Berdamai Dengan Takdir

"Arrrghh!" seorang gadis sedang begitu emosi. Terlihat dari wajahnya yang tidak ada senyum dan gerak-geriknya yang mengerikan.

Gadis itu mengacak rambutnya dengan frustasi dan tidak berselang lama buliran bening dari kelopak matanya membasahi pipi mulus miliknya.

"Apa kurangnya aku?!" ucap gadis itu dengan suara yang terdengar sangat parau. Kini, matanya sudah mulai sembab karena terus menerus menangis.

Gadis itu bernama Citra, seorang mahasiswi semester pertama dan juga seorang model. Ia pintar terbukti dirinya berhasil masuk kuliah dengan beasiswa. Mempunyai bentuk wajah oval, alis tebal, pipi tirus, dan kulit putih, dengan tinggi 160cm dan berat badan 42kg. Membuat Citra terlihat cantik dan begitu langsing, wajar saja kalau dia berhasil menjadi seorang model. Pintar, cantik, terkenal dan mapan lalu apa yang kurang dari seorang Citra?

"Kenapa kamu tega berselingkuh dan main di belakang aku dengan gadis lain?!" ucap Citra lagi.

Ia memerhatikan foto yang tertera di layar ponselnya. Foto tersebut menunjukkan sebuah gambar seorang lelaki berwajah oriental sedang berpelukan dengan seorang gadis.

Lelaki tersebut bernama Bayu, kekasih Citra. Mereka sudah menjalin hubungan selama 2 tahun, selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Kalaupun ada pertengkaran, itupun paling perdebatan biasa saja karena tidak sepaham dan berakhir baik-baik saja.

Namun, kali ini Citra harus merasakan sakit hati yang luar biasa. Untuk pertama kalinya ia harus melihat sang kekasih hati bermesraan dengan gadis lain.

Citra menatap pintu kamarnya, setelah mendengar ada suara ketukan pintu. Namun, ia masih enggan untuk membukakannya.

"Citra, kamu ada di kamar?" tanya seseorang dari balik pintu.

"Citra, ini mama. Kamu baik-baik saja, Sayang?" ulang mamanya lagi khawatir. Karena, sekian lama tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, mamanya meninggalkan kamar Citra. Mamanya berpikir mungkin Citra sedang butuh kesendirian.

Setelah tidak mendengar adanya ketukan lagi, Citra merasa sedikit lega. Setidaknya mamanya tidak perlu tahu kondisinya saat ini.

***

"Sayang, kamu kok beberapa hari ini gak ada kabar?" tanya Bayu dengan wajah tanpa dosa. Saat ini Citra dan Bayu sedang bertemu di salah satu kafe cukup terkenal di kota Bandung.

Citra hanya diam saja. Ia sibuk menatap Bayu dengan seksama dan mencari apakah ada rasa bersalah di wajah lelaki itu.

"Kamu kok diam saja, Sayang? Kamu sakit?" tanya Bayu seraya tangannya berusaha menyentuh kening Citra.

Citra dengan segera menepis tangan Bayu. "Boleh aku bertanya?"

Bayu menautkan kedua alisnya. "Mau nanya apa?"

Citra berusaha sekuat tenaga untuk mengungkapkan kegelisahan hatinya. Memang ia belum sama sekali meminta penjelasan dengan Bayu perihal foto yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. "Kamu ada gadis lain?"

"Hahaha … pertanyaan macam apa ini?" canda Bayu santai.

"Aku serius!" ucap Citra datar.

Bayu berhenti tertawa. "Kamu ngomong apaan sih? Aku gak ngerti!"

"Kamu ada gadis lain selain aku?!" ulang Citra dengan emosi.

Bayu terdiam dan menelan ludah. "Kata siapa?"

"Aku hanya butuh jawaban kamu benar atau salah?" tanya Citra lagi.

"Salah! Aku gak ada gadis lain. Aku hanya memiliki kamu seorang, kekasih hatiku Citra," jawab Bayu tersenyum.

Citra menghela napas. Lalu, ia mengambil ponsel miliknya dari tas. "Sebentar!"

Bayu semakin bingung dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya itu. Tiba-tiba ada perasaan khawatir yang masuk ke dalam relung hatinya.

"Ini maksudnya apa? Gadis ini siapa?" tanya Citra seraya menunjukkan foto Bayu bersama gadis lain itu.

Wajah Bayu langsung berubah memerah ketika melihat foto tersebut. Tiba-tiba saja suasana menjadi terasa panas padahal AC di kafe ini sudah full, keringat keluar dari wajahnya. "Ini editan, Sayang!"

Citra kembali menghela napas. Namun, kali ini pertahanannya untuk tetap tegar akhirnya goyah juga. Air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. "Editan kamu bilang?"

"Iya, Sayang ini editan. Coba deh kamu lihat lagi foto ini. Ini editan, Sayang. Kamu jangan percaya dengan foto ini," jawab Bayu berusaha menenangkan Citra.

Bayu mengenggam tangan Citra dengan erat. "Sayang, kamu jangan sedih lagi. Aku hanya punya kamu. Gak ada gadis lain di antara hubungan kita. Aku hanya sayang dan cinta sama kamu. Aku mau kalau aku dan kamu itu selamanya dan akan terus bersama."

Citra tidak bisa percaya begitu saja. Apa yang dilihatnya sama sekali bukan editan, baginya itu foto asli nyata adanya. Citra menarik tangannya dari genggaman tangan Bayu. "Maaf, sepertinya aku butuh waktu untuk bisa percaya ucapan kamu."

"Sayang, kamu harus percaya sama aku!" mohon Bayu.

Citra tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap Bayu dan berusaha untuk mengatur emosi serta menata hatinya.

Tiba-tiba ada seorang gadis yang menghampiri Citra dan Bayu. Gadis yang sama dengan di foto dilihat Citra yang sebagai dugaan selingkuhan Bayu.

"Sayang, kamu ada di sini juga? Kok gak bilang-bilang sama aku?!" ucap gadis tersebut seraya memeluk Bayu.

"Oh, kamu sedang dengan teman kerja kamu ya. Btw, lagi bahas apa nih sekarang?" tanya gadis itu yang bernama Aqillah dengan santai seraya menatap Citra dengan tersenyum.

Wajah Bayu semakin memerah dan keringat dingin keluar dari tubuhnya. "Bisa aku jelaskan semuanya!"

"Gak ada yang perlu dijelaskan lagi. Mulai sekarang kita putus!" ucap Citra seraya berdiri bersiap meninggalkan tempat ini.

"Oiya, selamat ya atas hubungan kalian!" lanjut Citra tersenyum. Sementara, gadis itu terlihat kebingungan.

"Sayang, dia siapa? Kenapa bilang putus ke kamu?" tanya Aqillah bingung.

"Dia hanya teman kerja aku, Sayang. Gak perlu kamu pikirin. Lagian omongannya juga ngehalu doang. Karena, dia bilang suka sama aku gitu," jawab Bayu berbohong. Setelah mendengar penjelasan Bayu, Aqillah langsung mengerti dan tidak bertanya apa-apa lagi.

Citra yang masih berada tidak jauh dari sana, samar-samar mendengar percakapan Bayu dengan selingkuhannya. Hatinya semakin sakit dan hancur kini. Dengan berderai air mata Citra meninggalkan kafe itu dan berusaha untuk berdamai dengan takdir.

Apa kurangnya aku?
Cantik, putih, langsing ada di dalam diriku ini
Semua gadis hampir ingin sepertiku
Pintar?
Aku juga kuliah diterima dengan beasiswa
Terkenal dan mapan?
Sudah ada di usiaku yang masih belia ini

Namun, ternyata itu semua tidak cukup untuk membuat kebahagian
Takdir memintaku untuk merasakan sakit hati yang teramat dalam
Sakit hati yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Dan, aku harus kuat dan tegar menerima semua ini

Takdir mengajakku untuk merasakan pengalaman baru yang belum pernah aku rasakan
Apakah aku bisa melewati semuanya?
Ntahlah! Aku tidak tahu jawabannya
Setidaknya saat ini yang aku tahu
Takdir berusaha memintaku untuk berdamai dengan keadaan.

END

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Agt 12, 2021, 10:41 PM - Shara Pradonna
Jul 21, 2021, 11:11 PM -
Jul 3, 2021, 7:51 PM - Akhmad Dimas
Okt 26, 2020, 4:39 PM - Fandi Ahmad syah
Agt 11, 2020, 8:53 PM - Ruang Sekolah
Jul 11, 2020, 8:46 PM - Pohon Jalang
Penulis
Tulisan Baru
Okt 17, 2021, 11:12 PM - Della putri utami
Okt 17, 2021, 11:03 PM - Andi Anis Magfiroh
Okt 8, 2021, 12:01 AM - Regita Putri Cahyani
Okt 7, 2021, 11:55 PM - Ilham Saifullah