Hatiku Tertinggal di Tanah Palestina

Hatiku Tertinggal di Tanah Palestina

Oleh : Rosyidatul Auliya

"Pergilah. Selamatkan dirimu! Aku bahagia, setidaknya kau telah menjadi pelabuhan cintaku." Tanganku saling berpegangan, tidak ingin meninggalkannya. Jarinya terus berusaha melepaskan genggamanku. Seorang tentara menarik paksa Zafran. Tubuh dengan sisa sedikit tenaga itu tak punya pilihan lain selain pasrah.

"Aku tidak akan meninggalkanmu! Kalau aku bernafas dengan hembusan nafasmu, kalau aku hidup dengan cucuran keringatmu, kalau aku berlayar dengan bahteramu, dan jika kau adalah sebagian dari jiwaku, mana mungkin aku bisa hidup dengan seperuh jiwa, sedang jiwa yang satu mempertaruhkan nyawanya."

"Pergilah...! Jika kau bagian dari jiwaku, kabulkan permintaanku. Aku berjanji padamu kita akan berjumpa di surga."

Aku meraung, menangis melepas genggaman tangannya, mungkin ini merupakan pertemuan terakhir antara aku dan dia. Keadaan ini mengingatkanku pada kejadian yang lalu, sebuah kenangan pahit yang tak seorangpun akan menerimanya, kurasa begitu.

***

Malam ini lagit tampak ceria, puluhan bintang tersenyum pada rembulan. Aku berharap malam ini bisa tidur nyenyak. Tidak ada lagi dentuman suara, tidak ada lagi selimut baja diatas angkasa Palestina, yang terdengar hanya suara jangkrik yang sedang mengucapkan ucapan syukur karna malam ini tenang.

"Aurora...... cepat nak mereka datang" ibu panik memaksaku bangun.

Cepat sekali rasanya malam tadi berlalu, itu merupakan tidur ternyenyak yang pernah aku rasakan setelah beberapa hari dari bulan yang lalu mereka mengganggu ketenangan warga Palestina.

"Mereka siapa bu?" aku masih belum sadar, mataku mengerjap.

"Tentara kejam itu nak, ayo cepat kita harus meninggalkan tempat ini" aku memandang ibu dengan iba.

Sulit dipercaya, baru beberapa jam yang lalu lagit cerah, suasana tentram dan pagi ini semua berubah. Lagit Palestina gelap diselimuti asap hitam tembakan dari pesawat tempur yang sedang mengangkasa. Aku berlari keluar rumah, secepat mungkin agar selamat dari tentara tak berhati itu. Aku terjatuh, salah satu kayu atap rumah jatuh menimpa tubuhku, kayu terpental saat tembakan itu berdentum kencang. Aku terpisah dari ibu.

"Ibu........" aku melihatnya dengan jelas. Seiring suara dentuman menggelegar, kayu yang menimpa tubuhku, ketika itu pula ledakan bom merenggut nyawa ibu. Dia meninggal sangat mengenaskan. Bagaimana tidak, tubuhnya hancur, kedua tangannya patah dan entah menghilang kemana, darah menyelimuti wajahnya.

"Ibu..........!" Aku menjerit histeris.

Satu jam berlalu, suasana mulai hening kembali. Beberapa jeritan warga yang menangisi anggota keluarganya, beberapa warga yang masih menangis seakan tidak percaya dengan semua yang telah terjadi masih terdengar. Tubuhku terasa sakit sekali, aku berusaha menyingkirkan kayu yang menimpaku. Separuh rumahku hancur. Aku tertatih-tatih berjalan mendekati jasad ibu.

"Mau kemana kamu nona? Tak akan aku biarkan kamu lolos begitu saja" seorang tentara menghentikan langkah, dia menyodongkan senjata tepat di kepala sedang tangan yang satunya meringkus kedua tangannku. Saat itu tak sedikitpun terlintas rasa takut. Jika harus mati aku siap, lantas buat apa aku hidup? Harta berhargaku telah pergi jauh.

"Lepaskan aku! Apa yang kamu inginkan dariku? Kalau kau menginginkan nyawaku, ambillah. Tapi izinkan aku untuk mencium jasad ibu untuk yang terakhir kalinya" aku meronta-ronta berusaha melarikan diri.

"Sebesar itu tenagamu?" dia tersenyum kecut, senyum dengan arti sebuah hinaan.

"Diam dan ikutlah aku!" tanpa ampun dia menyeretku, memasukkanku kedalam mobil box. Tubuhku masih terikat tali, bukan hanya kepadaku, mereka mencari sisa-sisa warga yang masih hidup lalu membunuhnya atau mengikatnya dengan tali lalu memasukkannya kedalam mobil box, sama seperti nasibku. Entah apa yang mereka inginkan dari kami yang masih dibiarkan hidup. Apakah kami akan diperbudak oleh mereka? Atau kami akan dipaksa untuk melayani kepuasan nafsu mereka. Di dalam box ini hanya ada kumpulan gadis, tidak ada pria atau ibu-ibu.

Aku berada di ruangan gelap, kedap udara dengan lebar 6 meter, panjang 7 meter dan tinggi 5 meter itu menurut perkiraanku. Ruangan ini cukup luas untuk aku seorang diri. Di atas ruangan terdapat ventilasi udara sebesar tiga jari, setiap sudut ruangan dilengkapi ventilator menyerupai baling-baling bambu, ada kursi panjang dan meja parsegi panjang di salah satu sudut, juga sebuah tikar, aku mengetahuinya, di sebelah ventilasi sebesar tiga jari itu menggantung sebuah lampu, ya walaupun lampu itu hanya mengeluarkan sinar redup tapi itu telah mengusir rasa takut. Aku terpisah dari tahanan yang lain. Aku ingat seseorang telah membawaku ke ruangan ini. Apa maksud dan tujuan orang itu?.

"Kamu sudah sadar? Apakah tubuhmu masih terasa sakit?" suara itu berasal dari dinding yang terbelah. Ada sebuah tangga di luar pintu, tangga menjulang tinggi menandakan bahwa ruangan ini berada di perut bumi atau biasa dikenal ruangan bawah tanah.

Dinding itu menutup kembali. Tak seorangpun akan mengira ada pintu dalam ruangan ini. Pintu itu nyaris tak terlihat bentuknya. Seperti dinding yang sama kokohnya dengan dinding lain. Aku kenal bajunya, baju yang ia kenakan tak lain adalah seragam tentara tak berhati nurani yang telah menelan banyak jiwa tak berdosa.

"Siapa kamu? Apa pedulimu terhadapku?"

"Tidakkah kau akan mengucapkan terimakasih kepadaku?"

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengucapkan kata baik itu kepadamu"

Langkah kaki tentara itu semakin dekat, langkahnya mengarah pada tombol yang tertanam pada dinding, letaknya tidak jauh dari pintu. Seketika cahaya hangat dengan lembut menyapa wajah, ruangan menjadi terang. Atap rumah sebesar buku tulis terbuka, berubah menjadi kaca transparan. Aku bisa melihat langit secara langsung.

"Kamu tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu" dia berjalan mendekat.

"Apa yang kau inginkan dariku? Aku mohon lepaskan aku"

"Tetaplah disini, kau akan aman bersamaku"

"Katakan apa maksud dan tujuanmu?"

"Baiklah, aku akan mengatakan maksud dan tujuanku. Maksudku adalah menyelamatkanmu dan tujuanku adalah hatimu. Aku tahu kau tidak akan semudah itu mempercayainya. Tapi ini adalah kenyataannya aku jatuh hati padamu. Mungkin kamu tidak akan ingat kejadian satu minggu yang lalu. Usai penyerangan keji itu, aku mendapat tugas untuk menangkap warga yang masih selamat. Aku menjumpaimu, tapi tak sedikitpun aku punya nyali untuk menyentuhmu. Lalu aku pergi membiarkanmu tetap hidup, aku sadar setelah aku pergi aku telah meninggalkan sepotong hatiku di pertemuan itu. Ya, aku merindukanmu. Keesokan harinya sama seperti sebelumnya, aku harus menjalankan tugas, tapi aku tidak lagi menangkap orang tak berdosa. Sejak saat itu perioritas tugasku hanyalah mamastikan bahwa kamu baik-baik saja."

Apakah aku harus percaya dengan ucapannya? Apakah ucapan itu memang suara hatinya? Atau suara setan yang menguasai jiwanya. Aku menangis, antara bahagia dan sedih. Bahagia karna dia orang yang pertama kali menyatakan rasa itu. Sebuah rasa yang membuat aku takut jika itu hanya bualan semata.

"Apakah yang kamu lakukan ini juga bagian dari tujuanmu itu?"

"Ya kamu benar, aku membawamu kemari setelah aku mendengar seorang tentara bercerita tentang penangkapanmu. Maafkan aku, aku juga merasakan semua penderitaanmu, kamu terpisah dari ibumu dan....... "

"Tahu apa kau soal penderitaanku, karna ulah kalian banyak nyawa tak terselamatkan. Kalian kejam!" suaraku serta merta memenuhi ruangan.

"Apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang terlihat, aku juga terpisah dari ibu. Mungkin dia sekarang sudah tenang di surga. Aku lahir di Palestina, ketika usiaku 17 tahun aku dipisahkan oleh ayah, dia memaksaku untuk ikut dengannya. Dia tahu akan adanya penyerangan ini. Dia percaya dengan kembali ke tanah lahirnya dia akan selamat. Ibu lebih memilih mempertahankan imannya, karna dia tahu jika dia ikut ayah ke tanah kelahirannya ibu akan dipaksa untuk pindah keyakinan. Sejak hari itu aku tidak lagi bertemu dengan ibu."

"Apakah ayahmu seorang muslim? Maaf jika aku kurang sopan". Aku tertarik dengan kisahnya. Sebenarnya aku takut menanyakan prihal ini, ada benarnya juga, dia jauh lebih baik dari dugaan.

"Itu dulu sebelum ayah pergi meninggalkan ibu demi keegoisannya." Dia duduk tertunduk. Merenungi kenangan masa kecil yang kelam.

"Apakah dia masih hidup?"

"ya"

"Aku tidak akan memaksamu. Jika kau marah padaku, itu adalah hak. Kamu hanya butuh waktu untuk mencerna semua ucapanku. Makan dan beristirahatlah agar tenagamu pulih, nanti aku kembali." Dia pergi dan menghilang dibalik dinding yang tak lain adalah pintu.

Malam sudah tiba, tidak ada lagi suara berdentum, tangisan anak kecil, teriakan orang kesakitan. Aku duduk termenung memandang bintang dari atap transparan, aku tidak takut karena sinar purnama menerobos masuk ikut serta menerangi ruangan. Beberapa menit aku nyalakan ventilator untuk menstabilkan suhu ruangan yang semakin pengap. Aku menunggu seseorang.

"Sampai kapan dia akan mengurungku di ruangan ini?"

"Sampai keadaan memang benar-benar aman."

"Siapa? Kaukah itu?" pintu berderik pelan seseorang berusaha mendorongnya.

"Aku datang, bagaimana keadaanmu?" dia membawa sebuah bingkisan, di dalamnya sudah tersedia segala keperluanku, baju dan makanan. Aku berdiri menyambutnya, mengambil bingkisan yang dia bawa. Beberapa jam lalu aku berusaha merenungkan semua kalimatmya. Jika dia jahat, pasti sudah dari tadi dia akan membunuhku.

"Lebih baik dari yang sebelumnya. Kamu dari mana?."

"Aku habis melakukan sesuatu yang harus aku lakukan, melakukan segala sesuatu yang menjadi tugas dan tanggungjawabku"

"Termasuk membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa?" aku menyela kalimatnya. Dia terdiam lalu duduk menyantap bekal yang dibawanya. Kata-kataku sedikit memojokkan.

"Maafkan aku."

"Mungkin aku terlalu buruk difikiranmu, percayalah kamu pasti akan mengubur semua itu. Satu hal yang harus kamu ingat separuh jiwaku tertinggal di Palestina."

"Dimana jiwa yang lainnya?"

"Dia yang ada dihadapanku itu jiwa yang lainnya." Dia menatapku dengan tatapan tajam. Aku tidak berani membalas tatapannya.

"Lalu kamu akan berkata bahwa hati jiwa itu juga tertinggal di Palestina? Kenapa kau berikan sepotong hatimu padaku? Aku tidak cantik, aku tidak kaya. Lalu apa yang kau harapkan dariku?."

"Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku hanya ingin menyempurnakan potongan hati itu dengan potongan hatimu, kau sudah cukup cantik, kecantikan jiwamulah yang mengurungku dalam kerinduan."

"Jika demikian apa yang akan kamu pertaruhkan demi mendapatkan potongan hati itu?" aku dan dia semakin terlibat dalam percakapan serius soal hati, rasa dan jiwa.

"Keyakinanku. Aku akan pindah keyakinan sama dengan keyakinanmu."

"Itu tidak akan terjadi, karena dengan begitu bagi mereka kamu hanyalah seorang penghianat."

"Penghianat bagi mereka bukan apa-apa dibanding aku harus terus menghianati keyakinanku. Percayalah semua akan baik-baik saja." Kata-kata tentara itu sedikit membuatku tenang, tidak lagi tertekan. Dua jam suasana lengang diisi suara burung hantu.

"Nona." Dia berjalan lembut tanpa maksud menggangu.

"Sejauh perbincangan kita aku belum tahu siapa namamu?" sebuah pertanyaan yang mampu mencairkan suasana. Aku juga menantikannya.

Aku berdiri, sama sekali tidak terganggu. Aku berjalan dan duduk di sampingnya. Tentara itu juga menambahkan bola lampu di ruangan ini, aku bisa melihat kebahagian dari wajahnya. Aku tersenyum untuk yang pertama kali.

"Aku Aurora, usiaku 20 tahun."

"Aku Zafran, usiaku 25 tahun."

"Senang bertemu denganmu" aku melepas tangannya.

"Jika kau merasa senang, apakah itu berarti kau mau membuka pintu hati untukku?." Aku diam, butuh banyak waktu untuk memikirkannya.

"Sudah malam sebaiknya kamu pulang, besok kita bertemu."

"Baiklah, jaga dirimu."

Kalau tidak salah sudah satu minggu Zafran mengurungku. Sepulang menjalankan tugasnya sebagai tentara, Zafran selalu membawa makanan, membawakan baju ganti dan hal terpenting memastikan aku baik-baik saja. Aku semakin yakin Zafran tidak seburuk perkiraan.

"Zafran, kaukah itu?" aku mendengar suara kaki di balik dinding pintu.

"Iya ini aku" pintu itu terbuka lebar, aku terkejut. Bukan karna melihat Zafran, lima tentara beringas berdiri, melempar sebuah jaring, aku terperangkap di dalamnya.

"Hahahaha, Zafran malang, dia kira aku akan berdiam diri setelah apa yang dia lakukan" salah satu tentara itu bangga setelah berhasil menangkapku.

"Apa yang kau lakukan padanya?" aku meronta melepas pergelangan tangan dari tangan mereka.

" Tenanglah nona, jika aku tidak bisa membalas perbuatan Zafran, maka aku akan membalaskan perbuatan Zafran pada dirimu. Bawa dia!"

"Lepaskan aku. Apa yang dia lakukan terhadap kalian?"

Langkah mereka berhenti seketika.

"Kau bertanya apa yang sudah diperbuat olehnya? Apakah kau orang Palestina? Tapi itu tidak penting bagiku" sekali lagi dia memegang daguku dengan penuh amarah.

"Nona, Zafran telah melakukan penghianatan pada kami, dia ditugaskan untuk memeriksa sel setiap malam hari. Tapi apa yang dia lakukan, dia telah menyalah gunakan kepercayaan kami. Dia mengubah tugas itu menjadi kesempatan emas untuk membebaskan tahanan, bukankah kau termasuk juga nona?"

"Diam kau! Kalian manusia tak punya hati." Dia menepis daguku. Aku berdosa telah menilai Zafran sebelumnya, apa yang aku ketahui tentangnya, tidaklah seperti fakta yang ada. Zafran kau dimana? Semoga Tuhan melindungimu. Aku tidak berdaya lagi, tidak ada yang bisa aku perbuat. Aku sudah kalah, aku menyerah pada tentara-tentara kejam itu. Merontapun percuma, aku sendiri dan mereka berlima.

Sekian menit berlalu, aku berada di ruangan berbeda. Aku di dalam sel, puluhan sel berjajar rapi. Beberapa sel dipenuhi gadis seusiaku, sebagian lagi dibiarkan kosong, sebagian yang lainnya dipenuhi wanita paruh baya. Aku tidak ada diantara mereka lebih tepatnya aku terpisah, berada didalam sel lain seorang diri. Menjadikan kesunyian sebagai teman sejati.

"Nak bangunlah, kau baik-baik saja?" mataku terbelalak.

"Paman!" aku berseru tidak percaya, orang yang berdiri di depanku saat ini adalah ayah Zafran. Paman yang tiga hari lalu menentang pernyataan Zafran bahwa dia mencintaiku, paman yang tiga hari lalu mengamuk dan menghinaku, paman yang tiga hari lalu mengancam akan membunuhku karna Zafran memutuskan pindah keyakinan. Sekarang dia berdiri tepat di depanku?. Ini sulit dipercaya.

"Apa yang paman lakukan di sini?" aku memandang laki-laki berumur 47 tahun itu dengan heran. Dia masih berseragam tentara sama seperti seragam yang dikenakan Zafran.

"Apakah paman ingin membunuhku?"

"Tidak penting kamu bertanya seperti itu nak. Yang paling penting sekarang adalah keselamatanmu, ayo cepat temui Zafran. Kau akan aman bersamanya."

"Tapi paman,...............terimakasih paman"

Malam itu juga aku melarikan diri. Aku tidak tahu arah, kemana aku harus mencari Zafran? Apakah dia baik-baik saja? Atau tentara itu telah menangkap dan membunuhnya dengan kejam?.

"Zafran............................." aku berteriak sekencang mungkin, dengan harapan Zafran akan mendengar suaraku. Aku tidak peduli dengan tentara, tidak peduli jika tentara kejam itu membunuhku. Jika aku kehilangan Zafran apalah arti dari hidupku.

"Aurora, kamu baik-baik sajakan? Kita tidak punya banyak waktu. Pergilah selamatkan dirimu!"

"Aku tidak akan pergi sendiri, aku akan pergi bersamamu."

Malam telah menjadi saksi perjuanganku dengan Zafran.

"Aarrrgggg......................" Zafran mengeram kesakitan, seseorang telah menembaknya, kakinya tumbang.

"Zafran...............ayo kamu pasti bisa, kamu ingat mimpi kita Zafran? Jika kau mencintaiku bangunlah, kita hadapi semua ini bersama-sama"

"Tidak Aurora, menyelamatkanmu bukan lagi bagian dari tujuanku, itu adalah kuwajibanku" Zafran menahan rasa sakitnya.

"Pergilah selamatkan dirimu, aku bahagia setidaknya kau telah menjadi pelabuhan cintaku" tanganku saling berpegangan, tidak ingin meninggalkannya. Jarinya terus berusaha melepaskan genggamanku. Seorang tentara menarik paksa Zafran. Tubuh dengan sisa sedikit tenaga itu tak punya pilihan lain selain pasrah.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, kalau aku bernafas dengan hembusan nafasmu, kalau aku hidup dengan cucuran keringatmu, kalau aku berlayar dengan bahteramu, dan jika kau adalah sebagian dari jiwaku, mana mungkin aku bisa hidup dengan seperuh jiwa, sedang jiwa yang satu mempertaruhkan nyawanya."

"Pergilah......jika kau bagian dari jiwaku kabulkan permintaanku, aku berjanji padamu kita akan berjumpa di surgaNya."

Aku meraung, menangis melepas genggaman tangannya, mungkin ini merupakan pertemuan terakhir antara aku dan dia.

"Arrrggggg................ Pergi Aurora!". Lima tentara kejam telah menghantamnya dengan puluhan pukulan. Sepertinya mereka tidak akan membiarkan Zafran mati begitu saja tanpa merasa kesakitan.

"Ayo nak kamu harus pergi dari sini sekarang juga. Kalau tidak...........sudahlah ayo cepat" seseorang meraih tanganku.

"Paman?" aku tidak lagi takut, aku menyambutnya dengan senyum bahagia.

Paman membawaku pergi jauh dari area kekacauan. Tempat yang sepi hanya hamparan pasir, beberapa ilalang dan semak belukar, udara malamnya segar membuat tubuhku sedikit membaik dari yang sebelumnya. Bagaimana keadaan Zafran? Suara lengang sejenak. Paman tidak banyak bicara.

"Namamu Aurora bukan?" aku mengangguk pelan.

"Kamu seorang gadis yang amat disegani oleh putraku. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu" dia berjalan mendekat, sesuatu yang penting ingin dia bisikkan di telinga.

"Ah.......... Paman!" aku meringis kesakitan. Apa yang telah paman lakukan? Dia menusukkan belati pada perutku, berkali-kali. Aku tumbang tersungkur ke tanah. Semuanya gelap. Lebih gelap dari malam, lebih sepi dari kesunyian, lebih dingin dari udara.

"Maafkan paman nak, paman terpaksa melakukan semua ini, kau adalah wanita yang dicintai putraku, aku tidak akan membiarkan tentara itu menodaimu sebelum mereka membunuhmu. Kamu anak yang baik, kamu telah membawa Zafran pada keyakinan asalnya. Maafkan laki-laki tua yang penuh dosa ini nak, semoga kau bahagia." Dia merangkul tubuhku yang sudah tidak berdaya lagi.

Aku berdiri di dalam dimensi berbeda, aku bisa mendengar semua ucapan paman yang tak lain adalah ayah Zafran. Aku tersenyum bahagia.

"Aurora..............." seseorang memanggil namaku.

"Zafran !" aku tersenyum bahagia. Begitu juga dia.

"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana."

"Ayah? benarkah itu ayahku Aurora?" aku mengangguk pelan dengan senyum paling bahagia.

"Paman, terimakasih, sudah menyelamatkanku. Berkatmu aku bisa bersamanya lagi."

"Ayah maafkan aku, aku menyayangi ayah. Berkat ayah aku tidak akan pernah lagi kehilangan potongan hatiku, karena hatiku saat ini sudah kembali menjadi satu."

Aku dan Zafran mendekati laki-laki usia 47 tahun itu. Kami memeluknya.

"Zafran, Aurora?" Dia terkejut. Sepertinya dia merasakan keberadaan kami di dekatnya.

The and

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
??Apri Kuncoro (Apipi) ?? - Nov 16, 2020, 4:13 PM - Add Reply

Masyaallah kisah cinta dan perjuangan yang sangat-sangat menyentuh. Pelajaran tentang cinta dan pengorbanan semua ada dalam kisah ini. Pada Intinya tidak ada kritik dari saya, karena penulisan dan penggunaan tanda baca sudah tepat. Hanya kata "penghianat" seharusnya jadi "pengkhianat" karena bakunya itu. Lalu di penutup pakai kata tamat atau sekian saja karena dari awal menggunakan Bahasa Indonesia.

Untuk tokoh sebaiknya nama lebih disesuaikan lagi dengan latar cerita ini di wilayah Timur Tengah sebaiknya untuk tokoh utama jangan Aurora, kalau cowoknya Zafran sudah okee😊👍🏼
Pesan moralnya ada
Teruslah hadirkan cerita indah dan menginspirasi
Salam Literasi 👍🏼

You must be logged in to post a comment.
Ruang Sekolah - Nov 16, 2020, 10:52 PM - Add Reply

Terima kasih atas kritik sarannya kak.

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Okt 26, 2020, 4:39 PM - Fandi Ahmad syah
Agt 11, 2020, 8:53 PM - Ruang Sekolah
Jul 11, 2020, 8:46 PM - Pohon Jalang
Penulis

I am proud to be santri.

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton