Helm: Sejarah, Kebutuhan dan Kewajiban

Helm (bahasa Belanda: Helm) merupakan benda menyerupai topi yang memiliki fungsi untuk melindungi anggota tubuh bagian kepala dari benturan keras. Benda ini biasanya dibuat dari material berbahan keras seperti kevlar, serat resin atau plastik. Helm banyak kita jumpai di toko, pasar, dan dengan harga yang cukup bervariasi. Tergantung kualitas bahan dasar yang digunakan.

Seiring meningkatnya jumlah pengendara motor, secara otomatis produksi helm semakin bertambah pesat. Hal ini juga dilandasi oleh angka kematian yang semakin meningkat. Berdasarkan data yang tertera, jumlah angka kematian akibat kecelakaan bermotor setiap jamnya rata-rata 3 orang. 61% karena faktor manusia (terkait dengan kemampuan dan faktor pengemudi), 9% karena faktor kendaraan (terkait dengan pemenuhan  persyaratan teknik jalan, 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Bahkan dalam Global Status Report on Road Safety (WHO, 2015) menyatakan bahwa setiap tahun di seluruh dunia angka kematian yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas lebih dari 1,25 juta jiwa.

Lantas apa yang memicu meningkatnya angka kematian oleh pengendara bermotor? Tentu kita tahu, meningkatnya jumlah kematian pengendara bermotor terjadi akibat kurangnya kesadaran. Mengapa demikian? Tentu, bahwa kesadaran ini merupahal satu hal yang paling pokok. Jika kita survei dari lapangan, banyak sekali pengendara bermotor yang kurang akan kesadarannya perihal apa-apa yang dapat mengancam keselamatan dirinya. Mulai dari melanggar lalu lintas, kecepatan kendaraan di atas rata-rata, dan tidak memakai helm. 

Faktanya, banyak pengendara yang mengabaikan aturan-aturan saat mengendarai sepeda motor. Hal ini bisa jadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang mengincar, atau mereka enggan untuk memakai helm karena bentuknya yang sangat menjenuhkan sehingga merasa tidak percaya diri?

Seiring berkembangnya teknologi, banyak produsen yang menawarkan helm, mulai dari bentuk, desain, motif yang sangat menarik. sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk tetap nyaman, dan tampil keren menggunakan helm saat bermotor.

 

Sejarah tentang Helm.

Kita sering menggunakan benda yang satu ini tanpa mengetahui sejarah asal muasalnya. Siapa penemunya? Mengapa diciptakan? Mari kita melihat ke belakang lagi. penemuan tentang helm ini tidak serta merta tercipta begitu saja. Tentu ada sebab musababnya.

Dulu penggunaan helm saat berkendara bukanlah suatu aturan yang wajib  dipatuhi. Dalam artian masyarakat bebas berkendara sepeda motor tanpa memakai helm. Awal kali helm diciptakan pada tahun 1941 oleh seorang dokter bernama Huge Crains usai melakukan proses penelitin selama enam tahun lamanya. Tak sia-sia helm pertama berhasil dibuat dengan berbahan dasarkan material karet dan gabus.

Bermula dari insiden naas yang terjadi pada salah satu warga Inggris di tahun 1935, T. E. Lawrence atau kerap disebut Lawrence of Arabia yang mengalami cidera serius di bagian kepalanya usai mengalami kecelakaan. 

Suatu ketika Lawrence of Arabia sedang mengendarai motornya, dia melintasi jalanan terjal dan menukik. Saat itu matanya sedang bermasalah sehingga membuat pandangnnya buram. Dia membanting setir untuk menghindari anak-anak yang saat itu sedang bermain di tengah jalan. Akibat kecelakaan itu pun akhirnya dia mengalami luka yang cukup serius di bagian kepala. Dia sempat tidak sadarkan diri (kritis) dalam waktu beberapa hari, dan akhirnya dia dinyatakan meninggal,

Huge Crains, seorang dokter syaraf yang menangani kasus Lawrence of Arabia, akhirnya melakukan penelitian. Selain akibat insiden tragis tersebut, juga mengingat angka kecelakaan dan kematian bagi pengendara sepeda motor kala itu semakin meningkat.

Dalam kurun waktu enam tahun, dokter syaraf tersebut berhasil mengumpulkan beberapa hasil penelitiannya. laporan hasil penelitiannya tadi diberi judul  Head Injuries in Motorcyclistthe Importance of the Crash Helmet yang diterbitkan di Britis Medical Journal. 

Dengan seiring berkembangnya zaman, desain helm pun semakin beraneka ragam. Dari yang bentuknya sederhana setengah lingkaran (menyerupai batok kelapa), hingga kini bisa memenuhi SNI (Standart Nasional Indonesia). Selain perkembangan desain helm ini dianggap mampu memenuhi kriteria kebutuhan untuk melindungi kepala. Dengan adanya inovasi membuat trobosan baru, membuat bentunya semakin unik, ternyata mampu meningakatkan rasa percaya diri bagi pengendara sepeda motor. 

Pelan perlahan penggunaan helm mulai diterapkan bahkan digalakkan meski tidak ada satu pun negara yang mematenkan aturan ini ke dalam undang-undang. Hingga akhirnya peraturan penggunaan helm diterapkan pertama kali oleh Negara Australia pada tanggal 1 Januari 1961. Lalu, disusul Negara Amerika serikat yang menduduki posisi kedua untuk menerapkan peraturan memakai helm saat berkendara.

Meski sebenarnya tidak ada bukti yang kuat bahwa peraturan penggunaan helm mampu mengurangi angka kematian, akan tetapi hal ini bisa meminimalisir terjadinya benturan kepala saat mengalami kecelakaan yang mampu membuat korban mengalami hal fatal, seperti; gagar otak, amnesia, dan kerusakan pada sel otak lainnya. 

Bahkan ada beberapa negara menetapkan penggunaan helm tidak hanya diperuntukkan bagi pengendara sepeda motor. Juga, untuk pengendara sepeda biasa. Meski pun hal ini menimbulkan kontroversi dari warga yang berdomisili di negara tersebut. Sehingga peraturan tentang memakai helm untuk pengendara sepeda dicabut kembali.

Bagaimana dampak luka di kepala akibat kecelakaan? Menurut penelitian di Amerika Serikat, kecelakaan menjadi hal yang paling tinggi dalam urutan penyebab kematian anak (Papalia, Olds dan Feldman, 2009). 

Berdasarkan hasil penelitian, pada tahun 2001 di Amerika Serikat menunjukkan tiap tahun akhir, sekitar 23000 anak mengalami cidera serius akibat kecelakaan saat bersepeda, dan 88% untuk meminimalisir hal ini adalah dengan menggunakan helm. Dalam penggunaan helm pun harus diperhatikan betul, yakni menggunakan helm sesuai SNI yang telah ditetapkan. 

Menurut Hallahan, Kauffman dan Pullen (2009), kerusakan otak juga bisa mempengaruhi kemampuan indrawi, fungsi kognitif dan responsivitas emosional. Itulah alasan kepala merupakan bagian yang harus dilindungi dari ce dera akibat benturan. Karena di kepala terdapar ribuan syaraf yang apabila terjadi cedera dapat mempengaruhi anggota tubuh lainnya.

Belajar dari Negara tetangga lainnya, Vietnam. Di negara yang satu ini, kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu penyebab kerugian dalam bidang ekonomi. Kerugian materi yang ditimbulkan mencapai $900 juta atau sebanding dengan 2,7% PDB setiap tahun sejak awal tahun 2003. Semua itu tidak lepas akibat jumlah sepeda motor yang semakin melesat.

Oleh karenanya, pada tahun 1990 an, diberlakukanlah pemakaian helm, meki pun pada akhirnya banyak warga negara yang masih melanggar. Usai undang-undang tentang penggunaan helm disahkan, pemerintah Vietnam pun berupaya  meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat dengan mengirim 680.000 personel polisi dalam upaya penertiban dan mengawasi jalan. 

Upaya tersebut tidak sia-sia. Sejak diberlakukannya dan ditegaskannya UU penggunaan helm, berdasarkan data Komite Keselamatan Lalu Lintas Nasional peraturan tersebut mampu meminimalisir hingga 500.000 jiwa dari cedera kepala, 15000 korba meninggal serta menghemat pengeluaran sebesar $3,5 miliar.

Menggunakan helm, kewajiban atau kebutuhan?

Dalam mengunakan helm saat berkendara bisa termasuk dalam kategori kebutuhan bahkan kewajiban. Jika kita sadar akan bahaya yang mengintai, juga sadar akan pentingnya keselamatan, tentu memakai helm dalam berkendara merupakan suatu kebutuhan. Sebab dengan memakai helm saat berkendara berarti kita telah berupaya meminimalisir peluang cedera parah saat kecelakaan, bahkan angka kematian.

Menjadi suatu kewajiban sebab penggunaan helm saat mengendarai sepeda motor sudah tertera dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, yang menyatakan bahwa setiap kendaraan bermotor wajib memakai perlengkapan kendaraan berupa helm Standart Nasional Indonesia (SNI), dan hal ini juga tercantum dalam pasal 57 ayat (1). 

Dasar hukum pemberian label SNI tertera dalam peraturan mentri perindustrian No 40/M-IND/PER/6/2008 Tahun 2008 pasal 3 huruf b (peraturan pemakaian helm (SNI) bagi pengendara sepeda motor dengan wajib. Mengingat jumlah korban akibat kecelakaan per hari di Indonesia mencapai  72-73 orang yg meninggal. Hal ini berdasarkan pernyataan Sekretaris Jendral Direktorat Perhubungan Darat Kemenhub Hindro Surahmat. 43% dialami oleh usia 16-30, 57% dialami oleh siswa.

Melihat dari data tersebut, diberlakukannya aturan memakai helm, dan memberi sanksi bagi yang melanggarnya merupakan tindakan yang paling tepat. Guna meningkatkan kesadaran pada masyarakat bahwa itu bukan semata-mata sekadar aturan, melainkan kebutuhan demi keselamatan bersama.  

Intinya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tetap aman berlalu lintas menuju Indonesi maslahat.

*Rosyidatul Auliya - Ponpes Darul Ulum Karangpandan

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah