Childfree: Pilihan, Stigma, dan Hal-hal yang Menyelimutinya

Pernikahan adalah peralihan status anak menjadi istri atau suami yang akan memulai kehidupan baru. Seperti yang tertuang dalam Pasal 1 Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, menurut pasal tersebut, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebuah keluarga (rumah tangga) pada umumnya terdiri dari seorang suami, istri, dan anak. Struktur rumah tangga yang demikian dianggap normal dalam standar kehidupan masyarakat. Apabila terdapat aspek yang dirasa tidak sesuai dari pandangan masyarakat maka sebuah keluarga dianggap menyimpang dari nilai norma, tradisi, bahkan aturan agama. Salah satu aspek yang mendapat stigma negatif dari masyarakat adalah adanya childfree.

Childfree merupakan keputusan seseorang yang tidak ingin memiliki anak setelah menikah. Childfree, yang dapat dikatakan sebagai lifestyle ini otomatis menentang konsep keluarga tradisional yang menekankan kalau tujuan menikah yaitu untuk melanjutkan keturunan terutama secara biologis.

Baca Juga: Hal Penting Wajib Diketahui Sebelum Menikah

Namun, dari pelaku childfree sendiri memiliki pandangan yang berbeda. Mereka mempunyai alasan dan latar belakang masing-masing saat memutuskan untuk tidak memiliki anak (childfree). Pasangan yang memilih gaya hidup tersebut tentu saja tidak langsung memutuskan tanpa memikirkan masak-masak, apalagi pelaku childfree hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang masih konservatif.

Walaupun childfree dianggap menyimpang dari konsep berkeluarga, namun lifestyle ini menjadi tren dan menjamur di Indonesia bahkan mancanegara.

Internasional Business Times melaporkan perkirakan dari Biro Statistik Australia, bahwa akan ada lebih banyak pasangan yang hidup tanpa anak daripada keluarga dengan anak pada tahun 2023 dan 2029. Selain itu, Leah Ruppanner seorang sosiolog dari University of Melbourne mengatakan bahwa tren ini paling terasa di Korea Selatan dan Jepang, di mana populasinya menyusut karena tingkat kelahiran yang rendah.

Sedangkan di Indonesia angka kelahiran terus mengalami penurunan, berdasarkan hasil sensus penduduk dari BPS menunjukkan bahwa terdapat penurunan laju pertumbuhan penduduk.

Pada tahun 2010-2020 laju pertumbuhan penduduk menunjukkan angka 1,25% menurun dari periode sebelumnya pada 2000-2010 yang menunjukkan angka 1,49%.

Baca Juga: Bulan Berlutut Di bawah Kaki Preman

Terkait data-data tersebut, menunjukkan bahwa childfree memang bukan fenomena baru lagi. Hanya saja karena childfree merupakan keputusan kontroversi sehingga menimbulkan pandangan lain dari masyarakat.

Latar belakang seseorang memilih childfree pun beragam, mulai dari terkait masalah psikologi, ekonomi, lingkungan, bahkan anggapan pelaku childfree bahwa dunia merupakan tempat yang penuh kekerasan dan tidak sesuai dengan anak.

Ada beberapa orang yang beranggapan bahwa childfree merupakan keputusan yang aneh. Bagaimana mungkin pasangan tidak mengharapkan buah hati di tengah-tengah keluarga, bukankah anak merupakan sumber kebahagiaan utama bagi seseorang yang telah menikah? Bahkan ada anggapan bahwa pasangan suami istri bisa mengalami keretakan hubungan karena tidak ada kehadiran anak diantara keduanya.

Dan jika dikaitkan dengan aspek agama, hadirnya anak adalah sumber rezeki bagi orangtuanya. Belum lagi, desas-desus di masa tua bahwa pelaku childfree akan merasa kesepian tanpa sosok anak dan berakhir menyesal.

Penelitian yang dilakukan oleh Yahoo Peranting dan Care.com menunjukkan hasil survei yang dilakukan pada 1800 orang yang memiliki anak maupun tidak pada April 2015 dan menemukan bahwa lebih dari 90% pasangan tanpa anak merasa hidup mereka bahagia.

Menurut Shinta Maharani (Ketua Aliansi Jurnalistik Independen Yogyakarta) berpendapat bahwa setiap manusia memiliki otonomi untuk memutuskan jalan hidupnya sendiri, sehingga ketika mengambil sebuah keputusan dengan cara bertanggung jawab itu bukanlah pilihan yang egois.

Memiliki anak atau tidak memiliki anak merupakan hak setiap perempuan , hak atas otoritas tubuh perempuan, dan jika kemudian ada paksaan perempuan harus mempunyai anak sedangkan dia tidak mau atau tidak berkehendak itu artinya sebuah penindasan terhadap otoritas tubuh perempuan.

Seorang penulis kelahiran Ende, Victoria Tunggono, awal tahun 2021 menerbitkan sebuah buku ‘Childfree & Happy’ yang memuat cerita-cerita dari pelaku childfree dan alasan mengapa mereka tidak mau mempunyai anak.

Baca Juga: Mencari Pasangan Bukanlah Ajang Lomba, Tetapi Cari yang Sehati

Sebagian besar alasan yang ditemukan Victoria dari cerita narasumbernya adalah terkait masalah psikologi serta genetic.

Mereka yang berasal dari keluarga toxic tidak mau anaknya kelak mengalami hal yang sama, selain itu faktor ekonomi keluarga juga menjadi alasan seseorang lebih memilih untuk childfree.

Banyak pertimbangan kebanyakan datang dari faktor-faktor luar, termasuk lingkungan (environment). Pandangan bahwa dunia itu sangat negatif, kejam, dan setiap satu orang membawa jejak korban.

Keputusan seseorang memilih childfree bukan tanpa konsekuensi. Hal paling umum yang dialami mereka adalah dijadikan bahan pembicaraan pada suatu circle, tidak menutup kemungkinan mereka juga akan dikucilkan.

Stigma negatif yang sudah melekat pada masyarakat terkait childfree juga membawa tekanan sosial yang besar, belum lagi keluarga yang juga tidak pro dengan keputusan pasangan yang memilih untuk childfree, sehingga hubungan antara keluarga baik dari orang tua, kerabat, atau orang terdekat dapat merenggang serta keruh.       

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles