Akhlak Rasulullah Sebagai Solusi Darurat Pendidikan Karakter di Indonesia

Era globalisasi merupa era di mana banyak terjadi perubahan tingkah laku dalam kehidupan manusia di seluruh dunia, tidak terkecuali pada masyarakat Indonesia.

Seiring berkembangnya zaman banyak terjadi perubahan ditatanan kehidupan manusia mulai dari pola hidup, pola makanan, pola berbicara dan lain sebagainya.

Era globalisasi merupakan era yang di dalamnya terdapat dampak positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Sisi positif yang diberikan globalisasi banyaknya teknologi yang berkembang pesat berdampak baik bagi kemajuan suatu negara, dan dampak negatif dari globalisasi saat ini menurunnya nilai-nilai karakter yang ada pada diri setiap orang.

Indonesia merupakan negara yang salah satu jumlah penduduk terbanyak di dunia, yang dahulu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, ketertiban, tolong menolong, dan lain sebagainya. Tetapi di era globalisasi yang sangat pesat ini nilai-nilai karakter pada diri anak bangsa sudah semakin menghilang dan maraknya pergaulan bebas saat ini, juga mengakibtkan rendahnya karakter dari seseorang untuk saling menghargai terhadap orang lain, mulai dari anak-ank hingga orang dewasa sekalipun. 

Seperti dilansir dalam salah satu website jejak kasus (6/8/2020). Ir. Sri Meliyana, anggota Komisi IX DPR RI mengatakan, "Kurangnya pendidikan karakter akan menimbulkan krisis moral yang berakibat pada perilaku negatif di masyarakat."

Fakta di lapangan telah mengatakan bahwa saat ini, terjadi banyak perilaku negatif yang telah dilakukan oleh anak bangsa, seperti melakukan pembullyan, melawan kepada orang tua dan guru, tawuran, perampokan, narkoba, pelecehan seksual, dan masih banyak lagi perilaku negatif yang ditimbulkan akibat kurangnya pendidikan karakter yang diberikan baik di rumah maupun di sekolah.

Pendidikan karakter menurut Menurut T. Ramli, merupakan pendidikan yang mengedepankan esensi dan makna terhadap moral dan akhlak sehingga hal tersebut akan mampu membentuk pribadi peserta didik yang baik. Pendidikan karakter dalam islam disebut juga dengan akhlakul karimah atau perbuatan terpuji.

Pendidikan karakter sendiri sudah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan fungsi Pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan karakter yang dimiliki Indonesia sebenarnya sudah sangat baik untuk membentuk karakter anak bangsa jika diterapkan dengan baik dan benar. Di mana pendidikan karakter tersebut terdiri dari 18 nilai-nilai, di antaranya: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cintah tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Semua nilai-nilai karakter yang telah disebutkan diatas, jika diterapkan oleh setiap anak bangsa, maka tidak akan terjadi perilaku-perilaku menyimpang dimasyarakat, tetapi pada kenyataannya nilai-nilai tersebut sudah menghilang ditelan oleh perkembangan zaman yang mengambil alih sikap dan sifat dari karakter anak bangsa ini.

Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang sangat penting bagi kemajuan suatu negara, sesuai dengan perkataan mulyadi dikutip dari jurnal "POLA BUDAYA PEMBENTUKAN KARAKTER DALAM SISTEM PENDIDIKAN DI JEPANG" mengatakan, “Suatu bangsa yang mempunyai keterbatasan SDA dan kondisi SDM yang belum baik, namun karena mempunyai jiwa dan karakter tertentu akan mampu menjadi bangsa yang unggul".

Pada saat ini, Indonesia seharusnya bercermin kepada negara jepang yang merupakan negara yang SDM dan SDA mereka tidak sebanyak negara kita indonesia, tetapi mengapa negara mereka bisa maju seperti sekarang ini. Dan jawaban dari semua ini adalah karena karakter yang dimiliki masyarakat jepang sangat baik dan tidak menghilang meski zaman terus berkembang.

Sistem pendidikan karakter di negara jepang dibangun sejak dari rumah. Dan pendidikan ini disebut dengan istilah Kyoiku Mama (Ibu Pendidik), artinya seorang Ibu tidak akan pernah berhenti mendorong anak - anaknya untuk belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial. Kemudian pendidikan karakter ini dilanjutkan pada jenjang pendidikan formal seperti di sekolah-sekolah, yang pertama sekali diajarkan adalah mengenai pendidikan karakter tersebut.

Sistem atau pola pendidikan di jepang sangat mengedepankan pendidikan karakter atau nilai-nilai baik sejak dini. Karena masyarakat jepang menganggap suatu negara akan menjadi unggul dan maju ketika masyarakatnya memiliki karakter yang baik dan kuat. Maka dari itu Pola budaya pendidikan karakter dalam sistem pendidikan di Jepang lebih menekankan pada cara-cara penanaman nilai karakter dan sikap mental yang membentuk pribadi siswa : mandiri, ulet, gigih, kepedulian sesama, kreatif, inovatif. 

Sedangkan pada saat ini, negara kita Indonesia. Pola pendidikan yang hanya mengedepankan hasil dari suatu pembelajaran yang dipelajari anak didik, sehingga anak didik lebih mementingkan hasil dengan melalukan berbagai cara, seperti menyontek ketika ulangan, memberikan uang suap ketika ingin masuk ke sekolah unggulan dan masih banyak lagi. Semua ini menandakan rendahkan karakter dari masyarakat yang ada. Bukan hanya masalah di sekolah, pada saat menuju jenjang pekerjaan, saat ini kebanyakan dari masyarakat indonesia bukan mengandalkan keahlian dan keuletan dari seseorang, melainkan seseorang bisa bekerja jika relasi yang mereka miliki untuk masuk kesuatu perusahaan itu ada. Sehingga nilai-nilai karakter untuk bekerja keras, jujur, menghargai prestasi dan lain sebagainya itu hilang begitu saja.

Negara indonesia merupakan negara yang memiliki beragam agama dan kepercayaan, yang mana setiap agama pastinya mengajarakan tentang nilai-nilai kebaikan didalam kehidupan setiap ummatnya.

Terutama agama Islam, di mana dilansir dari Republika.co.id menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy. Bahwa “Pendidikan karakter harus dibentuk sejak dini agar anak memiliki sikap yang positif dan mental yang baik, sebab semakin dewasa seorang anak akan semakin sulit dibentuk karakternya, karena karakternya yang sekarang sudah dibentuk sejak kecil."

Dalam salah satu kata-kata hikmah yaitu tentang “ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya”, ini sejalan dengan sistem pendidikan di jepang yang memulai pendidikan karakter dari ibu yang berada dirumah. Maka dari itu, kita sebagai umat Islam seharusnya juga bisa mencontoh sistem pendidikan karakter di Jepang, dengan menggalakkan penanaman nilai-nilai terpuji dan baik kepada anak-anak kita sejak didalam kandungan, dengan mendengarkan murattal alquran, membacakan cerita dan kisah tauladan para nabi dan para sahabat.

Pendidikan karakter dalam Islam sudah ada sejak Muhammad diutus menjadi Nabi, yang tugas pertama yaitu memperbaiki Akhlak manusia. Sesuai dengan hadits nabi yang diriwatkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Dari sabda nabi ini sudah jelas bahwa, sudah sejak dahulu pendidikan karakter atau memperbaiki akhlak manusia merupakan pendidikan utama, karena manusia yang memiliki karakter atau akhlak yang baik, akan menghasilkan potensi-potensi yang baik pula, dengan adanya Sumber Daya Manusia yang berkarakter baik maka semakin mudah suatu negara akan menjadi maju.

Adapun akhlak Rasulullah yang patut menjadi contoh bagi anak bangsa diantaranya benar (ash-shidq), cerdas (al-fathanah), amanah (al-amanah), menyampaikan (at-tabligh), komitmen yang sempurna (al-iltizam), berakhlaq mulia (ala khuluqin azhiim), dan teladan yang baik (uswatun hasanah). Karakter mulia yang dimiliki Rasulullah merupakan karakter yang harus diajarkan sedini mungkin kepada penerus bangsa indonesia, agar menjadi manusia yang memiliki akhlakul karimah dan menjadi insan kamil.

Indonesia yang memiliki ummat islam terbanyak dan terbesar di indonesia, memiliki suri tauladan yang baik yaitu Nabi Muhammad Saw., seharusnya dapat memiliki karakter yang lebih baik dari masyarakat jepang yang sebagian besar tidak memiliki kepercayaan, karena sebagai ummat islam seharusnya mencontoh dan meneladani sifat baik rasulullah,

Maka dari itu, pendidikan karakter harus lebih digalakkan lagi di indonesia melihat rendahnya nilai-nilai moral dan banyaknya kejahatan yang marak dikalangan masyarakat, akibat kurangnya pendidikan karakterk yang diberikan, baik dirumah, disekolah, bahkan dimasyarakat.

Dengan adanya pendidikan karakter yang diberikan orang tua dirumah, pendidikan karakter yang diberikan guru disekolah, dapat menjadikan anak bangsa menjadi lebih bermor dan memiliki karakter yang lebih baik, sehingga negara indonesia memiliki potensi anak bangsa yang dapat memajukan negri ini dengan karakter yang baik, inovatif, pekerja keras, saling menolong dan memikirkan kedupan bersama.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Saiful Bahri - Okt 18, 2020, 6:36 PM - Add Reply

Mantap

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Related Articles
Penulis
Tulisan Baru
Agt 28, 2021, 8:15 PM - Ruang Sekolah
Agt 27, 2021, 11:00 PM - Pohon Jalang
Agt 27, 2021, 10:59 PM - karduskarton