Bulan Berlutut Di bawah Kaki Preman

Aku adalah perempuan dari di desa Geringsang. Konon, Gersingsang berasal dari kata gersang atau panas, sebab perwatakan masyarakat mengikuti geografis yang keras. Ada satu hal yang menarik, masyarakat Gerisngsang tak seperti orang kota dengan serba mewah tapi belum berkecukupan, bahwa selalu diperbudak hasrat keinginan.

Di desa ini aku dibesarkan dan dididik dhohir dan batin oleh orang tua. Mereka adalah guru pertama sekolah. Tak sedikitpun ada rasa bosan dan mengharapkan imbalan, namun peran pengabdian orang tua pada anak tetap menjadi nomor satu. Terkadang, aku yang nakal saat diperingati dan jangan mengulangi kesalahan dengan cara menepis perkataan mereka. Istilahnya “Masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri”, seolah aku selalu benar, tho aku anak pertama dari pasangan mereka.

Menginjak usia dewasa, bahwa tradisi desa Geringsang sepantasnya seorang perempuan segera dinikahi, sebab masa dewasa adalah generasi emas untuk menambah keturunan yang banyak. Sebenarnya, pemikiran leluhur menurutku salah, tapi tradisi tetap harus dilestarikan meskipun salah, tho pada akhirnya menikah muda bukan menambah keturunan yang banyak, melainkan mengumpulkan beberapa kayu dan kemudian menyulutnya pelan-perlahan.

Pernah aku bertanya pada ibu, “Kenapa Mashitoh selalu bertengkar dengan suaminya, bukankah mereka baru menikah satu bulan yang lalu?”

Ibu menjawabnya, “Ya, seperti itu setiap keluarga. Keluarga tanpa konflik tidak akan romantis.”

Seperti itu yang selalu kudengar dari mulut ibu, bahkan masyarakat yang pernah kutemui. Menurutku, jawaban mereka tidaklah logis, memang dalam keluarga konflik itu dibutuhkan untuk menambah keharmonisan hubungan, tapi konflik tersebut muncul dari permasalahan umum kemudian dispefisik ke masalah pribadi.

Siapa sangka beribu pertanyaan tertimpa pada diriku sendiri. Aku dipaksa menikah di usia muda oleh ayahku yang keras tapi berprinsip, jika merah tetap merah. Beribu cara menolaknya, namun prinsipnya tetap kuat bagaikan baja besar yang sulit untuk dipindahkan. Ibuku juga mendukung untuk segera memenuhi permintaan ayah, sebab gunjingan tetangga bagai menusuk keluarga dari arah yang berbeda.

Pertanyaannya, apa yang harus aku lakukan? Lanjutkan pendidikan? Tho, pendidikanku hanya sampai tingkat SMA, itu pun rata-rata remaja di desa ini. Sementara, umurku masih muda lebih cocok menghibur diri dan bermain layaknya orang lain. Namun, ayah terlebih dahulu menerima lamaran orang lain yang tidak kukenal sebelumnya tanpa sepengatuanku. Memang dalam agama, seorang perempuan perawan harus dipaksa menikah, berbeda dengan janda. Iya, begitulah aku saat ini. Siti Nurbaya milienal.

***

Namaku, Bulan. Ibu menafsirkan bahwa aku adalah perempuan yang mampu bertahan, layaknya bulan. Ia bisa hidup di malam hari dan mampu bertahan di siang hari meski remang-remang.

Hari pun menjadi saksi pernikahanku dengan seseorang yang tak dikenal. Saat aku menatap calon suami di depan pengulu sambil menggemgam tangan untuk melangsungkan akad pernikahan. Entah, mengapa hatiku menangis, apakah nasib ke depan akan sama dengan perempuan  desa yang menikah muda? Tak ada beban dan halangan, akad pun selesai.

Sengaja aku tak mecari tahu asal usul keluarga sang suami, sebab larangan keras ayahku bagai petir yang menyambar. Malam pertama pun kulalui. Perawanku habis direnggut sang suami. Air mataku meleleh. Nasibku menjadi pertanyaan, apakah sama dan apakah sama?

***

Seminggu kujalani dengan sedikit tenang, meski kadang suami sering pulang malam. Entah, apa yang dilakukannya. Aku pun tetap berpikir positif layaknya istri pada umumnya, mungkin kerja atau ada urusan yang lain.

Sebagai istri, aku melayani dhohir dan batin sebagai tanggung jawan yang besar. Sampai suatu ketika aku menanyakan makanan yang hampir habis, tapi belum ada jatah uang belanjaan.

“Mas! Besok makan apa?” ujarku pada Mas Jalil, suamiku, saat asyiknya tersenyum dengan android canggih di genggamnya.

“Di dapur banyak,” jawabnya ketus tanpa menoleh sedikitpun.

“Tidak ada, Mas! Semuanya habis dimakan hari ini.”

“Sana! Cari keluar!” ujar mengeras sambil menunjukkan telunjuk ke arah pintu. Mata masih melotot pada ponsel. Entah, apa dengan ponselnya.

“Uangnya?” tanyaku menunduk.

“Keluar!!!” bentaknya.

Aku pun keluar. Air mata membanjiri wajah mulusku. Sesekali melihat Mas Jalil, namun  tetap pada posisi semua, senyum sendiri dengan android canggihnya. Entah, aku harus ke mana? Uang pun untuk membeli belum ada. Besok mau makan apa? Beribu pertanyaan mengelilingi otakku.

Aku berhenti di sebuah toko Basmalah. Makanan yang disajikan begitu lezat sampai cacing perutku memanggil memintah jatah.

“Bulan! Ngapain ada di sini,” ucap seseorang menepuk pundakku.

Aku terkejut dan melihatnya, “Eh, Tasya! Enggak ada.”

“Kamu lapar?” tanyanya sembari melihat tanganku memegang perut. Kemudian, Tasya menarikku masuk ke restaurant Basmalah. Awalnya aku menolak, namun dia mengucapakan, “reautarant ini punyaku. Kamu bisa makan apa saja di sini,” tambanya menghilangkan keraguan yang berkecamuk dalam pikiran. Tanpa ragu aku masuk dan duduk bersamanya di pojok ruangan.

“Suamimu mana?” tanya Tasya. Pertanyaan yang membuat air mataku kembali mengalir. “maaf! Bukan bermaksud lain, namun aku hanya mau memastikan bahwa kamu baik-baik saja dengan Jalil.”

Aku pun mengangguk. Tapi dia melanjutkan ceritanya, “Awalanya, sebelum Jalil meminangmu, terlebih dahulu dia melamarku tapi aku menolaknya, sebab aku tahu kelakuan buruknya yang membuat orang lain tidak suka,” ujarnya sambil berbisik di dekat wajahku. “tapi, kamu jangan bilang pada siapa-siapa?” Aku pun mengangguk. Air mata tetap mengalir.

“Jalin seorang preman. Dia suka mempermainkan wanita dengan kota ganti pasangan. Tak ada yang berani melapornya, karena desa Geringsang jauh dari kota dan masyarakat takut pada ayahnya. Ayahnya jadi nomor satu di desa ini, tidak ada kemalingan sapi ataupun kerusuhan, seolah desa aman-aman saja.” Air mata deras sekali. Aku tak bisa berkata, seolah mulut terkunci seketika. Tanpa menunggu makanan di meja, aku pun keluar tanpa memperdulikan beribu mata memandang dengan tatapan aneh, bahkan panggilan Tasya. Terpenting aku harus sampai di rumah orang tua untuk minta pertanggungjawaban.

Sesampainya di rumah tak ada siapa pun. Rumah yang dulunya ramai dengan suaraku, kini terlihat sepi. Rumah yang dulunya bersih, kini debu bertebaran. Ke manakah orang tuaku? Aku membuka pintu rumah yang sedikit mengarat sehingga mengeluarkan suara gesesakan besi karat. Aku memanggil nama ibu dan ayah pun tidak ada saut dari keduanya. Kemudian, aku menuju ke kamar ayah dan ibu. Terlihat dua sosok tertidur dengan memakai selimut sampai menutupi wajahnya. Pelan-pelan kaki melangkah, menyingkap selimut yang menutupi. Betapa kagetnya, orang tua yang menjadi pahlawanku terbujur dan bersimbah darah. Siapa yang membunuh orang tuaku? Siapa yang menyibak cahaya bulan di hatiku? Pertanyaan yang tak kujawab dalam hati. Kemudian, aku menemukan sebersit surat  digenggaman ayah.

“Dia suami sahmu, jika suatu saat kamu dilukainya, jangan pernah membalas. Bukan cara itu didikan ayah dan ibu padamu. Maafkan Ayah! Selama ini  memaksamu menikah karena ayah gak bisa menolaknya. Dulu ayah sekomplotan dengan Pak Samat, ayah suamimu. Terpaksa bapak dan ibumu menerimanya, meskipun sebenarnya tidak setuju. Kamu anak yang baik dan tak sepantasya memiliki suami raja maling. Satu hal lagi, jika bapak dan ibu mati sebelum mengusap air matamu, jadilah bulan yang kuat meski remang-remang di antara sinar matahari. Apa pun yang kamu terima, Jalil adalah suamimu. Jadilah seperti ibumu, yang mampu mengubah sikap ayahmu ini. Terakhir, kami minta maaf.”

Aku tertunduk lesu. Orang tuaku meninggalkan anak semata wayangnya yang sangat butuh kasih sayang dan balaian keduanya. Aku mencium kaki bapakku, mantan maling desa Geringsang bahwa aku menerima permintaan maafannya untuk sekian kalinya, dilanjutkan dengan mencium kaki ibu, wanita kuat yang memberiku nama Bulan.

 

Pamekasa, 26 Januari 2019

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Jun 29, 2020, 6:53 AM - Ruang Sekolah
Apr 7, 2020, 9:56 AM - A. Jennifer Caroline
Feb 9, 2020, 3:32 PM - Yusriani Febrian Ramadani Putri
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Jun 10, 2020, 4:58 PM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin
Apr 11, 2020, 5:49 PM - Ruang Sekolah