Cerpen Kenakalan Anak Korban dari Perceraian

Di hari Rabu yang cerah ini kita bersemangat berangkat ke sekolah. Sekolah kami tak jauh dari tempat tinggal kita. Jadi kita selalu bersepeda untuk pulang pergi ke sekolah ditambah lagi kita selalu satu kelas sejak SD sampai sekarang yang mau lulus SMP menjadi salah satu alasan kita untuk selalu bersama.

"Bro.., ke kantin yuk beli minum aku haus, nih." Aku mengajak Dinda ke kantin.

"Aku males keluar kelas, kamu ke kantik sendiri ya soalnya aku mau buat puisi untuk lomba online," jawab Dinda yang menolak ajakanku.

"Iya nggak pa pa. Kamu mau nitip sekalian nggak?" Jawabku dengan nada agak tinggi.

"Nggak, aku sudah bawa air minum dari rumah." Dinda menolak tawaranku karena dia bawa air minum dari rumah.

Setelah antri di kantin untuk mendapatkan es teh yang segar ini, saatnya aku kembali ke kelas dan menikmati es teh. Beberapa menit kemudian aku sampai di kelas dan kunikmati es teh yang baru saja saya beli, belum sampai habis tiba-tiba Bu Ani datang ke kelas dan memanggilku. Perasaan ku sudah deg-degan kenapa Guru BK memanggilku. Sesampainya di kantor Bu Ani menanyai ku

"Hana, kemarin saat jam istirahat waktu jam bambahan kamu merokok di kelas ya?" tanya Bu Ani

"Iya Bu, maafkan aku ya Bu," jawabku sambil menunduk malu dan meminta maaf.

"Kamu tau nggak bahaya merokok bagi perempuam terutama bagian rahim," tanya Bu Ani sambil memberitahh ku bahaya rokok.

"Sudah tahu, Bu," jawabku dengan nada pelan karna malu.

"Emang kamu ada masalah apa sampai kamu melakukan hal yang sangat berbahaya bagi tubuhmu itu, terus sejak bulan ini kamu juga sering bolos. Coba  ceritakan pada ibu, saya akan mendengarkan semua ceritamu," ucap Bu Ani yang panjang kali lebar.

"Keluarga saya sedang ada masalah sampa mereka berdua berpisah dan memperebutkan aku, itu yang membuat saya frustasi sampai melakukan hal itu agar frutasi saya hilang. Waktu saya bolos sekolah saya nggak ke mana-mana saya hanya di rumah dengan di temani sebungkus rokok dan sebotol bir agar saya bisa tenang," jawab saya yang sejujur-jujurnya.

"Astagfirullah, Hana kenapa kamu melakukan hal itu. Kenapa kamu nggak temui saya dan menceritakan hal yang menggangumu " Bu Ani sangat terkejut mendengar ceritaku.

"Kalau kamu ada masalah seharusnya kamu mendekat kepada Allah, berdo'a meminta pertolongan kepada Allah dan membaca Al-Qur'an bukan menjauh dari Allah dan merusak dirimu sendiri," nasehat Bu Ani.

Tanpa kusadari  air mata sudah menetes membasahii pipiku. Dan tiba-tiba Bu Ani mendekatiku mengusap air mata yang membasahi pipiku lalu memeluk tubuhku sambil berbisik di telingaku.

"Mulai sekarang kamu harus berhenti melakukan hal itu ya, jangan kau rusak masa depanmu yang indah. Kalau ada masalah kamu bisa menceritakannya dengan saya, saya akan selalu mendengarkan dan memberikan solusi yang terbaik untukmu," bisik Bu Ani tepat di telinga saya.

"Ayo saya antarkan kamu ke kelasmu," ajak Bu Ani sambil menggandeng tanganku.

Saat menuju ke kelas Bu Ani memberikanku nasehat tentang makna hidup. Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di depan  kelas lalu aku masuk ke kelas dan Bu Ani kembali ke kantor.

"Tadi kamu pas ke kantor ngapain aja kok lamu," tanya Dinda yang penasaran.

"Soal aku kemaren yang merokok di kelas," jawabku.

"Kan aku sudah ngingeten kamu, malah kamu sepelekan, sekarang udah tau kan akibatnya." Dinda memerahiku karena aku tidak menuruti apa yang diucapnya.

"Iya iya maafin aku, mulai sekarang aku nggak akan melakukannya lagi." Maafku ke Dinda agar aku tidak dipukuli oleh Dinda terus.

"Kamu itu dari dulu nggak berubah, dengerin nih quotesku *Alasan kamu berubah yaitu karena kamu sadar akan kesalahan-kesalahan yang telah kamu berbuat, jika kau berubah menjadi baik karena orang lain dan suatu saat orang itu pergi meninggalkanmu, maka aku akan kembali ke semula di mana akan mengilangi kesalahan-kesalahan yang sama* pahamkan kamu." Nesehat Dinda yang panjang kali lebar sampe pusing kepalaku.

"Iya aku paham, makasih telah menjadi teman & sahabatku yang selalu mengingatkanku saataku mekalukan kesalakan," jawabku dan berterima kasih ke Dinda.

"Iya sama-sama," jawab Dinda.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Okt 26, 2020, 4:39 PM - Fandi Ahmad syah
Agt 11, 2020, 8:53 PM - Ruang Sekolah
Jul 11, 2020, 8:46 PM - Pohon Jalang
Penulis

Pohon Jalang, wanita yang menyukai bidang otomotif terutama otomotif sepeda motor, dan sastra. Sejak SD saya menyukai buku novel dan buku-buku sastra lainnya. Saat menginjak smk memilih kejuruan TBSM (Teknik Bisnis Seoeda Motor) dan mulai menulis saat masih smk kelas 12. Untuk kamu yang ingin bertukar ide atau bercerita bisa follow fecebook aku @Priyanti.

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton