Alur atau Plot: Pengertian, Fungsi, Perbedaan, dan Kaidah

Selama ini pengertian plot sering disalahpahami sebagai alur atau jalan cerita. Mungkin karena keduanya dibangun oleh unsur ‘peristiwa’. Penyamaan begitu saja antara plot dengan alur, apalagi mendefinisikan plot sebagai alur agaknya kuranglah tepat. Di dalam sebuah alur belum tentu terdapat plot, sebaliknya sebuah plot sudah pasti akan membentuk alur.

Baca Juga: Cerpen: Pengertian, Ciri, Fungsi dan Kelebihan Kekurangan

 

A.    Pengertian Alur atau Plot

Alur atau plot merupakan sebuah struktur rangkaian kejadian-kejadian dalam sebuah cerita yang disusun dengan secara kronologis. Adapun definisi alur yakni suatu rangkaian cerita sejak awal hingga akhir. Alur mengatur bagaimana suatu tindakan-tindakan yang terdapat dalam cerita harus berkaitan dengan satu sama lain, misalnya seperti bagaimana suatu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lainnya, lalu bagaimana tokoh yang digambarkan dan berperan di dalam cerita yang semuanya terkait dengan suatu kesatuan waktu.

Sedangkan plot menurut KBBI adalah jalan (alur) cerita (dalam novel, sandiwara, dsb). Definisi tersebut menganggap alur dan plot adalah sama. Ada pula yang menganggap keduanya berbeda. Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu, atau rangkaian peristiwa demi peristiwa dari awal sampai akhir cerita. Plot merupakan cara bagaimana cerita itu bisa berjalan dan dimengerti. Intinya, plot merupakan pengembangan dari alur yang kita gunakan.[1]

Adapun pengertian alur atau plot menurut para ahli, di antaranya:

1. Virgil Scoh (1966): Mendefinisikan bahwa plot adalah prinsip yang esensial dalam cerita.

2. Morjorie Boulton (1975): Mendefinisikan plot sebagai pengorganisasian dalam novel atau penentu struktur novel.

3. Dick Hartoko, (1948): Menyatakan bahwa plot sebagai alur cerita yang dibuat oleh pembaca yang berupa deretan peristiwa secara kronologis, saling berkaitan dan bersifat kausalitas sesuai dengan apa yang dialami pelaku cerita.

Baca Juga: Materi Lengkap Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen

 

B.     Fungsi Alur atau Plot

Alur atau plot berfungsi untuk memberikan pemahaman kepada pembaca bagaimana suatu peristiwa dapat berkaitan dengan peristiwa lainnya. Selain itu alur cerita juga dapat mengungkapkan mengapa dan bagaimana suatu peristiwa atau konflik dapat terjadi, juga kemudian mengungkapkan akibat dari peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu sebuah cerita yang baik harus memiliki alur yang jelas agar apa yang ingin disampaikan penulis dapat dipahami oleh pembaca.

Plot dalam cerpen berfungsi menghubungkan satu bagian dengan bagian lain. Plot mengantarkan dan mengaitkan satu kejadian ke kejadian lain yang akhirnya membangun keseluruhan bagian cerpen. Supaya cerpen enak untuk dibaca, satu peristiwa harus berhubungan dengan peristiwa yang lain hingga membentuk kesatuan utuh. Di situlah plot terlihat.

C.    Perbedaan Alur atau Plot

1. Alur berisi kronologis cerita, walau susunannya bisa maju, kilas balik atau gabungan. Alur hanya rangkaian cerita dari awal sampai akhir.

2. Alur bisa dijabarkan dengan gaya narasi, deskripsi, eksposisi dan narasi. Sedangkan plot sebagian besar dengan narasi dan dialog.

3. Alur ada pada jenis tulisan lain seperti feature dan esai. Sedangkan plot khusus pada cerpen dan novel.

4. Alur adalah badan cerita sedangkan plot adalah ruh yang menggerakkan cerita.

D.    Unsur-Unsur Alur atau Plot

Secara umum unsur-unsur alur bisa dijelaskan yang ada di bawah berikut ini:

1. Pengenalan cerita, pada bagian ini, pengarang akan memperkenalkan tokoh utama, penataan adegan cerita dan hubungan antar tokoh yang terdapat di dalam sebuah cerita.

2. Awal konflik, pada bagian ini pengarang atau pembuat cerita akan memunculkan bagian-bagian dalam sebuah cerita yang bisa menimbulkan suatu permasalahan.

3. Menuju konflik, pengarang cerita akan meningkatkan suatu permasalahan yang dialami olah tokoh.

4. Konflik memuncak atau klimaks. Pada bagian yang satu ini merupakan puncak dari permasalahan yang dihadapi oleh tokoh. Pada bagian ini juga, tokoh di dalam cerita akan dihadapkan dalam sebuah penentuan akhir yang akan dialaminya, keberhasilan atau kegagalan biasanya menjadi suatu penentuan nasib tokoh di dalam cerita.

5. Penyelesaian atau ending. Akhir dari cerita, pada bagian ini akan menjelaskan bagaimana nasib tokoh dalam cerita tersebut, apakah endingnya bahagia, buruk, ataupun menggantung.

Baca Juga: Latar Cerpen: Pengertian, Jenis dan Analisis Latar

 

E.     Jenis-Jenis Alur

Jenis-Jenis Alur Cerita dalam Kesusasteraan Indonesia:

1. Alur Maju atau Progresif. Jenis alur ini adalah jenis alur yang lazim ditemui dalam sebuah cerita.

Contohnya:

Misalnya cerpen itu awalnya menceritakan tentang seorang anak kecil dan berkembang atau berakhir saat dia sudah remaja.

2. Alur Mundur atau Regresi. Alur ini adalah kebalikan dari alur maju.

Contohnya:

Cerita tentang seorang mantan veteran yang membayangkan kisah hidupnya di masa muda.

3. Alur Campuran atau Maju-Mundur. Adalah suatu jenis alur yang ceritanya dimulai dari tahap klimaks.

Contohnya:

Bisa diambil dari cerita The Bourne Identity, di mana cerita diawali di tengah-tengah, saat Jason Bourne tidak ingat siapa dirinya.

Alur atau plot

F. Penahapan Plot Menurut Pandangan Klasik

Aristoteles mengemukakan bahwa tahapan plot harus terdiri dari tahapan awal, tahapan tengah, dan tahapan akhir. Peristiwa awal yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi mungkin saja langsung berupa adegan-adegan yang memiliki kadar konflik dan dramatik tinggi, bahkan merupakan konflik yang amat menentukan plot karya yang bersangkutan.

Padahal, pembaca belum dibawa masuk dalam suasan cerita, belum tahu awal dan sebab-sebab terjadinya konflik. Hal yang demikian dapat terjadi disebabkan urutan waktu penceritaan yang sengaja dimanipulasi dengan urutan peristiwa untuk mendapatkan efek artistik tertentu, yang memberikan kejutan dan membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Kaitan antar peristiwa haruslah jelas, logis, dan dapat dikenali urutan kewaktuannya terlepas dari penempatannya yang mungkin di awal, tengah, atau akhir.

1.    Tahap Awal

Tahap awal sebuah cerita merupakan tahap perkenalan. Pada umumnya berisi informasi yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya.

Fungsi pokok tahapan awal adalah memberikan informasi dan penjelasan seperlunya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan. Pada tahapan ini, juga sudah dimunculkan sedikit demi sedikit masalah yang dihadapi tokoh yang menyulut konflik, pertentangan-pertentangan dan lain-lain yang akan memuncak di bagian tengah.

2.    Tahap Tengah

Tahap tengah sebuah cerita sering juga disebut sebagai tahap tikaian. Pada tahap ini konflik yang sudah mulai dimunculkan pada tahap awal mengalami peningkatan, semakin menegangkan, hingga mencapai titik intensitas tertinggi atau klimaks.

Dalam hal ini, konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang menyebabkan terjadinya aksi reaksi. Pertentangan itu bisa berupa pertentangan fisik, ataupun pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia.

Konflik merupakan unsur terpenting dari pengembangan plot. Bahkan bisa dikatakan sebagai elemen inti dari sebuah karya fiksi. Stanton dalam An Introduction to Fiction membedakan konflik menjadi dua, yaitu:

a)        Konflik Eksternal

Konflik eksternal adalah pertentangan yang terjadi antara manusia dengan sesuatu yang berada di luar dirinya. Konflik ini dibagi lagi menjadi dua macam. Konflik elemental, yaitu konflik yang terjadi akibat adanya pertentangan antara manusia dengan alam; manusia lawan alam.

Misalnya saja konflik yang timbul akibat adanya banjir besar, gempa bumi, gunung meletus, dsb. Sedangkan konflik sosial terjadi disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah yang muncul akibat adanya hubungan sosial antarmanusia.

Konflik sosial bisa terjadi antara manusia lawan manusia atau manusia lawan masyarakat. Misalnya saja berupa masalah penindasan, peperangan, penghianatan, pemberontakan terhadap terhadap adat lama, dsb.

b)        Konflik Internal

Konflik Internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Pertentangan yang terjadi di dalam diri manusia. Manusia lawan dirinya sendiri. Misalnya saja konflik yang terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan dan masalah-masalah lainnya.

3.    Tahap Akhir

Tahap akhir sebuah cerita biasa juga disebut sebagai tahapan peleraian yang menampilkan adegan tertentu sebagai akibat dari klimaks. Tahapan ini merupakan tahapan penyelesaian masalah atau bisa juga disebut sebagai tahapan anti klimaks. Penyelesaian sebuah cerita dapat dikatagorikan menjadi dua: penyelesaian tertutup dan penyelesaian terbuka.

Penyelesaian tertutup menunjuk pada keadaan akhir sebuah karya fiksi yang memang sudah selesai. Sedangkan penyelesaian terbuka lebih membuka peluang bagi kelanjutan cerita, sebab konflik belum sepenuhnya selesai dan membuka peluang untuk berbagai penafsiran dari pembacanya.

Menurut Stanton dalam An Introduction to Fiction klimaks adalah saat konflik telah mencapai titik intensitas tertinggi, dan saat itu merupakan sesuatu yang tak dapat dihindari kejadiannnya. Artinya, berdasarkan tuntutan dan kelogisan cerita, peristiwa itu harus terjadi, tidak boleh tidak. Klimaks merupakan pertemuan antara dua hal yang dipertentangkan dan menentukan bagaimana konflik itu akan diselesaikan.

G.    Penahapan Plot Menurut Pandangan Modern

 Freytag membagi plot sebuah cerita fiksi menjadi lima bagian; Exposistion, Rising Action, Climax, Falling Action, dan Denouement.

1.     Exposition adalah tahapan pengenalan karakter tokoh dan setting sebuah cerita. Dalam tahapan ini, karakter bisa diperkenalkan lewat dialog atau ungkapan pikiran.

2. Rising Action merupakan bagian terpenting dari sebuah cerita fiksi. Pada tahapan ini akan muncul berbagai konflik sampai mencapai klimak tertentu. Dalam tahapan ini ada lima jenis konflik yang mungkin terjadi: 1) konflik antara tokoh dengan tokoh lain, 2) tokoh dengan masyarakat, 3) tokoh dengan dirinya, 4) tokoh dengan alam sekitarnya, dan 5) tokoh dengan ketentuan sang pencipta (takdir).

3. Climax merupakan poin tertinggi dalam sebuah cerita, di mana tokoh yang terlibat sampai pada puncak konflik permasalahannya.

4.  Falling Action merupakan bagian cerita yang mengikuti climax. Bagian ini merupakan titik balik terhadap penyelesaian konflik yang dialami tokoh. Oleh sebagian ahli bagian ini sering juga disebut anti-klimaks.

5.  Denouement atau resolusi merupakan bagian dari cerita yang terdiri atas rentetan kejadian yang mengiringi anti-klimaks dan merupakan kesimpulan cerita. Pada bagian ini semua konflik diselesaikan sehingga mengurangi ketegangan dan kekhawatiran pembaca terhadap masalah yang dihadapi oleh tokoh dalam cerita tersebut. Namun perlu diingat bahwa tidak semua cerita memiliki bagian ini.

Baca Juga: Tokoh dan Penokohan: Pengertian, Jenis, Karakter dan Analisis

 

H.    Kaidah Pengembangan Plot

Dalam buku How to Analyze Fiction, Kenny mengemukakan kaidah-kaidah pem-plot-an meliputi sebagai berikut:

1. Plausibilitas (Keterpercayaan)

Plausibilitas memiliki pengertian suatu hal yang dapat dipercaya sesuai dengan logika cerita. Plot sebuah cerita harus memiliki sifat plausibel atau dapat dipercaya oleh pembaca. Pengembangan cerita yang tak plausibel dapat membingungkan dan meragukan pembaca.

Sebuah cerita dikatakan memiliki sifat plausibel jika tokoh-tokoh cerita dan dunianya dapat diimajinasikan dan jika para tokoh dan dunianya tersebut serta peristiwa-peristiwa yang dikemukakan mungkin saja dapat terjadi. Plausibilitas cerita tidak berarti peniruan realitas belaka, tetapi lebih disebabkan ia memiliki keberkaitan dengan pengalaman kehidupan.

Apakah jika seseorang berada dalam persoalan dan situasi seperti yang dialami tokoh cerita akan bertindak seperti yang dilakukan tokoh itu? Misalnya saja, mungkinkah seorang tokoh cerita yang mengalami keterbelakangan mental mampu menjawab soal-soal pertanyaan dalam olimpiade matematika? Dalam sebuah cerita fiksi itu mungkin saja, namun tentunya hal ini sangat tidak bisa dipercaya, oleh sebab itu ia tak memiliki sifat plausibel.

2. Suspense (Kekurangpastian)

Suspense memiliki pengertian pada adanya perasaan semacam kurang pasti terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang menimpa tokoh protagonis atau yang diberi simpati oleh pembaca. Sebuah cerita yang baik tentunya harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.

Suspense tidak semata-mata hanya berurusan dengan ketidaktahuan pembaca, tetapi lebih dari itu, mampu mengikat pembaca seolah-olah terlibat dalam kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan dialami oleh tokoh cerita. Suspense akan mendorong, menggelitik dan memotivasi pembaca untuk setia mengikuti cerita, mencari jawaban dari rasa ingin tahu terhadap kelanjutan dan akhir cerita.

3.    Suprise (Keterkejutan)

Plot sebuah cerita yang menarik tidak saja harus mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca, tetapi juga mampu memberikan kejutan atau hal yang tidak terduga.

Plot sebuah karya fiksi dikatakan memiliki sebuah kejutan apabila sesuatu yang dikisahkan atau kejadian-kejadian yang ditampilkan menyimpang atau bahkan bertentangan dengan harapan pembaca. Jadi, dalam karya itu terdapat suatu penyimpangan, pelanggaran atau pertentangan apa yang ditampilkan dalam cerita dengan apa yang telah menjadi kebiasaan, atau mentradisi.

4.    Unity (Kesatupaduan)

Kesatupaduan memiliki pengertian keberkaitan unsur-unsur yang ditampilkan, khususnya peristiwa-peristiwa fungsional, kaitan, dan acuan, yang mengandung konflik atau pengalaman kehidupan yang hendak disampaikan. Ada benang merah yang menghubungkan berbagai aspek cerita sehingga seluruhnya dapat terasa sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu.

I.       Kesimpulan

Alur atau plot merupakan sebuah struktur rangkaian kejadian-kejadian dalam sebuah cerita yang disusun dengan secara kronologis. Adapun definisi alur yakni suatu rangkaian cerita sejak awal hingga akhir. Alur mengatur bagaimana suatu tindakan-tindakan yang terdapat dalam cerita harus berkaitan dengan satu sama lain, misalnya seperti bagaimana suatu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lainnya, lalu bagaimana tokoh yang digambarkan dan berperan di dalam cerita yang semuanya terkait dengan suatu kesatuan waktu.

 

 

 

Penulis: Hilmi Alfianti, Kholifatul Rosyidah, Havita Rahmawati, Citra Siska, Rifa Husnul Khotimah, Fatimah Tuzzahro dan Geraldo Vivaltiano Hemasastra.


[1]Alur Cerita dan Plot, http://inspirasifachri.blogspot.com/2012/05/alur-cerita-dan-plot.html (Diakses pada tanggal 06 Juni 2020 jam 12.00).

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis

Admin Ruang Sekolah

Tulisan Populer
Mei 14, 2020, 4:39 PM - Aswan
Jun 1, 2020, 10:08 AM - Ruang Sekolah
Jun 10, 2020, 4:58 PM - Ruang Sekolah
Feb 1, 2020, 1:53 PM - Sumarni Safaruddin