Majas: Pengertian, Fungsi, Macam dan Analisis Contoh

Selain diksi, majas juga berperan aktif dalam sebuah puisi. Ia seolah desainer yang membantu memperindah sebuah kata-kata. Untuk itu, di sini saya akan memberikan materinya secara langsung.

Baca Juga: Diksi: Pengertian, Jenis, Fungsi, dan Pemilihan Diksi

A. Pengertian Majas

Majas adalah gaya bahasa yng berupa kiasan, ibarat, dan perumpamaan yang bertujuan untuk mempercantik makna dan pesan sebuah kalimat. Definisi lain dari majas, yaitu: pemanfaatan kekayaan unsur bahasa dan pemakaian ragam bahasa tertentu, guna memberi kesan dan rasa pada sebuah karya sastra.

Berikut ini adalah beberapa pengertian majas dari beberapa sumber:

1.    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ke-3 (2005), gaya bahasa atau majas merupakan pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik secara lisan maupun tertulis. 

2.    Menurut Nurgiyantoro (1998:297), majas merupakan teknik pengungkapan bahasa, peng-gaya bahasan yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukung, melainkan pada makna yang ditambah, dan makna yang tersirat. 

3. Menurut Laksmi Wijaya (2012:132), majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pemikiran dari pengarang.

Baca Juga: Materi Lengkap Pengertian Puisi, Jenis dan Contohnya

B.   Fungsi Majas

Penggunaan majas dalam sebuah karya sastra untuk menciptakan efek yang lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif dalam karya sastra. Menurut Djoko (2010:62), majas menyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan.

Adapun beberapa fungsi majas, di antaranya:

1. Menghasilkan kesenangan imajinatif.

2. Menghasilkan imaji tambahan sehingga hal-hal yang abstrak menjadi kongkrit dan menjadi dapat dinikmati pembaca. 

3. Menambah intensitas perasaan pengarang dalam menyampaikan makna dan sikapnya. 

4. Mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan dan cara-cara menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang singkat.

Majas: Pengertian, Fungsi, Macam dan Analisis Contoh

C.    Macam-Macam Majas

1.     Majas Perbandingan

Jenis majas ini merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk menyandingkan atau membandingkan suatu objek dengan objek lain melalui proses penyamaan, pelebihan, ataupun penggantian.

a)      Personifikasi

Gaya bahasa ini seakan menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia.

Contoh majas: Angin malam yang berhembus telah membawa surat rindu darimu yang jauh di sana.

b)     Metafora

Majas Metafora, yaitu: meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan.

Contoh: Jika kamu nanti jadi seorang pegawai, janganlah seperti tikus berdasi. Tikus berdasi di sini memiliki arti koruptor.

c)      Asosiasi

Majas asosiasi adalah membandingkan dua objek yang berbeda, namun dianggap sama dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, ataupun seperti.

Contoh: Budi dan adiknya kalau sedang bertemu selalu seperti air dan minyak. Artinya mereka selalu bertengkar.

d)     Hiperbola

Majas Hiperbola, yaitu: mengungkapkan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal.

Contoh: Pemuda itu berlari secepat kilat ketika mengetahui kalau seseorang di ujung sana adalah kekasih hatinya. Secepat kilat artinya sangat cepat.

e)      Eufemisisme

Eufemisme adalah gaya bahasa yang mengganti kata-kata yang dianggap kurang baik dengan padanan yang lebih halus.

Contoh: Ibu Nani menjadi pramusaji di restoran ayam Pak Burhan. Pramusaji mengganti frasa pelayan.

f)       Metonimia

Majas metonimia adalah menyandingkan merek atau istilah sesuatu untuk merujuk pada pada benda umum.

Contoh: Indomie adalah makanan favorit para anak kos. Indomie di sini merujuk pada mie instan.

g)      Simile

Majas simile hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata hubungan bak, bagaikan, ataupun seperti. Hanya saja simile bukan membandingkan dua objek yang berbeda, melainkan menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan.

Contoh: Tekadnya untuk menjadi dokter sudah seperti bara api.

h)     Alegori

Majas Alegori adalah menyandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan.

Contoh: Andi mencuri ayamnya Pak Haji sehingga dia di bawa ke meja hijau. Meja hijau memiliki arti pengadilan.

i)        Sinekdok

Gaya bahasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte. Sinekdok pars pro toto merupakan gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur untuk menampilkan keseluruhan sebuah benda. Sementara itu, sinekdok totem pro parte adalah kebalikannya, yakni gaya bahasa yang menampilkan keseluruhan untuk merujuk pada sebuah benda.

Contoh sinekdok pars pro toto: Ibu membeli seikat bayam di pasar minggu. "Seikat" di sini sudah mewakili bayam secara keseluruhan bukan hanya satu daun bayam saja.

Contoh sinekdok totem pro parte: SMPN Suka Maju menjuarai lomba olimpiade matematika tingkat Kabupaten. Kata “SMPN Suka Maju” dapat berarti semua warga di negara Indonesia. Akan tetapi dalam kalimat ini kata “SMPN Suka Maju” digunakan untuk mewakili seseorang (beberapa murid SMPN Suka Maju) yang menjuarai olimpiade matematika tingkat Kabupaten.

Baca juga: Materi Unsur Fisik Puisi dan Unsur Batin Puisi

j)       Simbolik 

Majas simbolik adalah gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam ungkapan.

Contoh: Penglihatan nenek sudah tidak setajam mata elang.

2.   Majas Pertentangan

Majas pertentangan merupakan gaya bahasa yang menggunakan kata-kata kias yang bertentangan dengan maksud asli yang penulis curahkan dalam kalimat tersebut. Jenis ini dapat dibagi menjadi beberapa subjenis, yakni sebagai berikut:

a)   Litotes

Berkebalikan dengan hiperbola yang lebih ke arah perbandingan. Litotes merupakan ungkapan untuk merendahkan diri, meskipun kenyataan yang sebenarnya adalah yang sebaliknya.

Contoh: Aku hanyalah seorang pengusaha kecil yang sudah mampu naik haji dan membeli rumah mewah.

b)  Paradoks

Yaitu membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikannya.

Contoh: Dina mengerjakan ulangan dengan jujur meskipun teman-teman yang lainnya saling mencontek.

c)   Antitesis

Yaitu memadukan pasangan kata yang artinya bertentangan.

Contoh: Kripik pisang ini sangat cocok untuk di konsumsi oleh kalangan menengah-atas.

d) Kontradiksi Interminis

Gaya bahasa yang menyangkal ujaran yang telah dipaparkan sebelumnya. Biasanya diikuti dengan konjungsi, seperti kecuali atau hanya saja.

Contoh: Ulangan IPA kelas XI sudah di laksanakan semua, kecuali kelas XI MIPA 2.

3.  Majas Sindiran

Majas sindiran merupakan kata-kata kias yang memang tujuannya untuk menyindir seseorang ataupun perilaku dan kondisi. Jenis ini terbagi menjadi tiga subjenis, yaitu sebagai berikut:

a) Ironi

Majas Ironi adalah majas yang menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada.

Contoh: Desa Kaliampuh terpenuhi bau harum dari tumpukan sampah.

b) Sinisme

Majas Sinisme adalah majas yang menyampaikan sindiran secara langsung.

Contoh: Tulisanmu itu jelek sekali sehingga aku tidak bisa membacanya.

c)  Sarkasme

Majas Sarkasme adalah majas yang menyampaikan sindiran secara kasar.

Contoh: Dasar bodoh, mengerjakan soal begini saja tidak bisa.

4.  Majas Penegasan

Majas penegasan merupakan jenis gaya bahasa yang bertujuan meningkatkan pengaruh kepada pembacanya agar menyetujui sebuah ujaran ataupun kejadian. Jenis ini dapat dibagi menjadi tujuh subjenis, yaitu sebagai berikut:

a)  Pleonasme

Majas Pleonasme adalah majas menggunakan kata-kata yang bermakna sama sehingga terkesan tidak efektif, namun memang sengaja untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Alfin menengok ke belakang untuk mencari suara yang memanggilnya tadi. Dalam kalimat tersebut kata "ke belakang" sebenarnya tidak dibutuhkan, tetapi hal tersebut digunakan karena untuk memperjelas arah melihat.

b)  Repetisi

Majas Repetisi adalah gaya bahasa ini mengulang kata-kata dalam sebuah kalimat.

Contoh: Kamu telah merusaknya, kamu telah merebutnya tadi, dan kamulah yang membuat mata boneka itu hilang.

c)   Retorika

Majas Retorika adalah majas yang memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya tapi tidak perlu dijawab.

Contoh: Garam itu memang asin ya rasanya?

d)   Klimaks

Majas Klimaks memiliki arti mengurutkan sesuatu dari tingkatan rendah ke tinggi.

Contoh: Semua orang datang ke pesta rakyat mulai dari pedagang kaki lima, pemilik toko hingga pemilik pabrik.

e)  Antiklimaks

Berkebalikan dengan klimaks, gaya bahasa untuk antiklimaks menegaskan sesuatu dengan mengurutkan suatu tingkatan dari tinggi ke rendah.

Contoh: Ketua, wakil, bendahara, sekretaris dan divisi-divisi harus andil semuanya dalam rangka menjalankan program ini.

f)  Pararelisme

Gaya bahasa ini biasa terdapat dalam puisi, yakni mengulang-ulang sebuah kata dalam berbagai definisi yang berbeda. Jika pengulangannya ada di awal, disebut sebagai anafora. Namun, jika kata yang diulang ada di bagian akhir kalimat, disebut sebagai epifora.

Contoh Majas Anafora:

Cinta itu membahagiakan jiwa

Cinta itu menggairahkan raga

Cinta itu menguatkan rasa

Cinta itu menyatukan asa

 

Contoh Majas epifora:

Asmaraloka di bulan purnama

Bersinar terang bak bulan purnama

Nan kukuh bakuh bak bulan purnama

Pun seindah afsun bulan purnama

g)   Tautologi

Majas Tautologi memiliki arti menggunakan kata-kata bersinonim untuk menegaskan sebuah kondisi atau ujaran.

Contoh: Sudah tiga tahun lamanya aku menanti, menunggu dan mengharapkan kehadiranmu.

D. Analisis majas dalam puisi

Hujan Bulan Juni

Oleh: Sapardi Djoko Damono

 

Tak ada yang lebih tabah

dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak jejak kakinya

Yang ragu ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

 

Dari hujan bulan juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

 

Puisi tersebut menggunakan majas Personifikasi. Karena pada puisi tersebut dibuat seolah-olah hujan memiliki sifat yang serupa dengan manusia yang memiliki sifat tabah, arif dan bijak. Juga menggambarkan bahwa hujan menyimpan suatu (rahasia) dan menghapus jejak kakinya.

Baca Juga: Cara Mudah Menulis Puisi Akrostik

E.  Kesimpulan

Majas adalah gaya bahasa yang sering digunakan penyair untuk mempercantik sususan bahasanya. Majas diagi menjadi empat kelompok dan setiap kelompok memiliki bagian dan fungsinya masing-masing, seperti: majas pertentangan, majas sindirian, majas perbandingan dan majas penegasan.

 

*Penulis: Islami Randi, Desi Ratna, Setia Rian Pramantara, Dewi Ratna, Diana Putri, Agung Triwibowo, Riski Wirasandi, Devi Nadya Sabila dan Vina Yoseph.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah