Cinta Berbingkai Islam dan Pesantren

Judul: Ning, Monggo Nikah.

Penulis: Sa`adah Eljambary

Penerbit: A2 Media Utama

Tahun: 2019

Tebal Halaman: 181 Halaman

Peresensi: Qiey Romdani

 

Jika membaca buku ini akan timbul pertanyaan, mengapa masih membahas cinta? Apalagi pembahasan cinta Islami. Bukannya pembahasan ini sudah banyak ditulis penulis yang lain, terutama profesional seperti Boy Candra, Habiburrahman El-Sirazy, Tere Liye, Asma Nadia, Hanum Salsabila, dan sebagainya. Sebab, buku yang ditulis Sa`ada Eljambary dan diselesaikan di bulan kelahiran Nabi menjadi energi tersendiri untuk meraih cinta sesungguhnya.

Cinta. Iya, sebuah kata romantis yang dimiliki setiap manusia dan tak lelang habis dibahas atau dinarasikan kapanpun. Sebauh kata yang memiliki energi yang dinamis untuk mengubah nasib seseorang menjadi baik atau buruk. Sehingga dalam beberapa kasus, seorang menjadi sukses karena cinta, dan menjadi buruk karena cinta.

Namun, dalam buku “Ning Monggo Nikah”, penulis berhasil mengajak pembaca mengenal cinta dalam sudut pandang positif yang didukung oleh latar dan tokoh orang pesantren. Seperti Gus Irsyad saat diberi tantangan oleh sahabatnya, Jay, untuk medapatkan cewek yang cuek dan sok suci lewat akun facebook Meira. Kemudian, Gus Irsyad melakukan apa yang diperintahkan Jay meskipun memakai akun palsu. Namun, siapa sangka seorang Gus terkenal ganteng, alim dan dilirik para wanita jatuh cinta pada Ammi –akun media Meira- saat kenal pertama meskipun belum tahu wajah aslinya.

“Kamu sudah remaja, Umma harap kalau nanti Irsyad jatuh cinta pada wanita, jangan nyatakan cinta di hadapan si gadis, tapi nytakan cinta di hadapan ayahnya. Ingat ya, Irsyad! Hati wabita itu lembut, jangan pernah menggodanya jika kamu tidak ada niat untuk menikahinya.” (hlm. 18)

Maka, lewat perkataan Umma tersebut, penulis mampu berkomitmen membuat sang tokoh mengungkapkan perasaan di depan ayahnya. Meskipun, ada beberapa rintangan, tapi mampu untuk dilewati. Sebab, cinta dapat mengubah takdir seseorang, seperti saat pengungkapan Irsyad di depan Abahnya, ternyata hampir mendekati perjodohan dengan Zahrah, putri  kiai Ali. Namun, Allah Maha Tahu perasaan seorang hamba dan mengubah perjodohan antara Irsyad dan Zahrah kepada Ammi.

Ada dua point yang dapat saya simpulkan dari buku tersebut:

1.      Cinta Islami

Semua orang pernah jatuh cinta, tapi untuk mencapai ke-islam-an dalam bercinta hanya sebagian orang yang melakukan. Sebab, menyandang kata “Islam” begitu sulit diaplikasikan pada perasaan. Islam di sini, meliputi penerapan nilai Islam dalam bercinta. Bukan, lagi cinta yang dibingkai dengan nafsuh atau duniawi semata. Pertanyaannya, bukannya cinta itu suci, fitrah sementara relevan dalam persepektif cinta?

Maka, lewat buku Ning Monggo Nikah, penulis benar menerapkan cinta Islami di dalamnya. Bagaimana seorang lelaki dalam menaruh perasaan, bukan lantas mempermainkan, melainkan menyatakan langsung di hadapan sanga ayahnya. Juga, bukan untuk merendahkan martabat seorang perempuan di depan orang lain, melainkan menjunjung harga diri bahwa semua manusia tidak sempurna dan berproses mencapai kesempurnaan.

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia yang kucinta sudah kembali. Tugasku hanya menjaganya agar tidak lagi tersakiti. Dia berharga bagiku, aku akan melindunginya dari air mata kesedihan. Jika memang harus menangis, aku ingin air mata yang menetes karena kebahagiaan, bukan sebuah penderitaan. (hlm. 122)

2.      Cinta Pesantren

Terbersit dalam banyangan pembaca, cinta bernuasa pesantren atau cinta yang lahir dari pesantren yang sekarang dilakukan para santri. Sebab, pesantren tidak hanya mengajarkan kitab, lebih-lebih menumbuhkan cinta santri dan santriwati di dalamnya.

Tentu hal tersebut menjadi kesempatan para santri untuk memilih pendamping hidup seorang santriwati, selain faham mengenai agama terutama hal intensif wanita, seperti darah haid, nifas, istihadah dan sebagainya. Juga, para santriwati mayoritas menyandang kata “perawan”, berbeda dengan perempuan luar lewat pergaulan bebas sehingga kehormatan dirinya diberikan pada lelaki lain secara suka sama suka atau dipaksa karena terjebak pergaulan bebas.

Tidak hanya sampai penafsiran di sini, bahwa cinta pesantren, yaitu cinta antara santri dan santriwati harus mengikuti tradisi pesantren. Sebab, pesantren lebih memiliki gaya mendidik dan menjalani pelatihan sebelum sang mempelai menjalani rumah tangga baru.

Maka, lewa buku ini, penulis menarasikan tradisi pesantren, yaitu tabarru`. Tradisi yang dilakukan pihak perempuan yang hendak menikah tabbarukan di sebuah pesantren. Biasanya mereka ikut ngaji kitab, hataman Al-Qur'an, dan juga bantu ndalem. Berharap semoga nantinya pernikahan yang dijalani berkah dan maslahah. (hlm. 64)

Namun buku ini, selain ditulis indah dan feel yang membuat pembaca tertawa lewat guyon atau rayuan sang Gus yang kepepet menikah, tidak lepas dari sebuah kekurangan. Kekurangan dalam buku ini terdapat pada bahasa jawa yang oleh sang penulis tidak di translete ke dalam bahasa Indonesia, sebab pembaca nantinya bukan selamanya orang jawa. Namun, dari kekurangan tersebut tidak mengurangi keindahan dan kelebihan dalam buku tersebut.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Apr 11, 2020, 5:49 PM - Ruang Sekolah
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin