Cara Mengurangi Kecanduan Game Online Anak Berdampak pada Nilai Turun Secara Drastis

Pertanyaan para orang tua sekarang, bagaimana cara mengurangi kecanduan anak pada game online berdampak nilai sekolah turun drastis? Pertanyaan, ini yang sering saya dengar lewat perkumpulan para ibu-ibu di sekolah. Sadar atau tidaknya, sang anak pasti bermain di dunianya sendiri meskipun orang tua melarangnya. Namanya juga dunianya, pasti merasa nyaman di dunia tersebut.

Melihat keinginan para orang tua, hasrat saya tumbuh untuk menuliskan beberapa cara mengurangi kecanduan game online pada anak dapat diatasi dengan mudah dan tepat. Apalagi di ruang lingkup pendidikan, tentu sebagai orang tidak ingin nilai sang anak turun dan tertinggal di kelas. Oleh karena itu, saya akan menguraikan statemen dan cara mengatasi kecanduan game online pada anak yang berdampak pada nilai turun drastis.

A. Game Online dan Dunia Anak

Pada dasarnya, bermain game ditunjukkan untuk mengusir kelelahan dari aktifitas hidup. Bagi pelajar, dapat dimanfaatkan untuk mengisi luang atau menghidur diri dari aktifitas belajar di sekolah yang rumit dan berjibaku dengan buku-buku pelajaran. Selain itu, game online juga sebagai wadah berkumpulkan anak muda dalam komonitas untuk meningkatkan sosial kebersamaan yang tinggi.

Game online di zaman ini bukan hal yang lumrah lagi, dengan segela inovasi kecanggihan teknologi setiap harinya yang mampu membuat seseorang kecanduan tanpa melihat batas umur, baik tua atau anak-anak. Semuanya terjun menikmati gaya tren di era modern seperti ini.

Jika dulu saya bermain game secara offline lewat ponsel jadul, yaitu Sudoku, ular, super hero, dan lainnya. Tapi, di era sekarang yang lebih instan lagi, yaitu secara online dan bersaing dengan orang banyak yang jauh dari tempat kita, seperti Mobile Legend, PUBG Mobile, Garena Free Fire, Garena AOV,  Clash Of Clans, dan masih banyak lagi.

Saya ingat betul bagaimana rasa bahagianya saat bermain hompimpa, ular tangga, lalat buta, lompat tali, petak umpet, dan sebagainya. Meskipun saat itu, dunia teknologi di Indonesia tak sepesat dan secanggih sekarang. Namun, keasyikan  dan tawa teman-teman menjadi energi tersendiri yang mampu menciptakan kenyaman dan perdamaian.

Jika Anda bertanya, mana lebih butuh antara game online dengan makanan? Tentu jawabannya adalah game online, meskipun makanan adalah kebutuhan primer manusia. Tapi, pada kenyataannya, seseorang yang kecanduaan game online, waktu makannya pun akan terbuang. Iya, jika sang pecandu adalah orang dewasa yang bisa berpikir jernih, mampu memfilter kebutuhan dan keinginan. Namun, bagi anak-anak, tentu yang terlihat di depannya adalah bagaimana memenangkan permainan tanpa berpikir kebutuhan dan keinginan. Sebab, dunia anak di bawah umur 20 tahun, masih dunia kesenangan, yaitu apa pun yang dilihat dan dirasakan akan menyenangankan, seperti game online tersebut.

Pertanyaan kita, kenapa game online lebih digandrungi anak-anak sekarang? Di sini saya akan menguraikan beberapa alasan di bawah ini:

1. Tampilan yang Menarik

Game yang dikemas secara menarik mampu meningkatkan gairah anak untuk melakukannya, sebab otak anak terpusat pada ketertarikan pada suatu benda. Contohnya, seperti game tiga dimensi, tentu gambarnya akan terlihat nyata disertai dengan animasi dan suara yang canggih, baik suara yang ditimbulkan dari game sendiri, atau teman kita MABAR (Main Bareng) untuk kerja sama menuntaskan musuh.

2. Tingkatan dan Bonus

Semakin tinggi tingkatan game sang anak, maka ia akan senang dan mampu mengalahkan lawan di tingkatan paling bawah. Maka, pada tingkatan teratas akan mendapatkan bonus yang besar juga. Untuk mencapai pada tingkatan tertinggi, dibutuhkan kerja ekstra, sebab lama meninggalkan game tersebut, akan tersaingi lawan kita untuk meraih tingkatan yang tinggi. Tentu kita akan kewalahan melawan lawan yang berada pada tingkatan lebih tinggi.

3. Komonitas

Komonitas game saat ini banyak, ada dua dampak, positif dan negatifnya. Pertama, dampak postif; dapat membuat otak anak terasah bermain game dan semakin pintar, lalu ikut kompetisi game online dapat memenangkan kejuaraan. Kedua, dampak negatif; sang anak dapat melupakan jam makan, jam shalat, jam belajar, jam tidur dan sebagainya, sebab keasyikan Main Bareng bersama teman komonitasnya.

Itulah beberapa alasan kenapa game online lebih digandrungi anak mudah sekarang, daripada pendidikan dan bercita-cita yang tinggi. Tentu sebagai orang tua harus faham dunia anak ketimbang dunianya sendiri, tapi bagaimana cara menyelaraskan dunia anak dengan dunia pendidikan? Saya akan mengulasnya di bawahnya ini.

B. Dunia Anak dan Dunia Pendidikan

Orang tua siapa yang gak bahagia jika sang anak juara kelas bahkan bintang kelas, baik secara akademisi atau ekstrakulikuler? Tentu semua orang ingin merasakannya, bukan. Kebahagian orang tua saat melihat anak berprestasi, tak bisa dinilai dengan materi apa pun, bahkan dia menangis bahagia di depan orang tanpa rasa malu sedikit pun. Namun, bagaimana jika sang anak dapat nilai jelek bahkan tertinggal oleh temannya, sebab kebolosan main game dan lupa pelajaran esok hari.

Banyak keluhan orang tua dan menyesali dirinya sendiri jika melihat nilai rapor sang anak jelek bahkan anjlok. Bahkan mereka memarahi sang anak sampai memukulnya. Tapi, pada kenyataannya, orang tualah yang tidak mengawasi perilaku sang anak, seolah dirinya sibuk dengan dunianya sendiri dan anak juga sibuk dengan dunianya juga. Maka, bukan hal mustahil apabila nilai rapor anak buruk dan ia tertinggal dari temannya.

Pada artikel ini, saya akan membahas bagaimana cara mencegah kecanduan game online pada pelajar.

1. Mengatur Waktu Belajar dan Waktu Bermain

Mengatur waktu sangat penting bagi kita, agar hidup berasa diatur dan tidak bebas sebebasnya dalam melakukan hal di luar kepentingan. Apalagi di hadapi dengan dunia pendidikan dan dunia online, yaitu tidak lepas dari aturan waktu belajar dan waktu bermain. Sebagai orang tua terdidik, mengatur waktu ini sangatlah optimal dalam menunjang prestasi anak, misalnya di jam 07-09.00 WIB anak harus belajar. Maka, usahakan anak belajar di bawah pengawasan orang tua dan melarang anak melakukan apa pun di waktu yang ditentukan. Khusus orang tua, keistiqomahan dalam mengawasi juga penting, agar anak tidak melakukan hal buruk di luar pengawasan dan jam yang ditentutkan.

2. Menabung Uang untuk Hal yang Bermanfaat

Kita tahu bahwa modal bermain game adalah kouta. Kouta didapatkan dengan uang. Coba kalkulasikan, jika setiap setengah bulan anak membeli kouta 4,3 GB seharga Rp. 60.000, lalu ditambah dengan setengah bulan lagi, bulan depan? Dalam 3 bulan terakhir, berapa uang sang anak habiskan untuk membeli kouta game? Bahkan ada yang lebih dari kouta yang saya berikan. Anda bisa mengihitung sendiri pakai kalkulator sendiri. Kemudian, bayangkan jika uang tersebut dibelikan buku, alat sekolah, seragam sekolah, keperluan rumah tangga, keperluan anak, atau ditabung untuk biaya pendidikan. Tentu akan lebih bermanfaat lagi ketimbang membeli kouta game.

3. Banyak Melakukan Ibadah

Seseorang yang pernah menikmati energi ibadah kepada Tuhan, maka ia akan melupakan kegiatan yang lain. Begitu juga sebaliknya, jika sudah merasakan kenikmatan game online, maka akan melupakan ibadahnya. Banyak fakta yang sering saya temukan di masyarakat, sang anak masih saja asyik dengan ponsel pintar, berteriak, dan tertawa keras tanpa menjawab suara azan, panggilan Tuhan. Untung-untung sang anak bisa sholat di akhir waktu daripada ia lupa terhadap shalat dan Tuhannya.

4. Membuat Perencanaan Hidup Ke depan

Sebagai orang tua, kita punya kewajiban untuk membimbing anak untuk lebih baik ke depannya, bukan malah membiarkan begitu saja. Tugas orang tua tidak hanya untuk melahirkan dan menghidupi kebutuhan anak, melainkan membantu merencanakan masa depan anak agar hidup bahagia dan sejahtera di masa akan datang. Maka, sang anak disibukkanlah belajar mengenai banyak hal, baik pengalaman, jalan-jalan, dibelikan buku kesukaan, dibimbing eksperimen, dan sebagainya.

5. Berteman dengan Orang Baik dan Memiliki Tujuan

Pengaruh terbesar seseorang yaitu teman. Dalam filosofi orang dulu, jika berteman dengan maling, pasti ikut maling. Namun, berteman dengan tukang minyak, pasti ikut harum. Filosofi tersebut mengajarkan kita untuk memilih teman yang baik memiliki tujuan hidup, maka kita akan termotivasi untuk bergerak mengikuti langkahnya.

6. Perbanyak Aktifitas Luar

Memperbanyak aktifitas di luar juga dapat membantu anak menjauh dari dunia online yang menjerat. Sebab, anak melakukan game, selain faktor kesenanan, juga mengisi ruang kekosongan. Lah, ruang yang kosong itu para orang tua manfaatkan untuk beraktifitas di luar, seperti memancing, bermain layangan, bermain kelereng, memanjat pohon, jogging, dan lainnya.

7. Metode Spritual Thinking

Metode ini, yaitu mengalihkan energi dan gairah pelajar untuk berkeatif, inovatif dan berpikir postif. Jika dirinya mampu memprogami dunia game online, juga bisa memprogrami dirinya bereksperimen dan berinovasi dalam menciptakan sesuatu yang lebih baik dan bermutu, seperti teknologi robot, mendaur ulang sampah menjadi perhiasan jutaan, dan sebagainya.

C. Kesimpulan

Dari beberapa tulisan saya di atas tentang cara mengurangi kecanduan game online anak berdampak pada nilai turun secara drastis tergantung pada pola pengawasan orang tua pada anaknya. Juga, sang anak mampu berpikir jernih masa depan yang lebih cerah, antara dunia pendidikan dengan dunia game online lewat bantuan tangan kanan orang tua langsung. Maka, terciptalah pola pikir lewat energi postitif yang diberikan orang tua pada sang anak, agar di masa akan datang, ia menjadi orang terpandang dan berpendidikan yang tinggi.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton