Fiqih Media Sosial dan Muamalah Virtual

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada era digital seperti saat ini, bermain media sosial bukan lagi hal yang aneh dan baru di kalangan masyarakat. Tentunya sudah ada rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam menggunakan media sosial agar mendapatkan maslahat atau kebaikan. Secara prinsip, Islam menerima dan menganggap baik setiap inovasi produk yang memberikan manfaat kepada masyarakat, agar mudah menunaikan kewajibannya kepada manusia dan Allah Swt., tak terkecuali media sosial.

Di antara rambu-rambu bermedia sosial adalah sebagai berikut:

1. Menggunakan media sosial karena memenuhi hajat-hajatnya. Menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat dan meninggalkan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana pesan dan arahan dari Rasulullah saw., yang artinya: "Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)

2. Tidak melalaikan pengguna akan hajat dan aktivitas yang lebih penting dan prioritas. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya: "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang." (HR. Bukhari)

3. Tidak menyebabkan fitnah dan permusuhan, khususnya isi pesan, share gambar, dan chat di grup.

4. Menyaksikan tayangan video singkat di akun media sosial yang tidak halal.

 

Muamalah lewat media online merupakan salah satu cara bersosialisasi umat Islam Indonesia. Media sosial menjadi perantara antara manusia berkomunikasi. Muamalah dengan memanfaatkan media sosial, memberi manfaat yang sangat besar dalam mengembangkan potensi umat, seperti pendidikan, perdagangan, dan sektor jasa. Namun, di sisi lain memberi gambaran yang suram terhadap pemanfaatan dunia online dalam sektor perdagangan dan jasa.

Muamalah adalah peraturan-peraturan mengenai tiap hal yang berhubungan dengan urusan dunia, sedangkan dalam arti yang sempit, muamalah adalah semua transaksi atau perjanjian yang dilakukan oleh manusia dalam hal tukar menukar manfaat.

Adapun beberapa hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim ketika melakukan muamalah menggunakan media sosial, yaitu:

1. Senantiasa meningkatkan keimanan, ketakwaan, tidak mendorong terjadinya kekufuran serta kemaksiatan.

2. Mempererat persaudaraan keislaman, memperkokoh kerukunan, baik antar intern umat beragama, antar umat beragama, dan antara umat dan pemerintah.

3. Dalam menyikapi informasi di media sosial, setiap muslim harus memahami bahwa informasi yang berasal dari media sosial memiliki kemungkinan benar dan salah, sehingga diharapkan untuk melakukan proses klarifikasi terlebih dahulu saat menerima informasi.

Kemudian, ada pula beberapa hal yang haram dilakukan ketika sedang bermuamalah di media sosial adalah sebagai berikut:

1. Melakukan gibah, namimah, dan penyebaran permusuhan.

2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan terhadap suku, ras, agama, atau golongan.

3. Menyebarkan hoax dan informasi bohong.

4. Menyebarkan konten dan segala hal yang haram.

5. Mencari-cari informasi tentang aib orang lain.

6. Menyediakan informasi yang telah tersedia di atas demi kepentingan bisnis semata supaya mendapat keuntungan.

Selain hal-hal yang wajib dan haram dilakukan saat bermuamalah dengan media sosial, setiap muslim juga sebaiknya menggunakan beberapa prinsip berikut dalam bermuamalah di media sosial, yaitu:

1. Perkataan yang benar.

2. Kejujuran.

3. Selektivitas dan validitas.

4. Keseimbangan berita.

5. Privasi.

 

Sumber referensi:

1. Oni Sahroni, Fikih Muamalah Kontemporer jilid 4 (Cet. 1; Jakarta: Republika, 2020). (Dapat diakses di aplikasi Google Playbook).

2. Aida Ismi Aulia, Skripsi: Hukum Bermuamalah Melalui Media Sosial (Jakarta: 2018).

3. Sobehan Khalik, Studi Kritis Terhadap Respon Fatwa MUI tentang Pemanfaatan Media Sosial Dalam Bermuamalah. Jurnal al-Daulah vol 7, No. 1 (1 Juni 2018).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Tulisan Populer