Makalah Ilmu Makki dan Madani Lengkap

MAKALAH 

ILMU MAKKI DAN MADANI

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur‘an yang diampu oleh Bapak Moh. Zahid, DR. H,M. AG

 

Oleh:

Nur ‘Aini                    :18382042105

Sauqi Romdani        : 18382041134

Ach. Maulana Azizi :18382041007

  

JURUSAN HUKUM EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS SYARIAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN ) MADURA

 

2018

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarganya dan para pengikutnya yang setia sampai hari kiamat.

Alhamdulillah Wasyukurillah berkat Rahmat dan Hidayah Allah SWT, kami dapat menyelesaikan tugas Makalah ULUMUL QUR’AN yang membahas tentang Ilmu makki dan Madani. Apabila terdapat di dalamnya kekurangan dan kesalahan dalam penjelasannya. Mohon dimengerti dan dipahami, bahwa kami adalah insan yang sangat lemah akan kecerdasan dan sangat kurang akan kesempurnaan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah ULUMUL QUR’AN dengan harap semoga Dosen pengampu, dapat memberikan kritik dan saran agar makalah ini penuh dengan pelajaran yang dapat kami ambil, sehingga biasa menjadi cermin untuk tugas berikutnya, dan kami mengucapkan banyak terimakasih atas bimbingannya, semogaDosen pengampu dapat memberikan keikhlasan dalam membimbing, agar kami mendapatkan kemanfaatan ilmu yang bisa menuntun kami kejalan yang diridhoi Allah SWT. “Allahhuma Amin”

Semoga makalah ilmu makki dan madani ini bermanfaat dan menjadikan amal baik khususnya bagi kami dan umumnya bagi orang yang membacanya.

 

“ Allahumma Shalli’ala Sayyidina Muhammad ”

BAB I

PENDAHULUAN

 A.     LATAR BELAKANG

Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surat-surat Al-Qur’an. Mereka meneliti al-qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun dengan muzulnya. Dengan memerhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkannya sesuai dengan waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti objektif, gambaran mengenai menyelidikan ilmiyah tentang ilmu dan madaniyah.

Perhatian terhadap ilmu Al Qur’an menjadi bagian terpenting para sahabat dibanding berbagai ilmu yang lain. Termasuk di dalamnya membahas tentang muzulnya suatu ayat, tempat, muzulnya, urutan turunnya di Mekkah dan Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madani atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi masuk dengan katagori Makki.dan sebagainya.

 B.    RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian ilmu Makki dan Madani?.

2. Apa saja Pengetahuan tentang ilmu Makki dan Madani serta Perbedaannya?

3. Apa saja kedudukan dan kegunaan serta faedah mengetahui ilmu Makki dan Madani?

C.    TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui pengertian ilmu Makki dan Madani.

2. Untuk mengetahui pengetahuan tentang ilmu Makki dan Madani serta perbedaannya.

3. Untuk mengetahui kedudukan dan kegunaan serta faedah mengetahui ilmu Makki dan Madani.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Pengertian Ilmu Makki dan Madani

Secara bahasa Makki adalah Mekkah dan Madani  adalah  Madinah. Sedangkan secara istilah terdapat tiga pengertian oleh para ulama, yaitu sebagai berikut :

1. Pertama : Menentukannya  berdasarkan tempat turun ayat. Bila ayat turun di Mekkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah, sekalipun turun setelah hijrah dinamakan ayat Makkiyah. Sebaliknya jika ayat turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud dan Sila’ makai ia disebut ayat madaniyah.

2. Kedua : Menentukannya berdasarkan khithab (objek penerima) ayat. Bila ayat turun ditujukan kepada penduduk Mekkah, baik turun di Makkah atau di Madinah, baik sebelum dan sesudah hijrah, ia disebut ayat Makkiyah. Sebaliknya, jika ayat tersebut ditujukan kepada penduduk Madinah, baik turun di Mekkah atau Madinah, baik sebelum atau sesudah hijrah, ia tetap disebut ayat madaniyah.

3. Ketiga : Makki adalah sesuatu ayat atau surat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun ayat tersebut turun selain selai di Makkah. Sedangkan Madani adalah sesuatu yang diturunkan setelah hijrah, baik yang turun di Makkah maupun di Madinah. Dan ini termasuk pendapat yang paling terkenal (masyhur).[1]

Adapun jika ingin mengetahui tentang ayat-ayat makki dan madani, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang kelompok dan ciri-ciri tentang ayat makki dan Madani.

B. Kelompok Surat Ilmu Makki dan Madani

Menurut perkiraan sebagian ulama, di antaranya Syaikh Muhammad al Khudari Bek, surat dan ayat Al- qur ‘an yang tergolong ke dalam kelompok Makkiyah berjumlah sekitar 13/30% dari keseluruhan Al-qur’an, sementara jumlah surat dan ayat yang digolongkan ke dalam kelompok Madaniyah hanya berjumlah sekitar 11/30%. Jadi, kelompok surat Makkiyah lebih banyak jumlahnya dari pada kelompok surat Madaniyah.

Yang tergolong ke dalam kelompok surat Madaniyah ialah : Surat al- Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al-Maidah, Al- Anfal, At- Taubah, An – Nur, Al- Ahzab, Al-Qital, Al-Fath, Al-Hujurat, Al-Mujadalah,Al-Hasy, Al-Mumtahanah, As-syaffar,Al-Jumu’ah, Al-Munafiqun, At-Taghabun, At-Thalaq, At-Tahrim, dan An-Nashr. Kecuali yang telah disebutkan ini, semua surat dan ayat Al-Qur’an yang lainnya tergolong ke dalam kelompok surat-surat Makkiyah.[2]

1. Ciri-Ciri Khusus Surat/Ayat Makkiyah

1. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata -kata yaa ayyukhannasu (wahai manusia), kecuali tujuh ayat yang tetap tergolong kelompok Madaniyah.

2. Surat yang di dalamnya terdapat kata-kata yaa banii adama (hai bani Adam), kecuali dalam surat Al-Maidah.

3. Surat yang di dalamnya terdapat kata kala (sekali-kali tidak atau janganlah begitu). Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata sajada dan atau ayat sajdah.

4. Setiap surat yang yang di dalamnya terdapat kisah Adam dan Iblis, kecuali yang ada dalam surat Al- Baqarah.

5. Surat makkiyah umumnya pendek-pendek. Misalnya surat-surat yang terdapat dalam juz Amma, tetapi ada juga yang tergolong Madaniyah

6. Redaksi ayatnya cenderung bernada keras (ancaman), tetapi agak bersajak.

7. Isi surat Makkiyah pada umumnya berkenaan dengan perihal akidah/keimanan atau tauhid,akhlak, surge, neraka, pahala, dan dosa.[3]

8. Surat – surat yang di dalamnya termuat huruf/lafal sumpah (qasam) dalam berbagai bentuknya.[4]

2. Ciri-ciri Khusus Madani

1. Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.

2. Setiap surat yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surat Al- Ankabut adalah Makki.

3. Setiap surat yang di dalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.

4. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata Yaayyuhal Latzina Aamanu (wahai orang-orang yang beriman).

5. Surat -surat yang berisikan perihal ibadah, terutama sholat, zakat, puasa, haji, dan lain- lain.

6. Surat-surat yang berisikan masalah-masalah mu’amalah dalam konteksnya yang sangat luas.[5]

C.   Pengetahuan tentang Ilmu Makki dan Madani serta Perbedaannya

Untuk mengetahui dan menentukan Makki dan Madani para ulama bersandar pada dua cara anatara lain:

1. Sima’i Naqli ( pendengaran seperti apa adanya ). Cara pertama didasarkan pada riwayat sahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, di mana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makki dan Madani itu didasarkan pada cara pertama ini.

2. Qiyasi Ijtihadi, didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani. Apabila dalam surat Makki terdapat suatu ayat yang mengandung  sifat Madani atau mengandung peristiwa Madan, maka dikatakan bahwa ayat itu Madani. Dan apabila dalam surat Madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki atau mengandung peristiwa Makki, maka ayat tersebut dikatakan sebagai ayat Makki. Bila dalam suatu surat terdapat ciri-ciri Makki maka surat itu dinamakan surat Makki. Demikian pula bila dalam satu surat terdapat ciri-ciri Madani, maka surat itu dinamakan surat Madani. Inilah yang disebut qiyasi ijtihadi. Oleh karena itu, para ahli mengatakan “ setiap surat yang di dalamnya mengandung kisah para nabi danumat-umat terdahulu, maka surat itu adalah Makki. Dan setiap surat yang di dalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan, surat itu adalah Madani.[6]

 D.   Kedudukan dan Kegunaan serta Faedah mengetahui ilmu Makki dan Madani

1. Kedudukan dan Kegunaan

Lepas dari perbedaan perdapat para pakar ilmu-ilmu Al-Qur’an tentang status ilmu Makki dan Madani apakah dia sebagai ilmu sima’i atau ilmu ijtihadi, yang pasti ilmu ini memiliki kedudukan penting dan stategis serta sekaligus mempunyai nilai guna yang sangat berarti dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Ilmu Makki dan Madani mempunyai kedudukan signifikan bagi musafir, paling sedikit sebagai ilmu penopang / pendukung atau ilmu bantu. Bahkan, bagi musafir yang mengakui keberadaan konsep nasakh mansukh dalam Al-Qur’an hampir dapat dipastikan harus menjadikan ilmu Makki dan Madani sebagai salah satu perangkat bagi mereka. Sebab, seperti diketahui umum, di antara prasyarat nasihk Mansukh ialah bahwa ayat manskhah (yang di nasakh) harus diturunkan lebih dulu dari pada auat yang me-nasakh.

Alasan lain yang juga layak dikemukakan ialah bahwa penggolongan ilmu asbabil nuzul ke dalam ilmu-ilmu riwayatyang dengan demikian maka sifatnya menjadi terbatas, sedangkan ilmu Makki dan Madani bisa juga di golongkan ke dalam kelompok ilmu-ilmu ijtihad di samping ada juga yang lebih tepat digolongkan ke dalam lingkungan ilmu-ilmu sima’I (riwayat).

Berkenaan dengan kelebihan ilmu Makki dan Madani,Abu Qasim al- Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisaburi misalnya mengungkapkan demikian “ Di antara tanda dari kebesaran ilmu-ilmu Al-Qur’an ialah ilmutentang turunnya, ilmu tentang berbagai seginya, serta ilmu tentang tertib turunnya di Makkah pada saat permulaan, pertengahan dan penghabisan,demikian pula ketika di Madinah pada saat permulaan, pertengahan, dan masa- masa akhirnya.

2. Faedah mengetahui Ilmu Makki dan Madani

Pengetahuan tentang ilmu Makki dan Madani banyak faedahnya, di antaranya :

a) Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Al-Qur’an. Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsikannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang Mansukh bila di antara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh atas yang terdahulu.

b) Meresapi gaya Bahasa Al-Qur’an dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah, sebab setipap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memerhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi, merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya Bahasa Makki dan Madani dalam Al-Qur’an pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicaradan menguasai pikiran dan perasaannya serta mengatasi apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.

c) Mengetahui sejarah hidup Nbi melalui ayat-ayat Al-Qur’an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik pada periode Mekkah maupun periode Madinah, sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan.

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

1. Secara Bahasa Makki adalah Mekkah dan Madani  adalah  Madinah. Sedangkan secara istilah terdapat tiga pengertian oleh para ulama’, yaitu: menentukannya  berdasarkan tempat turun ayat,  menentukannya berdasarkan khithab (objek penerima) ayat, dan yang terakhir  Makki adalah sesuatu ayat atau surat yang diturunkan sebelum hijrah walaupun ayat tersebut turun selain selai di Makkah. Sedangkan Madani adalah sesuatu yang di turunkan setelah hijrah, baik yang turun di Makkah maupun di Madinah.

2. Ciri-ciri khusus surat/ayat Makkiyah

a) Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata-kata yaa ayyukhannasu ( wahai manusia ), kecuali tujuh ayat yang tetap tergolong kelompok Madaniyah.

b) Surat yang di dalamnya terdapat kata-kata yaa banii adama (hai bani Adam), kecuali dalam surat Al-Maidah.

c) Surat yang di dalamnya terdapat kata kala (sekali-kali tidak atau janganlah begitu).Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata sajada dan atau ayat sajdah dan lain lain.

3. Ciri-ciri khusus Madani

a) Setiap surat yang berisi kewajiban atau had (sanksi) adalah Madani.

b) Setiap surat yang didalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah Madani, kecuali surat Al- Ankabut adalah Makki.

c) Setiap surat yang didalamnya terdapat dialog dengan Ahli Kitab adalah Madani.

B.    Saran

Dari uraian makalah ilmu makki dan madani ini, maka tidak tertutup kemungkinan lepas dari kesalahan. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran perbaikan makalah Ulumul Quran.

Demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Penulis berharap dengan terbitnya karya tulis Makalah Ilmu Makki dan Madani sekiranya dapat menjadi tambahan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pembaca. Dan penulis pun juga berharapagar kita semua bisa menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup kita sehingga bisa mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amin Suma, Muhammad. Ulumul Quran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013

Ansori. Ulumul Quran: Kaidah-Kaidah Memahami Firman Tuhan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013.

Mudzakir. Studi Ilmu-Ilmu Quran. Bogor: PT. Ikrar Mandiri Abadi, 2001.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Jun 10, 2020, 4:58 PM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin