Etika Santri Terhadap Guru Menurut KH. Hasyim Asy'ari

Etika santri terhadap guru menurut KH. Hasyim Asy'ari dapat kamu pelajari melalui artikel yang Saya tulis di bawah ini.

Etika santri terhadap guru menurut KH. Hasyim Asy'ari  dapat kamu praktekkan dalam kehidupan pesantren .

Tentunya, etika santri terhadap guru menurut KH. Hasyim Asy'ari akan menjadi pedoman setiap santri maupun ustadz pesantren.

Etika Santri Terhadap Guru Menurut KH. Hasyim Asy'ari

Dalam KBBI, etika adalah ilmu tentang yang baik dan buruk. Etika, adab, sopan santun yang dimiliki peserta didik di zaman millenial ini sangatlah memprihatinkan.

Etika peserta didik di zaman sekarang sudah rendah, bahkan mereka tidak memiliki sopan santun terhadap gurunya.

Seharusnya peserta didik menghormati, menghargai, dan berprilaku sopan santun terhadap guru, zaman sekarang malah banyak yang tidak bisa berlaku demikian pada gurunya, bahkan sang guru dilawan dan tidak disegani lagi oleh peserta didik zaman sekarang.

Oleh karena itu, Hendaknya dari lingkungan keluarga dan masyarakat berusaha untuk mengajaknya dan mendidiknya agar bisa beretika yang baik dan bagus.

Baca Juga: 3 Sebab Penyesalan Santri Usai Meninggalkan Pesantren

Namun, semuanya tetap dikembalikan pada pribadi masing-masing, bagaimana ia bisa memulai dari dirinya sendiri untuk bisa beretika yang baik, menerapkan ilmu-ilmu yang sudah diajarkan oleh gurunya.

Dalam kitab Adabul Alim Wal Mutaallim (Etika Pendidikan Islam) karangan KH. Hasyim Asy'ari Terdapat Etika yang harus dimiliki Peserta didik terhadap Muallim (guru) menurut beliau, diantaranya yakni:

Pertama, sudah seharusnya peserta didik patuh kepada gurunya, bahkan peserta didik tidak boleh menolak atau membelot pendapat gurunya, baik yang berhubungan dengan perintah ataupun anjuran-anjuran yang diberikan pada peserta didik.

Maka dari itu, hendaknya sebagai peserta didik harus meminta saran dan juga berusaha mendapatkan restu pada guru terlebih dahulu atas apa yang akan di lakukannya.

Baca Juga: Keutamaan Hari Ke-3 Puasa Ramadhan

Selain itu, peserta didik juga harus menghormati dan berbakti pada gurunya dengan sepenuh hati dan semata-mata hanya mengharapkan ridho Allah.

Kedua, memandang guru dengan pandangan yang mulia dan juga yakin bahwa gurunya mendapatkan derajat kesempurnaan dari Allah.

Maka, sebagai perwujudan hormat peserta didik terhadap gurunya, hendaknya memanggil gurunya dengan panggilan yang sopan, tidak hanya menyebutkan namanya saja, tapi bisa disertai dengan ustadz atau ustadzah, ibu guru atau pak guru.

Ketiga, hendaknya peserta didik tidak melupakan keutamaan dan jasa yang telah diberikan kepadanya. Misalnya mendoakan guru, baik beliau masih hidup ataupun sudah meninggal.

Baca Juga: Sya'ban Menuju Kualitas Kepribadian Wali (Kekasih)

Keempat, hendaknya peserta didik bersabar ketika guru berprilaku keras atau dirasa tidak nyaman di hatinya. Seburuk apapun prilaku guru pada peserta didik, hendaknya peserta didik tidak mengurangi rasa hormatnya pada gurunya, dan harus tetap berprasangkah baik bahwa prilaku gurunya tidak lain adalah suatu bentuk rasa perhatian guru untuknya.

Kelima, hendaknya peserta didik meminta izin sebelum masuk ke dalam ruangan pribadi guru, baik guru sedang sendirian ataupun dengan orang lain. Misalnya, mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu.

Keenam, hendaknya peserta didik berlaku sopan santun ketika duduk dengan gurunya. Tidak membuat kegaduhan ketika bersama dengan guru, tidak banyak tingkah didepan guru.

Baca Juga: 7 Langkah Agar Terhindar Rasa Kantuk Saat Sholat Tahajud

Ketujuh, hendaknya peserta didik tidak mengatakan kata-kata yang kurang sopan ketika dihadapan dan berbicara dengan guru. Berbicara dengan Bahasa yang sopan dan tidak banyak bicara yang tidak mengandung manfaat.

Kedelapan, hendaknya peserta didik mendengarkan guru dengan baik ketika beliau sedang menjelaskan materi pelajaran. Ketika jam pelajaran berlangsung hendaknya peserta didik memperhatikan guru dalam menjelaskan materi, tidak ditinggal tidur dan ramai sendiri dengan temannya.

Kesembilan, hendaknya peserta didik menyapa guru dengan senyuman dan mengucap salam ketika bertemu dengan gurunya.

Lah, beberapa poin diatas bisa kita jadikan contoh untuk lebih menghormati dan menghargai guru.

Abu Yusuf meriwayatkan bahwa Sebagian ulama salaf pernah berkata:

من لا يعتقد جلالة استاذه لا يفلح

"Barang siapa yang tidak bertekad untuk memuliakan gurunya, maka dia termasuk orang yang tidak beruntung"

Dari hadits tersebut, kita juga bisa belajar untuk lebih menghormati menghargai dan memuliakan guru dengan menerapkan beberapa Etika yang sudah seharusnya dimiliki oleh peserta didik terhadap gurunya sebagaimana yang telah tercantum di atas.

Itulah etika santri terhadap guru menurut KH. Hasyim Asy'ari dapat kamu praktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk ngarep berkah dari guru.

Waallahua'lam...

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles