Makalah Teknik Penyusunan Karangan Umum

MAKALAH 

TEKNIK PENYUSUNAN KARANGAN UMUM

Disusun guna memenuhi tugas harian pada mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah

Teknik Penyusunan Karangan Umum

 

Disusun oleh:

Arief Santoso (1930611130)

 

 

 

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI

2020

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teknik Penyusunan Karangan Umum.” Tak lupa salawat serta salam dijunjungkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yang kami nantikan syafaatnya di hari akhir nanti.

Ucapan terima kasih penyusun haturkan kepada dosen Bahasa Indonesia untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, atas segala ilmu yang diberikan sehingga penyusun dapat memahami, memanfaatkan dan mengembangkan wawasan dan pengetahuannya. Tak lupa penyusun haturkan kepada rekan mahasiswa yang telah membantu dan mendukung dalam bentuk riil maupun materiil, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini secara efektif dan terperinci.

Makalah ini disusun guna memaparkan teknik penyusunan karangan dari dasar sampai dapat menyusun secara detail dan jelas. Pemaparan ini juga perlu kritik dan saran yang membangun agar penyusun dapat menyusun dan memaparkan wawasan dan pengetahuannya dengan baik.

Terima kasih atas segala perhatiannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya.

 

Sukabumi, 8 Juni 2020

 

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Perbedaan itu terletak pada kemampuan berpikir yang dimiliki manusia, kemampuannya berbahasa dan berbudaya. Dengan kemampuan berpikirnya, manusia menciptakan kebudayaannya dan kebudayaan itu diturunkan ke generasi berikutnya melalui bahasa.

Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.

Menulis dan berpikir merupakan dua kegiatan yang dilakukan secara bersama dan berulang-ulang. Dengan kata lain, tulisan adalah wadah yang sekaligus merupakan hasil pemikiran. Melalui kegiatan menulis, penulis dapat mengkomunikasikan pikirannya. Melalui kegiatan berpikir, penulis dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang baik, setiap penulis hendaknya memiliki tiga keterampilan dasar dalam menulis, yaitu keterampilan berbahasa, keterampilan penyajian dan keterampilan perwajahan. Ketiga keterampilan ini harus saling menunjang atau isi-mengisi.

Mengarang tidak hanya dan tidak harus tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara misalnya, dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta merta otaknya terlebih dahulu harus mengarang sebelum mulutnya berbicara.

Namun, kata ‘menulis’ dan ‘mengarang’ mempunyai persamaan dan perbedaan. Secara garis besar, memang seperti sama secara tekstual tetapi sedikit berbeda dalam kontekstualnya. Persamaannya adalah sama-sama kegiatan mengungkapkan gagasan. Baik penulis maupun pengarang sama-sama menyampaikan gagasannya lewat huruf dan tanda baca. Sedangkan perbedaannya adalah jika menulis menghasilkan tulisan yang berlandaskan data dan fakta, dan mengarang menghasilkan sebuah karangan yang biasanya bersifat fiktif. Namun, adapula karangan yang berbentuk ilmiah, menyimpulkan data dan fakta layaknya tulisan, dan lain sebagainya.

Pada makalah ini, penyusun akan memaparkan bagaimana konsep karangan yang sebenarnya, dimana di khalayak ramai sering menyebutkan bahwa tulisan dan karangan adalah sama, padahal keduanya ada perbedaan. Harapan dari penyusunan makalah ini agar meluruskan pemahaman tentang tulisan dan karangan, menambah wawasan dan pengetahuan akan dunia tulisan dan karangan serta sebagai landasan mahasiswa terkait untuk menyusun tulisan atau karangan.

1.2 Rumusan Masalah

a)        Bagaimana para ahli memberikan pemahaman tentang karangan?

b)        Bagaimana langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menyusun karangan?

c)        Bagaimana pengarang memerhatiakan hal-hal yang harus dipersiapkan dalam penyusunan karangan?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penyusunan

a) Tujuan Penyusunan

1)        Sebagai pemenuhan tugas harian mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah;

2)        Sebagai penambahan materi yang telah tersusun dalam silabus mata kuliah;

3)        Sebagai landasan bagi para mahasiswa terkait guna mempermudah penyusunan karangan ilmiah ke depannya.

b) Manfaat Penyusunan

1)        Bagi dosen pengampu, diharapkan makalah ini dapat berguna sebagai pemenuhan materi dalam silabus mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, serta pemanfaatannya sebagai bahan diskusi kepada mahasiswa, akademisi atau pembaca pada umumnya;

2)        Bagi mahasiswa umum, diharapkan memenuhi wawasan dan pengetahuan, pemahaman tentang menulis dan mengarang, serta melatih keterampilan yang tercantum dalam makalah ini;

3)        Bagi mahasiswa khusus, makalah ini diharapkan membawa manfaat dalam pembelajaran dan penambah wawasan dan pengetahuan, serta sebagai objek diskusi yang akan dilaksanakan;

4)        Bagi pembaca, makalah ini diharapkan sebagai pemenuh informasi dan peningkatan pemahaman tentang kegiatan menulis dan mengarang. Harapan selanjutnya guna meningkatkan semangat dalam berkarya, baik di dalam tulisan maupun karangan.

1.4 Batasan Masalah

Makalah ini hanya membahas tentang latar belakang menulis dan mengarang, definisi dan konsep secara singkat, langkah-langkah dan metode, serta hal-hal yang terkait dengan tingkat kualitas karangan yang disusun. Selebihnya akan dijelaskan oleh penyusun selanjutnya.

BAB II

KERANGKA TEORITIK

2.1 Definisi Karangan dan Konsep Penyusunan Karangan

Pada umunya, karangan dipandang sebagai suatu perbuatan atau kegiatan komunikatif antara penulis dan pembaca berdasarkan teks yang telah dihasilkan (Ahmadi, 1998:20). Karangan seringkali disamakan dengan tulisan yang bersifat fiksi atau non-fiksi, padahal tidak selamanya karangan berbentuk fiksi, tidak pula berbentuk non-fiksi. Selagi karangan tersebut dapat diterima oleh pembaca dengan penyampaiannya yang menarik, maka sebutan ‘karangan’ sah untuk disematkan. Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh penyusun, bahwa karangan adalah wadah, sarana, ruang untuk berbagi pemikiran, perasaan dan gagasan yang berbentuk lisan maupun tulisan. Karangan lisan biasanya berupa diskusi, orasi, ceramah dan pidato. Karangan tulisan biasanya berupa opini singkat, cerita fiksi, resensi, realisasi atau perencanaan dan lain sebagainya.

Beberapa definisi tentang karangan menurut para ahli sebagai berikut;

1.    Sirait, dkk (1985: 1) memberi batasan pengertian karangan adalah setiap tulisan yang diorganisasikan yang mengandung isi dan ditulis untuk suatu tujuan tertentu biasanya berupa tugas di kelas;

2.    Widyamartaya (1990) mengatakan bahwa mengarang dapat dipahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami dengan tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang;

3.    Keraf (1994: 2), menjelaskan bahwa karangan adalah bahasa tulis yang merupakan rangkaian kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat, paragraf dan akhirnya menjadi sebuah wacana yang dibaca dan dipahami.[1]

 

Karangan juga merupakan karya tulis hasildari kegiatan atau aktivitas seseorang untuk mengungkapkan gagasan serta menyampaikannya dengan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Pengertian karangan ini ialah sebuah karya tulis yang mengungkapkan pikiran atau juga gagasan pengarang dalam satu kesatuan yang utuh. Atau lebih singkatnya, karangan merupakan suatu hasil rangkaian hasil pikiran atau ungkapan perasaan yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan.

Secara pemahaman pribadi, apa yang disebut karangan adalah sebuah karya tulis yang berasal dari pemikiran, gagasan serta perasaan dan penjiwaan yang ingin disampaikan kepada khalayak guna mengkomunikasikan apa yang sudah dialami, dirasakan dan didapatkan dari berbagai sumber.

2.2 Langkah-langkah yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan Karangan

Setiap pekerjaan atau kegiatan pasti memerlukan kerangka yang harus disertai dengan langkah pasti. Dalam mengarang juga terdapat kerangka dan langkah-langkah yang tepat, juga berbagai metode yang akan dipaparkan dalam makalah ini.

Langkah-langkah dalam mengarang dapat dibagi menjadi tiga, yaitu perancangan, pengumpulan dan eksekusi. Perancangan merupakan sebuah langkah pra-penyusunan yang harus dilakukan dengan tujuan memaksimalkan sistematika penyusunan, meminimalisir pelebaran pokok bahasan, memudahkan pengarang dalam mendeskripsikan gagasan, tata letak konsep, penggunaan outline dan tujuan penyusunan. Tahap perancangan ini dibutuhkan agar pengarang tidak keluar dari zona konsepnya, secara mudahnya dapat memberikan bayangan karangan ini akan ditulis seperti apa dan bagaimana.

Setiap penyusunan sebuah tulisan pastinya ada konsep dan kerangka, konsep dan kerangka ini dapat membantu jalannya penyusunan dengan mudah, terstruktur, rapi dan penyampaiannya maksimal, baik dari segi bahasa, diksi dan gaya bahasa yang digunakan juga harus diperhitungkan dalam menyusun karangan.

Penyusunan karangan adalah tahap kegiatan yang perlu dipelajari dalam rangka mewujudkan suatu karangan. Ada dua kemampuan yang harus diperhatikan, yaitu kemampuan menyusun draf karangan yang utuh dan kemampuan menyunting (editing) karangan. Kedua kemampuan itulah yang menjadi fokus dalam kegiatan menyusun karangan (Suparno, dkk., 2006:3.31).

Kemampuan menyusun draf karangan juga bisa disebut pembuatan kerangka atau outline, kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.

Manfaat dari penyusunan kerangka karangan ini adalah; 1) menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh dan terarah; 2) menyusun karangan secara teratur; 3) memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Jika karangan tersusun secara rapi dan sistematis serta terkonsep dengan baik, maka pembaca akan tertarik dengan karangan selanjutnya.[2]

Bersifat konseptual dalam arti pribadi, merupakan suatu karangan yang lengkap dengan unsur-unsur tulisan, adanya urutan yang sistematis juga tidak menggunakan bahasa yang bertele-tele. Suatu karangan yang berkonsep akan memunculkan karangan yang isinya jelas, tepat sasaran dan menarik. Kata menyeluruh disini adalah cakupan bahasa yang luas sehingga dapat dipahami oleh banyak orang dan pembahasannya lebih luas. Baik secara makna, penangkapan ide atau gagasan, pengumpulan data dan fakta, walaupun satu atau dua variabel yang dikaji, tetapi banyak kalimat yang menunjukkan adanya pembahasan yang meluas.

Misalnya, karangan dengan judul “Memantik Asa Orang Pesisir”, dalam judul karangan ini terdapat dua variabel yaitu ‘memantik asa’ dan ‘orang pesisir’. Dalam perspektif menyeluruh disini adalah bagaimana memunculkan bahasan yang menarik dan mencakup secara luas. Dari orang pesisir yang notabene merupakan orang-orang terpinggirkan meskipun kenyataannya sebaliknya, tetapi masih terdapat klaim yang menunjukkan bahwa orang pesisir tidak memiliki harapan hidup. Hal ini menjadi tugas penyusun karangan untuk memunculkan kreativitas dalam menyusun karangan yang menarik juga membangun.

Kata ‘terarah’ yang dimaksud bukan arahan dari siapa atau darimana, tetapi kata ini diambil dengan arti kecil. Menurut pemahaman pribadi, terarah ini bisa mendekati kata ‘terukur’ atau ‘terstruktur’, dimana suatu karangan tidak dapat berdiri tanpa adanya keilmuan, pengetahuan juga keterampilan yang harus dimiliki. Keilmuan dan pengetahuan bisa didapatkan melalui akademis dan workshop kepenulisan, sedangkan keterampilan hanya bisa didapatkan dari bakat atau minat dari individu yang hendak mengarang.

Ada juga yang mengatakan bahwa substansi dari kata ‘terarah’ adalah bagaimana pengarang tersebut membuat booming on story atau daya tarik supaya tulisannya bisa sebagus seperti ia mau. Atau dapat diartikan dengan akan dibawa kemana karangannya supaya dapat dipahami dan layak baca. Maksud dari layak baca ini adalah kosakatanya menarik dan bagus, pemilihan kata yang tepat, mentaati kaidah PUEBI dan KBBI terbaru, juga tidak melupakan ciri khas dari penulisan si pengarang.

Arti sesungguhnya teratur adalah mengikuti kaidah kepenulisan, tetapi penyusun dapat menyebutkan segala yang teratur adalah segala hal yang sistematis, jelas dan mengetahui ukuran tulisan. Apa maksudnya dari ukuran tulisan? Secara mudahnya, seseorang akan membaca tulisan kita apabila tulisan kita menarik pembaca, menyimpan hal yang misterius (dalam fiksi), pandai memainkan ide dan imajinasi, juga pengolahan katanya.

Jika objek teratur disini adalah karangan, maka tugas pengarang adalah bagaimana menciptakan sebuah karangan yang dapat memanjakan pembaca juga mendatangkan banyak pembaca, seperti halnya penulis novel atau penyair. Lihat saja bagaimana seorang Tere Liye atau penyair terkenal seperti Sapardi Djoko Damono. Mereka semua pastinya memainkan olah kata yang khas dan mampu memberikan kesan terbaik bagi pembacanya. Tak heran bila buku-bukunya diminati dan habis terjual, karena kunci dari mengarang selalu mereka pegang.

Pola kerangka atau outline dalam karangan dibagi menjadi dua yaitu pola alamiah dan pola logis. Pola alamiah sendiri merupakan suatu urutan unit-unit kerangka karangan sesuai dengan keadaan yang nyata di alam, artinya pola alamiah ini secara pasti menggunakan pendekatan berdasarkan faktor alamiah yang esensial. Sebenarnya, tampak jelas bahwa yang dinamakan pola alamiah adalah suatu pola yang pembentuk kerangkanya berdasarkan faktor alam, seperti gunung, bumi, laut, bukit, hutan dan sebagainya.

Bagaimana kita membuat kerangka dengan pola alamiah? Cara yang mudah adalah ketika kita diperintah untuk menulis suatu karangan ilmiah dan menggunakan pola alamiah, kita bisa menentukan tema, judul serta tokohnya berdasarkan apa yang terjadi di alam. Misalnya tema tentang Hutan, lalu kita memilih judul Reboisasi Hutan Penangkal Bencana Susulan lalu gunakan tokohnya manusia dan hutan. Walaupun judul dan tema hampir mirip dalam esensi, tetapi kita boleh saja menggunakan tokoh dan alur karangannya dengan sedikit menyimpang dari sudut pandang pembaca.

Pola alamiah terbagi menjadi tiga bagian yaitu;

1) Kronologis (waktu), bagian ini merupakan urutan yang didasarkan pada runtutan peristiwa atau tahap-tahap kejadian. Biasanya tulisan seperti ini kurang menarik minat pembaca. Contoh: Topik tentang Biografi seorang Penulis; kisah hidup, asal usul, kondisi hidupnya sekarang dan karir penulis.Biasanya yang seperti ini memang jarang diminati kecuali orang-orang ternama atau orang besar, seperti pahlawan nasional, tokoh revolusioner atau bahkan orang-orang yang berpengaruh terhadap kedamaian dunia.

2)  Spasial (ruang), dimana dalam bagian pola alamiah, spasial yang memiliki landasan yang penting, bila topik yang diuraikan mempunyai hubungan yang kuat dengan ruang atau tempat. Biasanya spasial bersifat deskriptif, ada juga yang naratif. Contoh:

a. Topik tentang Hutan yang Sering Mengalami Kebakaran

-  Menyatakan tempat dimana hutan yang sering mengalami kebakaran, misal Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

b.  Topik tentang Para Pujangga Muda yang Menggetarkan Dunia

-  Menjelaskan tentang darimana pujangga itu berasal, misal Persia, Yunani, Indonesia, dll.

3) Berdasarkan topik yang ada, merupakan suatu pola peralihan yang dapat dimasukkan dalam pola alamiah. Suatu peristiwa sudah dikenal dengan bagian-bagian tertentu. Jadi, dapat berupa alamiah dan spasial digabung menjadi satu pola tertentu. Dalam penyusunan karangan dengan metode topik yang ada, biasanya memiliki sifat ajakan menuju ruang, deskriptif-narasi, juga dapat dikatakan sebagai pelengkapan topik yang sudah disediakan secara kompleks.

Pola logis dapat diartikan sebagai tanggapan yang sesuai dengan jalan pikiran untuk menemukan landasan bagi setiap persoalan, mampu dituang dalam suatu susunan atau urutan logis. Urutan logis sama sekali tidak ada hubungan dengan suatu ciri yang intern dalam materinya, tetapi erat dengan tanggapan penulis. Pola logis ini menggunakan pendekatan berdasarkan jalan pikir atau cara pikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika. Pola logis dapat dibagi menjadi enam komponen yaitu;

1)        Klimaks dan Anti-Klimaks

2)        Kausal

3)        Problem Solving

4)        Umum-Khusus

5)        Familiaritas

6)        Akseptabilitas.[3]

 

Contoh sebuah kerangka atau outline yang telah disusun oleh penyusun guna karangan non-fiksinya;

 

Nama Komponen

Perancangan Penyusun

Keterangan

Tema

Self Improvement

Tema ini diajukan guna menambah wawasan terhadap self improvement and motivation yang sedang populer di masa kini.

Judul

Berdiri di Ujung Jari

Judul ini diajukan guna mengetahui bagaimana keluar dari zona terpuruk sampai akhirnya menemukan jatidiri, potensi diri hingga kelebihan yang tersembunyi dan dapat berdiri sendiri tanpa melupakan jasa orang-orang sekitar.

Tokoh

Personal dan Kawan-kawan yang tidak bisa disebut namanya

Terdapat hal yang tidak dapat dijelaskan mengenai tokoh dalam penyusunan ini.

Dan seterusnya

---

----

 

Langkah selanjutnya adalah pengumpulan data. Dalam pengumpulan data ini dapat dilihat dari apa dan bagaimana unsur intrinsik dan ekstrinsik ini dapat menyatu dengan baik dan menarik untuk dibaca. Artinya, jika sisi menarik dari karangan tersebut lebih banyak dibanding dengan hal-hal yang cringe atau mudah untuk dibaca dengan pikiran semata, bisa saja karangan tersebut hanya seperti tulisan biasa yang membosankan. Dapat pula memerhatikan hal-hal yang menurut pengarang ini dapat menggugah semangat khalayak untuk terus membaca, dan ini menjadi tugas besar pengarang untuk melatih kemampuan dalam membaca keinginan masyarakat guna  menggalakkan gemar membaca.

Teknik pengumpulan data dalam penyusunan karangan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan reseacrh all-element dan face-to-face research.Teknik research all-element adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara meneliti semua unsur yang layak dimasukkan ke dalam karangan dan biasanya dapat dilakukan secara ­in home atau outdoor. Maksud dari in home disini adalah pengarang dapat meneliti dari referensi pustaka, internet atau yang lainnya, sedangkan outdoor disini adalah penelitian dengan cara riset lapangan, seperti wawancara, observasi, studi kasus dan sebagainya.

Kelebihan pada teknik ini adalah pada pelaksanaannya yang hanya memakan waktu lebih singkat karena hanya dengan membaca, meriset sendiri dan menuangkan segala pemikirannya dengan mudah. Namun, kelemahannya adalah data yang diambil biasanya bersifat semu dan relatif kurang autentik, karena tercampur dengan pemikiran dan pengalamanya dalam meneliti atau bahkan pernah mengalami hal yang ada di dalam referensi pustaka dan yang lainnya.

Teknik face-to-face research adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara studi kasus di lapangan, dengan cara wawancara, observasi, studi banding dan sebagainya. Dalam ­face-to-face research ini pengarang akan melakukan perbincangan secara langsung kepada objek yang akan dimasukkan ke dalam karangannya. Teknik ini memiliki kemudahan dan kesulitan dalam pelaksanaannya, dimana sisi mudahnya adalah data yang diambil bersifat objektif dan autentik, sementara sisi sulitnya adalah pengorbanan waktu dan persiapan dari pertanyaan, argumentasi, pencatatan atau perekaman.

Biasanya, untuk pengarang yang bersifat ilmiah akan mengambil teknik face-to-face research, karena dalam penyusunan karangan ilmiah, data yang diambil harus bersifat autentik dan harus objektif kecuali dalam skala statistika yang menindaklanjuti penelitian. Walaupun dalam penyusunan karangan non-ilmiah juga ada yang melakukan teknik ini, tetapi boleh saja ketika pengarang ingin hasil karyanya ingin membuat pembacanya masuk ke dalam cerita dalam karyanya tersebut.

Membahas tentang metode yang harus diperhatikan dalam mengarang sebenarnya hanyalah kita sebagai pengarang dapat memaksimalkan wawasan tentang kepenulisan dan tata bahasa, memperbanyak jaringan dalam mendapatkan ilmu kepenulisan dan secara teknisnya adalah penangkapan ide, memahami situasi dan kondisi yang bagus untuk dikarang juga tidak melupakan kaidah, konsep, referensi dan refleksi karya dari setiap pengarang.

Jadi, pada intinya adalah ketika kita ingin mengarang dengan baik dan benar, kuasai kaidah kepenulisan, kuasai tentang ilmu bahasa dan kepenulisan, membiasakan diri dengan menulis dan membaca serta jangan sampai karangan kita hanya menjadi penghias jendela hidupmu.

2.3 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan Karangan

Adapun dalam penyusunan karangan akan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan tersebut, misalnya dari unsur, konsep dan poin-poin yang ingin disampaikan oleh pengarang.

Dilihat dari ciri-ciri sebuah karangan adalah sebagai berikut;

1. Jelas serta mudah dipahami oleh pembaca. Artinya, jangan menggunakan kata-kata yang kurang dimengerti oleh pembaca, boleh menggunakan kata yang kurang dimengerti tetapi gunakan footnote guna memperjelas kata tersebut.

2. Memiliki kesatuan yang baik, maksudnya tiap-tiap kalimat penjelasnya logis serta mendukung ide utama paragraf.

3. Memiliki organisasi yang baik, maksudnya tiap-tiap kalimat tersusun dengan urut serta logis, atau dalam ruang lingkup yang dibahas.

4. Efisien dan Ekonomis, keefisienan ini dibutuhkan pembaca supaya lebih mudah menangkap isi dalam karangan.

5. Menggunakan bahasa yang mudah diterima serta dipahami pembaca.[4]

Namun, hal tersebut hanya secara garis besar dalam penyusunan karangan. Misalnya dalam skema teoritik dan sistematikanya, secara teori memang penyusunan harus memerhatikan segi bahasa, kesesuaian kata, intrepetasi pembaca apalagi karangan sekarang sudah mengalami perkembangan, serta berbagai hal yang sering disepelekan. Maksudnya, penyusunan karangan ini memang perlu research jika berbentuk fiksi bercerita dan karangan ilmiah. Dalam penyusunan novel saja, riset pada unsur intrinsik seperti tokoh, latar dan sebagainya harus diperhatikan agar pembawaan yang terdapat pada karangan tersebut akan masuk ke dalam imajinasi pembaca. Hal ini yang menjadi titik fokus dan magnet terhadap penyusunan karangan.

Ketika hal-hal yang diperhatikan ini dapat diterima oleh pengarang siapapun itu, hasil karangannya dapat terjamin akan mudah diterima dan memiliki nilai kebanggaan tersendiri bagi pengarangnya. Dalam hal penyusunan karangan ilmiah pun, banyak sekali yang harus diperhatikan dan banyak dilupakan oleh pengarang atau pada orang-orang yang senang mengarang atau juga mendapat tugas dalam mengarang tulisan.

Dalam penyusunan karangan ilmiah seperti makalah dan jurnal, biasanya terdapat kode dan sistematika penulisan yang harus diperhatikan, seperti kata pengantar, daftar isi, pendahuluan sampai daftar pustaka. Pada riset yang penyusun kaji setiap ia menyusun sebuah karangan, hal yang harus diperhatikan adalah ketika mengutip sebuah bacaan dari referensi apapun, mulai dari pustaka atau internet. Pedoman yang harus dipegang adalah jangan mengutip tanpa mencantumkan nama penulis dan judul buku, jika di internet cantumkan website-nya serta tanggal pengutipan. Ini bukan berarti harus mematuhi aturan tersebut, tetapi ada hal yang patut diperhatikan, yaitu menghargai usaha penulis.

Hal ini yang sering kita lupakan ketika penulis telah mengerahkan semua usahanya untuk membantu penyusunan karangan, tetapi justru tidak mendapatkan apresiasi apapun, salah satu pencantuman dalam karangan yang disusun. Berdasarkan penelitian yang penyusunan lakukan ketika melakukan penyusunan naskah dan artikel, biasanya ada satu atau dua kalimat yang dikutip dari tulisan orang lain. Dalam pengutipan ini, seringkali dilupakan oleh beberapa mahasiswa dan pelajar bahwa mengutip ini ada etikanya, dapat dilakukan dengan meminta izin kepada penulis atau mencantumkan nama dan karyanya.

Jadi, sistematika dalam penyusunan karangan ini dapat dilakukan dengan prepare(persiapan dan perencanaan penyusunan), research (penelitian dan pengumpulan data), filtration(penyaringan data yang sesuai untuk diambil), process(penyusunan karangan) and evaluate(penyuntingan dan perbaikan). Unsur tersebut dapat digunakan dalam karangan ilmiah maupun fiksi, guna membangun karangan yang bersifat ideal, autentik serta memberikan kesan terbaik bagi pembaca. Kelima unsur tersebut diambil dari beberapa kebiasaan penulis, pengarang, jurnalis dan behaviour terkait yang dilakukan oleh semua orang.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Karangan juga merupakan karya tulis hasil dari kegiatan atau aktivitas seseorang untuk mengungkapkan gagasan serta menyampaikannya dengan melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Secara pemahaman pribadi, apa yang disebut karangan adalah sebuah karya tulis yang berasal dari pemikiran, gagasan serta perasaan dan penjiwaan yang ingin disampaikan kepada khalayak guna mengkomunikasikan apa yang sudah dialami, dirasakan dan didapatkan dari berbagai sumber.

Langkah-langkah dalam mengarang dapat dibagi menjadi tiga, yaitu perancangan, pengumpulan dan eksekusi. Pada langkah-langkah ini diperlukan sebuah teknik yang bernama menyusun kerangka karangan. Penyusunan karangan adalah tahap kegiatan yang perlu dipelajari dalam rangka mewujudkan suatu karangan.

Manfaat dari penyusunan kerangka karangan ini adalah; 1) menjamin penulisan bersifat konseptual, menyeluruh dan terarah; 2) menyusun karangan secara teratur; 3) memudahkan penulis menciptakan klimaks yang berbeda-beda. Jika karangan tersusun secara rapi dan sistematis serta terkonsep dengan baik, maka pembaca akan tertarik dengan karangan selanjutnya.

Sistematika dalam penyusunan karangan ini dapat dilakukan dengan prepare (persiapan dan perencanaan penyusunan), research (penelitian dan pengumpulan data), filtration (penyaringan data yang sesuai untuk diambil), process (penyusunan karangan) and evaluate (penyuntingan dan perbaikan).

B. SARAN

Dalam penyusunan makalah teknik penyusunan karangan umum, tentunya memiliki kekurangan yang perlu untuk dikaji guna menambah kemampuan penyusun dalam menyusun makalah dan menambah pengetahuan kepada pembaca yang terus mengasah, menyokong dan mendukung penyusun supaya dapat memberikan makalah yang baik, menarik serta bermanfaat bagi pembaca.

Dengan demikian, penyusun memohon maaf atas kesalahan kata atau kurangnya pemahaman dalam pemaparan makalah ini, penyusun meminta saran yang membangun guna penyusunan lebih lanjut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://rudijunti20.blogspot.com/2018/01/makalah-penyusunan-karangan.html?m=1 diakses pada 14/04/2020; 13:32 WIB

http://dewirahmawati001.blogspot.com/2013/11/materi-outline-karangan.html?m=1 diakses pada 14/04/2020; 13:32 WIB

https://pendidikan.co.id/pengertian-karangan-ciri-unsur-jenis-beserta-langkah diakses pada 14/04/2020; 19:12 WIB

 


[1]Dikutip dari web blog https://rudijunti20.blogspot.com/2018/01/makalah-penyusunan-karangan.html?m=1

[2]Dikutip dari web blog http://dewirahmawati001.blogspot.com/2013/11/materi-outline-karangan.html?m=1

[3]Dikutip dari web blog http://dewirahmawati001.blogspot.com/2013/11/materi-outline-karangan.html?m=1

[4]Dikutip dari situs web https://pendidikan.co.id/pengertian-karangan-ciri-unsur-jenis-beserta-langkah

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah