Alasan Seseorang Membukukan Karyanya

Assalamu'alaikum, selamat pagi dan selamat berakhir pekan. Semoga hari ini, Allah masih memberikan nikmat sehat untuk kita.

Pagi ini, aku balik lagi dengan tulisan terbaru yang bisa saja sudah basi informasinya, tetapi bisa juga bermanfaat untuk yang belum tahu. Intinya, ambil sisi positifnya saja.

Pada kesempatan kali ini, aku akan menjabarkan sedikit alasan yang membuat seorang penulis tertarik dan merasa ingin menerbitkan karyanya dalam bentuk buku cetak.

Kira-kira, kamu pernah bertanya tentang hal itu pada seorang penulis? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau ... kamu justru pernah bertanya pada diri sendiri, mungkin. Hem, apa pun alasannya, intinya adalah kamu menginginkan yang terbaik untuk karyamu.

Ada beberapa alasan yang mungkin saja menjadi penyebab seseorang membukukan tulisannya. Alasan yang akan aku sebutkan ini adalah beberapa alasan yang memang biasanya menjadi penyebab utama seseorang membukukan tulisannya. Mungkin salah satunya adalah alasanku, alasanmu, ataupun alasan mereka. 

Baca Juga: Lingkaran Pertemanan Seperti Apa Sih yang Membuatmu Merasa Nyaman?

Penasaran dengan itu? Mari kita cek.

1. Ingin Memiliki Buku yang Mencakup Karya Sendiri

Ya, salah satu alasannya adalah ini. Ada orang yang saat melihat orang lain punya buku yang berisi karyanya sendiri, ia juga ingin memiliki. Seperti punya kebanggaan sendiri saat namanya terpampang indah di sampul buku. Entah itu buku antologi bersama komunitas, bersama teman, atau bahkan antologi solo dan novel solo. 

2. Menghindari Plagiat

Hem, sebenarnya hal ini adalah yang paling dibenci oleh semua orang. Sebab, banyak orang yang tidak punya akal sehat dan dengan mudahnya mengakui karya orang lain sebagai karya. Kemudian, dengan mudahnya membalikkan fakta. Menuduh penulis aslinya sebagai plagiator. Benar-benar tidak punya perasaan sih yang begini. 

Meski dibukukan sekalipun, karya kita sebenarnya juga tidak bisa 100% bebas dari tangan-tangan jahat plagiator. Kenapa? Orang jahat punya 1000 cara untuk melakukan tindakan nakalnya demi kepentingan pribadinya. Namun, dengan membukukan karya, dan dengan adanya nomor ISBN, kamu bisa menuntut sang plagiator sebenarnya, karena bukumu alias karyamu telah diakui secara hukum. Akan tetapi, tak semuanya sukses juga sih.

Secara, penulis yang karyanya sudah mejeng di berbagai toko dan merupakan penulis best seller sekalipun, masih saja diplagiat karya-karyanya.

Baca Juga: Tips Awet Persahabatan Sampai Tua

Dan ... sepertinya hukum di Indonesia juga tidak membuat para plagiator jera, penulis pun akhirnya banyak yang memilih untuk mengikhlaskan atau berusaha berdamai dengan lukanya karena tulisan yang dibuatnya dengan susah payah, berujung diklaim oleh orang lain. Dijual versi bajakannya dan masih banyak lagi.

3. Ada Bukti Fisik Karya

Ya, ini juga adalah salah satu alasan seseorang membukukan karyanya. Ingin tulisannya memiliki bukti fisik. Kenapa? Buat membuktikan pada orang-orang bahwa tulisan yang terkadang dianggap gila dan ditertawakan orang itu bisa menjadi sebuah buku yang dapat dibaca oleh orang banyak dan bernilai jual. Juga bisa untuk dipeluk secara nyata, dalam bentuk fisik, bukan file. 

Buku yang dicetak juga bisa dijadikan sebagai kenang-kenangan, bahwa kamu pernah menulis dan memiliki karya yang dibukukan kepada anak turunan kamu di masa depan. Ingat, tulisan itu akan abadi sepanjang masa, meski jasadmu sudah tidak bersatu dengan ruh. 

4. Rasanya Membahagiakan Saat Tulisan Sudah Tercetak Jadi Buku

Hem, pengalaman pribadiku, saat pertama kali ikut nulis bareng teman komunitas, senang banget rasanya. Apalagi saat bukunya sudah sampai di tangan, rasanya ingin menangis karena terharu, ingin tertawa karena tulisan yang hancur dan gak jelas, MasyaAllah, bisa terbit jadi buku dan disandingkan dengan tulisan-tulisan kece penulis lain. Selain itu, rasanya juga antara ingin teriak dan lompat-lompat andai saja tidak ingat umur. 

Akan beda rasanya jika tulisan kita hanya dipublikasikan di media sosial, dengan tulisan kita diterbitkan jadi buku.

Rasanya nano-nano pokoknya. Ini baru buku antologi bersama. Saat buku solo, rasanya lebih wow lagi, loh. Akan tetapi, sebagian orang memilih untuk tidak membukukan karya, tentunya dengan alasan juga. Namun, alasan apa pun itu, membukukan karya atau tidak, itu adalah urusan pribadi masing-masing penulis, tak ada paksaan untuk menerbitkan atau tidak.

Baca Juga: Tips Menjadi Remaja Kekinian Yang Memiliki Kesehatan Mental Secara Psikologi

5. Mencari Tambahan Penghasilan

Ya, menulis dan menerbitkan naskah itu bisa jadi ladang penghasilan tambahan. Ada juga sih yang menjadikan itu sebagai pekerjaan utamanya. Akan tetapi, tak ada salahnya juga. Menulis dan menjual tulisan itu hak seorang penulis.

Mau dicaci maki oleh pembaca sekalipun, jangan menyerah dan tak perlu ambil pusing. Meski saat ini, pilihan menerbitkan buku sepertinya telah beralih dan tergantikan dengan menjadi penulis platform berbayar dengan ketentuan-ketentuan tertentu yang juga bisa menjadi jalan penulis untuk mendapatkan penghasilan. Salah satunya aku, yang saat ini lebih memilih menulis di platform online. 

Sebenarnya masih banyak alasan lagi yang bisa menjadi alasan seseorang membukukan karyanya. Namun, cukup itu saja yang aku tuliskan. Sebab, tak semua orang akan setuju dengan apa yang aku tuliskan tersebut, mungkin saja.

Sehingga itu saja yang ingin aku tuliskan. Jika kamu tak sependapat, silakan untuk berpendapat, tetapi untuk menyalahkan, mencaci apalagi mem-bully, jangan lakukan. Lebih baik skip, dan diamkan tulisanku jika niatnya ingin mem-bully.

Sekian dariku, semoga tulisan ini bermanfaat. 

Noted: tulisan ini terinspirasi dan terpikirkan untuk menulisnya setelah membaca perseteruan panas antara penulis dan pembaca gratisan di salah satu grup menulis di media sosial. Juga dengan maraknya kasus plagiarisme yang aku dan teman-temanku temukan di luar sana, juga dengan kasus-kasus penyebaran ebook atau buku bajakan dan ilegal.

 

Adiva Azzahra.

 

Ditulis di Gowa, pada 26 September 2020

Direvisi di Gowa, pada 9 Oktober 2021

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.