Dinamika Rindu dan Sebuah Jalan Pulang

Sungai-sungai di perkampungan tak lagi sejernih pikiran embun pagi di pelaminan pucuk-pucuk cendana
Telah miskin ingatan untuk kembali pulang pada garis-garis lurus
Di mana ayat-ayat leluhur menjadi tumbal barter janji
Hingga hujan tak lagi menulis janji kepulangannya
 
Musim panen hampir tiba waktunya
Bakul-bakul masih kosong
Lumbung tak lagi tersedia untuk menyimpannya dengan pujian
Dan nenek sudah tak lagi bergairah menganyam puan untuk para mempelai
 
Perempuan-perempuan desa berbaris mengantri untuk mandi
Sebelum senja pamit dengan sebuah rindunya
Mereka sudah harus berada dalam sunyinya kamar-kamar khayalan kenangan
Dengan sebuah potret lelakinya
Dan balasan surat cintanya
 
Lelakiku yang berdosa
Sebelum tahun berganti angka ganjil
Bawalah aku dalam selimut dan kelambu pudarmu
Untuk beradu kecepatan rindu
Bahwa: aku adalah mempelaimu yang datang dari nadimu
 
...
 
Atambua, 20 November 2020
: sebuah catatan pulang

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Jul 23, 2022, 11:33 PM - lailil farokhah
Jul 20, 2022, 5:04 PM - Ahmad khoirul anwar
Jul 20, 2022, 5:03 PM - Ahmad khoirul anwar
Mar 7, 2022, 8:28 PM - Ruang Sekolah
Mar 7, 2022, 8:28 PM - Ruang Sekolah
Penulis
Tulisan Populer
Tulisan Baru
Jul 27, 2022, 10:34 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 9:46 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 8:08 PM - Andi Anis Magfiroh
Jul 27, 2022, 7:40 PM - Andi Anis Magfiroh