Elegi untuk Sang Putri Salju

 

Penulis: M. Darisman

“Jika dirimu adalah Putri Salju, jangan menganggap bahwa ayah dan ibumu akan menemanimu selamanya karena dia akan meninggalkanmu. Namun, ingatlah. Tujuh Kurcaci akan selalu mendampingimu seperti keluargamu, walaupun dirimu tidur selamanya.”

Gadis yang cantik jelita, di kampus dia sering dipanggil dengan sebutan Tuan Putri karena kecantikannya yang tiada tara. Miranda, gadis yang lugu dan ceria. Bersama tiga temannya, mereka selalu bersama dalam suka dan duka seperti cerita Putri Tidur dan Tiga Peri.

Pada suatu hari, teman Miranda yaitu Hana, Anita, dan Sri pergi ke kampus untuk melakukan pembelajaran kuliah. Di saat itu juga, semua yang ada di kelas menanyakan Miranda termasuk dosen yang mengajar, Bu Atun.

“Ada yang tahu kenapa Miranda tidak datang hari ini?” tanya Bu Atun.

“Maaf, Bu,” tanggap Anita. “Miranda sedang sakit hari ini,” jawab Sri yang seharusnya dijawab oleh Anita.

“Iya, Bu,” ujar Hana membenarkan ucapan Sri.

Mendengar hal itu, Bu Atun pun percaya karena mereka adalah sahabatnya. Sesaat setelah pelajaran, mereka bertiga menuju ke kantin untuk makan. Namun, nafsu makan mereka serasa tiada berselera mendengar pembicaraan beberapa orang mengenai Miranda yang tidak menunjukkan dirinya hari ini. Mereka akhirnya ditanya berbagai macam orang dalam kampus mulai dari mahasiswa sekelas dan beda kelas, kakak tingkat, dosen, tukang kantin, tukang sapu, tukang kebun, bahkan satpam karena posisi Miranda yang diuntungkan saat itu. Namun, mereka hanya berkata, “Miranda sakit hari ini.” Sampai keesokan harinya dan hari berikutnya, mereka hanya berkata seperti itu untuk meyakinkan bahwa Miranda tengah sakit keras. 

Namun, satu bulan telah berlalu. Miranda masih belum menampakkan batang hidungnya. Bu Atun merasa curiga. Akhirnya, beliau menyuruh seseorang untuk memanggil Hana, Anita, dan Sri. Tibalah pesan itu pada mereka bertiga. Awalnya, mereka merasa ketakutan. Namun, mereka memberanikan diri untuk menemui Bu Atun.

“Sudah satu bulan, Miranda tidak datang. Apakah kalian tahu dimana dia?” tanya Bu Atun dengan mulai menampakan ketegasannya.

“Emmm... Anu, Bu..” tanggap Sri terbata-bata.

“Anu apa?!” gertak Bu Atun yang mulai menampakkan kemarahannya. “Kalian ini pasti menyembunyikan sesuatu dari Ibu. Ayo jelaskan!” lanjutnya menegaskan pertanyaannya.

“Emmm...” tanggap ketiga orang yang malang itu.

“Kalau kalian tidak menjelaskan, saya tidak segan-segan mengeluarkan kalian dari kampus ini. Terangkan pada Ibu!” ancam Bu Atun nampak tak main-main hingga semua orang yang ada di kantor mendengar suara dosen yang fenomenal di kampus ini.

“Maaf, Bu,” tanggap Hana yang masih gemetaran mendengar suara Bu Atun. Begini ceritanya, Bu,” lanjut Hana menerangkan dengan lengkap.

Satu bulan yang lalu...

Walaupun dia gadis yang cantik jelita dan penuh keriangan, Miranda adalah Putri Salju yang selalu menyembunyikan kesedihannya yang teramat dalam karena keluarganya tak lagi mendampinginya beserta saudara-saudaranya. Kebersamaan terasa tak ada lagi tanpa keluarga. Sampai mereka bertiga sedih melihatnya. Karena itu, dia bertekad untuk menjadi Putri Salju untuk menutupi kesedihannya karena ia merasa tidak punya apa-apa walau harta berlimpah tak menentu. Dia dibantu oleh ketiga temannya. Mereka yang membuat seluruh propertinya untuk melancarkan misi Miranda untuk menutupi kesedihannya, dimulai dari peti mati, berbagai macam bunga, gaun yang indah, dan panorama kebun bunga. Miranda juga telah menyiapkan racun untuknya agar dia tertidur selama beberapa bulan.

“Miranda, apa kamu yakin ingin melakukan ini?” tanya Hana masih khawatir dengan kondisi Miranda.

“Aku yakin sekali,” jawab Miranda mantap. “Aku berharap, ini akan mengobati kesedihanku,” lanjutnya.

Rencana kemudian dimulai. Temannya, Hana sebagai perias handal di kampusnya meriah wajah Miranda dengan dandanan bak putri kerajaan. Lalu, Sri dan Anita mulai memakaikan gaun kepada Miranda serta properti lainnya seperti tiara berlian, sepatu indah, gelang emas, cincin berlapis berlian, dan anting emerald. Miranda melancarkan aksinya dengan meminum racun tersebut dan dia tak sadarkan diri. Mereka bertiga membawanya ke peti mati dan membenahi sikap tubuh Miranda agar terlihat seperti Putri Salju yang tengah tertidur selamanya. Mereka bertiga juga membenahi yang lain seperti panorama kebun bunga, bunga di sekelilingnya, dan lain-lain.

Bu Atun hanya menanggapi itu sebuah cerita dongeng dan berkata dengan tegas, “Ibu tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh kalian. Jawablah dengan jujur!”

“Jika Ibu tidak mempercayai kami tidak apa-apa,” tanggap Hana. “Kami sudah berusaha untuk menceritakan peristiwa ini dengan sebenar-benarnya,” lanjutnya.

Mendengar tanggapan Hana, Bu Atun menyuruh mereka bertiga keluar dari kantor. Mereka serasa bersalah karena tidak sesuai janji untuk tidak mengatakan rahasia ini kepada siapapun. Hana merasa menyesal, begitupun dengan Sri dan Anita. Mereka berharap rahasia ini tidak sampai ke satu kampus. Namun, ada yang mendengar pembicaraan mereka dan dia adalah orang yang selalu membeberkan berita. Akhirnya, berita itu sampai ke satu kampus.

Mereka menyesali ini semua. Padahal, waktunya masih kurang satu bulan lagi untuk melepaskan kesedihan yang Miranda rasakan. Mereka takut rencana psikoterapi ini gagal dan akan berdampak pada kondisinya. Benar saja, banyak mahasiswa dan warga kampus lainnya yang berdatangan ke rumah Miranda untuk mengunjunginya.

Namun, mereka memberi semangat kepada Miranda dengan menuliskan sepucuk kertas harapan dan motivasi disekeliling replika pohon bunga. Kemudian, dari dosen ikut menyemangati lewat sepucuk surat yang diberikan. Mereka bertiga merasa bahagia. Ternyata, apa yang dikhawatirkan Miranda tidak terjadi pada warga kampus tempat dia belajar. Mereka mendukung Sang Putri Salju untuk bersemangat menghadapi hidup tanpa merasa kehilangan lagi.

Satu bulan kemudian telah berlalu. Miranda bangun dengan rasa letih yang teramat dalam. Ketiga temannya menyambutnya dengan bahagia.

“Miranda!” seru Sri. “Kamu akhirnya bangun juga,” tanggap Hana saat Miranda bangun dari tidurnya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Anita dengan halus

“Aku masih belum bisa melupakan semua ini sahabatku,” keluh Miranda yang masih mengingat kehilangan itu.

Kemudian, mereka membawa Miranda ke luar. Tiba-tiba, Miranda dikejutkan dengan warga kampus yang menyambut gembira dengan bangunnya mahasiswa teladan seperti penyambutan kurcaci kepada Putri Salju. “Ini apa?” tanya Miranda terkejut melihat warga kampus yang menyambutnya.

“Kami menyambutmu, berarti kami adalah keluargamu saat ini. Jadi jangan sedih lagi, ya?” seru mereka bersama-sama. “Selamat pagi, Putri Salju!” sambut mereka dengan bahagia.

Sejak hari itu, Miranda menyadari bahwa keluarganya saat ini adalah mereka yang mendukungnya selama ini. Dia menangis rasa terharu, berterima kasih kepada semua yang telah mendukungnya. “Terima kasih, Kurcaciku!” ujar Miranda dengan bahagianya. Akhirnya, semua tertawa bahagia.

SELESAI

 

BIONARASI PENULIS

M. Darisman merupakan penulis yang banyak mencurahkan ide saat #dirumahaja dan menyukai putri tidur dan putri salju. Oleh karena itu, banyak karyanya yang berkaitan dengan cerita putri salju dan putri tidur. Selain itu, dia mengikuti salah satu komunitas literasi yaitu Media Literacy Indonesia. Hubungi IG @ahmad_riezmann dan @hanya_katakata_murah untuk mendapatkan info lebih lanjut.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Jan 11, 2022, 10:16 PM - Media Literacy Indonesia - Intenational
Jan 10, 2022, 9:25 PM - Media Literacy Indonesia - Intenational
Apr 26, 2020, 5:12 PM - Ruang Sekolah
Tulisan Populer
Tulisan Baru
Jul 27, 2022, 10:34 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 9:46 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 8:08 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 7:40 PM - Andi Anis Magfiroh