Diksi Ketika Berpuisi

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra, yang peminatnya cukup banyak dan tersebar merata di seluruh dunia. Terutama di negara tercinta Indonesia, sebagai salah satu negara berkembang yang mendapatkan karunia berupa kekayaan sumber daya alam dan masyarakat multikultural. Multikultural ini salah satunya ada pada aspek seni budaya.

Maka tidak mengherankan lagi, jika sastra  berkembang pesat dan selalu mengalami improvisasi (perubahan dan pengembangan ) sesuai dengan kemajuan zaman.

Baca Juga: Materi Lengkap Pengertian Puisi, Jenis dan Contohnya

Bersastra rasanya sudah identik dengan masyarakat melayu yang banyak tersebar di wilayah Asia Tenggara. Akibatnya banyak penyair-penyair dan sastrawan andal lahir di sana.

Marilah kita bersyukur atas setiap karunia ini, jangan ragu untuk menjadi generasi muda penerus cita-cita bangsa, yang mencintai  melestarikan, dan bangga dengan budaya lokal.

Buktikan bahwa budaya lokal seperti sastra mampu bersaing dengan budaya internasional lain, yang perkembangannya juga tidak kalah pesat.

Baca Juga: Cara Mengatasi Kendala Menulis Puisi untuk Pemula, Wajib Kamu Tahu!

Dari pengamatan yang pernah saya lakukan, penulisan karya sastra dalam bentuk puisi cenderung lebih banyak dibandingkan dengan karya sastra lainnya.

Alasannya karena menulis satu judul puisi, biasanya memerlukan waktu relatif lebih singkat dibandingkan dengan karya sastra jenis cerpen, cermin, novelet, novel, dan lainnya.

Namun ada satu hal yang tidak bisa kita mungkiri adalah "kemampuan menulis setiap orang berbeda-beda, tidak bisa di seragamkan.".

Baca Juga: 7 Cara Memilih Diksi dalam Puisi yang Bagus dan Efektif

Kadang-kadang saya menjumpai penulis yang sangat mahir bila membuat cerpen, cermin, novelet, bahkan novel bisa terselesaikan dalam waktu relatif singkat dengan hasil maksimal, namun sangat sulit ketika merangkai puisi begitupun sebaliknya.

Kemampuan orang yang beragam menjadikan munculnya harmoni keindahan akibat adanya perbedaan. Sejujurnya saya termasuk tipe penulis yang cenderung lebih cepat ketika di suruh menulis puisi, dengan tema apa saja.

Semangat dalam lubuk hati lebih membara lagi, apabila di suruh menulis puisi yang bertema sosial dan inklusi (kehidupan bermasyarakat dan penyandang disabilitas).

Baca Juga: Materi Unsur Fisik Puisi dan Unsur Batin Puisi

Ketika kita menulis puisi, sejatinya kita sedang meluapkan emosi yang mungkin saja sedang bergejolak dalam jiwa tetapi tidak bisa terucap melalui lisan. Puisi menjadi sarana cantik dan elegan untuk mengekspresikan setiap emosi manusia.

Emosi tidak harus selalu berhubungan dengan rasa kecewa, kesedihan, dan sakit hati. Kebahagiaan, tawa, dan keceriaan juga bagian dari emosi. Perbedaan keduanya hanya terletak pada dampaknya. Emosi jiwa sangat berperan dalam kesehatan fisik. Berusahalah mengendalikan emosi sebaik-baiknya, agar selalu sehat dan panjang usia. Salah satu cara terbaik untuk pengendalian emosi adalah melalui tulisan ekspresif berupa puisi.

Baca Juga: Cara Memilih Judul Puisi Menggugah Pembaca dan Selalu Dicari

Ketika kita hendak menulis puisi berusahalah merangkai kata demi kata dengan perpaduan indah penuh makna. Keindahan puisi sebenarnya terletak pada diksi (pilihan kata ), majas (perumpamaan ), dan rima (barisan akhir kata).

Untuk memperluas referensi diksi maka harus rajin membaca kumpulan diksi yang biasanya tersedia di aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kamus Tesaurus, dan Kamus Terjemahan agar diksi yang kita gunakan lebih bervariasi, tidak monoton, sehingga puisi yang dihasilkan semakin indah dan memikat hati

"KETIKA MENULIS PUISI TULISLAH DENGAN SEGENAP HATI, BERIMAJINASILAH BAHWA KITA ADALAH OBJEK YANG ADA DALAM PUISI TERSEBUT."

Baca Juga: Puisi Romansa, Alternatif Bikin Pembaca Baper

Sengaja saya tulis menggunakan huruf kapital semua agar tetap teringat dan mampu diaplikasikan ketika mulai menulis puisi. Ada baiknya sebelum memulai menulis puisi kita juga banyak membaca buku-buku puisi, yang sesuai dan setara dengan tema puisi yang akan kita tulis. Kurang lebih baca sepuluh judul puisi.

Saya mengimbau untuk sahabat sekalian, ketika hendak menulis puisi pilihlah tema dan judul menarik. Selain itu ada pesan atau nilai moral yang bisa diambil sebagai hasanah (pelajaran kebaikan)  untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hadirkanlah tema dan judul yang sedang banyak dibicarakan masyarakat. Isilah dengan bait demi bait yang mampu menyentuh hati.

Baca Juga: Sistem dan Mekanisme Komunitas Literasi

Satu halaman satu judul puisi idealnya berisi 4 bait atau 16 baris. Di Komunitas Lingkar Sastra Gombong sebagai salah satu pemerhati puisi yang saya ikuti. Nyatanya puisi tidak selamanya bersifat formal kadang ada juga yang berisi dialog antara hati dengan diri sendiri yang tertuang dalam rangkai aksara.

Kesimpulan

Berpuisilah sebagai sarana pengekspresian emosional. Ungkapkan semua yang bergejolak dalam jiwa, sertakan pesan dan nilai-nilai kehidupan agar bisa diterapkan dalam keseharian.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Tulisan Populer
Tulisan Baru