagaikan roda yang berputar kadang diatas kadang pula dibawah ,ketika mengalami kesusahan pasti suatu saat akan menemukan kemudahan lalu kesedihan suatu saat akan tergantikan oleh kebahagian, makna dari berpasangan berarti bahwa untuk meneruskan kelestarian hidup maka manusia harus menikah sesuai kodratnya yaitu laki laki dengan perempuan. Jadi makna dari ” Pa Dha Ja Ya Nya” ialah  keseimbangan dalam kehidupan.

Dan yang terakhir “ Ma Ga Ba Tha Nga” mempunyai arti “ manungsa kinodrat dosa, lali, luput, apes,lan mati “ ( manusia pasti memiliki dosa , lupa, kesalahan, kesialan dan mati”.

Jadi tidak ada manusia yang sempurna pasti memiliki kesalahan dan kita tidak boleh menghakimi kekurangan orang lain.

Tetapi manusia juga harus ingat dan waspada dalam melakukan perbuatan agar tidak terjadi kesalahan yang tidak hanya merugikan diri sendiri, lingkungan dan orang lain.

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Aksara Jawa tidak hanya memiliki makna bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain bahkan alam semesta.

Adanya makna tersebut bukan hanya sekedar istilah kosong tanpa arti , justru tanpa kita ketahui betapa sakralnya kandungan nilai moralitas dalam Aksara Jawa sehingga pemahaman makna tersebut dipahami dengan harapan dapat menjadi pedoman perilaku yang lebih mementingkan keutamaan hidup manusia .

Melalui Aksara Jawa pula adab perilaku kehidupan penduduk  suku Jawa memiliki prinsip kehidupan yang bisa di bilang pasrah dan sabar menerima kenyataan dengan berlapang dada, beberapa wilyah di Jawa seperti Yogyakarta dan Jawa tengah warganya memiliki karakteristik yaitu pembawaan sikap dan pembicaraan yang halus dan lembut.

Orang Jawa juga masih ada yang menyakini dunia spiritual meskipun zaman sudah modern.  Selain itu kepribadian yang berserah diri, dan mempercayai takdir tertulis lengkap pada penulisan Aksara Jawa yang menjadi penghubung kehidupan berdasarkan keyakinan spiritual, yang menata kedekatan manusia dengan sang pencipta alam semesta.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles