Inner Child: Sisi Diri Penghambat Relasi Sosial

Inner child adalah bagian di dalam diri seseorang, tapi tidak merepresentasikan individu tersebut. Inner child itu nyata, tidak nyata secara fisik, melainkan nyata secara kiasan. Apakah ini berbahaya? Apakah bisa sembuh?

Pasti pernah terlintas sekilas tentang bayangan masa lalu, kenangan kepolosan semasa kecil, serta harapan-harapan besar di benak kita. Banyak orang tidak menyadari dan terus bertumbuh dewasa tanpa mengenal diri mereka sendiri. Mengabaikan sisi “anak kecil” dalam diri tanpa menyadari adanya luka mendalam yang ditimbulkan oleh pengabaian itu.

Berbicara mengenai hal ini tentu tak lepas dari tuntutan era globalisasi dan digital yang semakin tinggi, di mana setiap orang dituntut untuk terus berkembang dan bereksplorasi untuk menciptakan suatu penemuan yang baru. Setiap orang dituntut untuk menjadi dewasa yang identik dengan pemikiran logis, rasional, dan objektif sebelum waktunya. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa terkadang ego dan sisi anak kecil dalam diri kita memberontak keluar.

Baca Juga: Cara Mendidik Anak Usia 1 Tahun Paling Efektif

 

Inner child adalah sebuah bagian dari diri yang bertingkah seperti anak kecil yang muncul karena suatu perasaan, dorongan, dan tindakan spontan terhadap suatu peristiwa abstrak. Adanya inner child sebenarnya bukan hanya untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi di masa lalu saja, tetapi bisa jadi kemunculannya untuk menyeimbangkan perasaan, sebagai evaluasi diri, dan bagaimana cara memaknai sebuah hal. Berbeda hal jika pengalaman masa lalu merupakan hal negatif yang dapat memicu terjadinya traumatik berkepanjangan yang secara tak sadar terbawa hingga dewasa.

Di masa kecil, setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa yang sulit sebagai anak dan sebagian banyak dari kita pernah mengalami trauma karenanya. Tak pelak, hal tersebut membuat anak kecil yang di dalam diri kita terluka dan menderita. Untuk menghindari rasa sakit dari luka tersebut, kita seringkali menghindar, mengabaikan, dan menekannya dalam-dalam. Kita menekannya ke alam bawah sadar kita ataupun mengabaikannya dengan harapan penderitaan tersebut akan hilang. Secara psikisinner child dapat dianggap sebagai representasi dari trauma-trauma masa kecil kita.

Meski begitu, sisi “anak kecil” ini masih dapat berwujud dan muncul pada diri individu yang sudah dewasa dalam bentuk tingkah laku atau kondisi emosional yang tidak disadari. Inner child yang terluka tidak akan hilang, selama ia belum disembuhkan. Inner child akan selalu ada di dalam diri kita, dan mencoba untuk menarik perhatian kita seakan berkata Saya disini. Anda tidak dapat menghindari saya”. Dengan kata lain, inner child adalah sosok anak kecil” yang masih melekat di dalam diri individu dewasa. Anak kecil itu menetap di alam bawah sadar dan seringkali ikut andil mempengaruhi bagaimana kita membuat keputusan, menyelesaikan masalah, dan menjalani kehidupan. Ini menjelaskan juga mengapa orang dewasa pun seolah-olah bisa menjadi anak kecil ketika menghadapi masalah.

Baca Juga: 6 Kesalahan Mendidik Anak yang Dilakukan Orang Tua Milenial

 

Pengalaman yang menyakitkan seperti halnya kekerasan yang diperoleh selama masa kecil, diabaikan oleh orang tua, atau orang-orang di sekitarnya. Kemudian kurangnya kasih sayang yang didapatkan, terlalu dikontrol orang tua, kurang mendapat perlindungan hingga kesalahan pola pengasuhan dalam keluarga yang disfungsional dapat menyebabkan timbulnya luka pada inner child seseorang. Luka ini apabila tidak disadari dan disembuhkan, maka akan membekas dan terbawa hingga ke kehidupan dewasa.

Kenyataannya, waktu yang lama pun tak bisa menghapus memori tentang pengalaman negatif yang dialami. Perasaan terluka yang terus disimpan dalam jangka waktu lama kemudian memunculkan perasaan-perasaan subjektif seperti kemarahan, kesedihan, dan hilangnya harga diri yang mana perasaan dan perilaku negatif tersebut akan menimbulkan dampak buruk secara fisik, psikologis, spiritual, dan relasional. Suasana seperti ini memicu gangguan mental, menyebabkan pola perilaku sama yang berulang, bahkan mempengaruhi hubungan sosial dalam kehidupan bersama orang lain.

Secara karakteristik, orang-orang yang inner child-nya terluka akan menunjukkan masalah yang berhubungan dengan kepercayaan, keintiman, perilaku adiktif dan kompulsif, serta hubungan saling ketergantungan. Akibatnya, banyak dari mereka akhirnya memiliki attachment atau bonding dengan orang tua yang rendah. Bahkan, tak jarang ditemukan bahwa trauma masa kecil itu dapat membawa seorang individu pada implementasi perilaku ketika mereka sudah dewasa yang seringkali merasa tidak percaya diri, menjadi seorang pemberontak, anti kritik, memiliki masalah komitmen, mudah tersinggung, mudah marah, takut disakiti orang lain, khawatir, sulit mempercayai orang lain, menjadi pembohong ulung, manipulatif, sangat kompetitif, mudah cemas, dan merasa tidak aman.

Perilaku-perilaku tersebut tak lain tak bukan adalah sebagai bentuk pertahanan diri terhadap “bahaya” yang diciptakan oleh lingkungan sebagai bentuk manifestasi pola pengasuhan semasa kecil. Bisa dikarenakan inner child terperangkap dalam time warp yang dikelilingi oleh ingatan yang menakutkan atau menyedihkan, sehingga ketika salah satu titik rasa sakit itu meletus, eorang individu itu ingin mencari zona ternyaman mereka. Seseorang dengan inner child yang terluka kemungkinan besar akan sulit untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan individu lain sebab mereka memiliki rasa ketakutan atau trauma sendiri yang mungkin berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Peran Penting Lingkungan Terhadap Pola Asuh Anak di Usia Dini

 

Sebenarnya keberadaan inner child tidak selamanya buruk, yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah jika pola perilaku yang ditunjukkan itu bersifat destruktif, seperti merugikan atau menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Misalnya jika seseorang terlalu menutup diri, tidak mau bergaul, merasa minder terus-menerus, mudah marah atau tersinggung, yang tentunya akan sangat berdampak buruk pada kesehatan mental dan hubungan sosial individu tersebut dengan orang lain, secara manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan pasti membutuhkan bantuan individu lain. Keadaan yang seperti ini jika dibiarkan terus-menerus tanpa adanya niat atau upaya untuk merubahnya akan menjadi salah satu faktor penghambat relasi sosial kita.

 

Ada beberapa masa yang dianggap paling rawan untuk mengalami luka batin, diantaranya: (1) masa dalam kandungan, (2) masa kelahiran, (3) masa bayi, (4) masa kanak-kanak, dan terakhir ada (5) masa remaja atau dewasa. Benar, terlihat banyak dan nihil bagi seseorang untuk menghindari fase ini dalam hidup. Meski terlihat sangat sulit, pada dasarnya, kita bisa berperan sebagai sosok orang tua untuk “anak kecil” dalam diri yang terluka itu, menemaninya melewati proses penyembuhan, melepaskan emosi yang selama ini dipendam. Kita perlu memberikan kasih sayang dan kebutuhan emosional yang tidak “anak kecil” itu dapatkan di masa kecilnya. Di situlah peran kita dalam memulihkan luka batin yang dimiliki oleh sosok anak kecil dalam diri kita tersebut.

 

Melihat dari sudut pandang yang berbeda, inner child berperan besar dalam aspek hidup kita seperti membantu cara kita berkomunikasi, menghadapi suatu konflik, merespon suatu kejadian, menghargai diri sendiri, memperlakukan orang lain, mendeskripsikan kebahagiaan dan cara meraihnya, menentukan pilihan hidup, serta cara berinteraksi sosial. Dengan demikian, inner child ini bagus atau jelek sebenarnya. Nah, kembali lagi pada pengalaman masa kecil tiap individu itu sendiri seperti apa. Jika semua aspek yang membentuk inner child seseorang itu kebanyakan positif meskipun sempat terdapat kejadian buruk atau bisa dibilang unsur penghambatnya, maka individu itu akan bisa membawa diri dalam pribadi yang lebih baik lagi di usia dewasa.

 

Namun, berkebalikan jika banyak dari aspek yang membentuk inner child itu sebagian besar pengalaman negatif, maka seseorang akan membawa atau melakukan hal yang bisa saja kurang baik bagi kehidupannya di masa dewasa. Inilah yang disebutinner child yang terluka yang dapat menghambat relasi sosial seseorang. Faktanya, jarang sekali orang yang marah karena kejadian sekarang. Kebanyakan, orang menjadi emosional atau merespon dengan emosi negatif karena dipicu oleh luka batin inner child di masa lalu. Adapun hal yang perlu diingat pertama kali adalah dengan menerima diri sendiri apa adanya, kita harus percaya bahwa setiap manusia yang diciptakan pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Selanjutnya, adalah tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan kekurangan dan kelebihan itu untuk kebermanfaatan baik untuk diri sendiri, orang sekitar, serta untuk dunia yang lebih luas.

 

Sumber Bacaan:

Hamidah, K. A. (2021). Kesadaran Inner Child dalam Komunikasi Interpersonal di Kalangan Santri Pondok Pesantren Annasyiah Al-Jadidah. Disertasi UIN Sunan Ampel.

Asavathi, N. (2020). Kenali, Sadari dan Atasi Luka Inner Child.

https://m.klikdokter.com/amp/3644446/kenali-sadari-dan-atasi-luka-innerchild diakses Jum’at, 1 Oktober 2021.

Siregar, C. (2012). Menyembuhkan Luka Batin dengan Memaafkan. Jurnal Humaniora3(2), 581-592.

 

 

Profil Penulis

REGITA PUTRI CAHYANI, lahir di Sragen, 09 Februari 2003. Mahasiswa Program Pendidikan Sosiologi-Antropologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Seorang yang tertarik dalam dunia pastry dan kepenulisan, penggemar novel fiksi, sering menulis dan mengunggah karya-karya amatir di platform kepenulisan online.

WA: 085536924277, IG: @fprlxk__. Surel: regitaputricahyani6@gmail.com.

Nomor Rekening Bank Mandiri 138-00-1844008-6

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah